Manusia terlahir sebagai "Social Thinker". Bisa di ambil kesimpulan, bahwa Manusia merupakan mahluk sosial yang sering memikirkan orang lain. Namun perlu di ingat, hanya memikirkan, bukan memahami. Karena memahami membutuhkan pergerakan hati yang ikhlas untuk merasakan apa yang orang lain rasakan.

Namun, apakah kalian menyadari satu hal ketika memikirkan orang lain? Secara tidak langsung, cepat atau lambat, saat pikiran kita terfokuskan untuk memikirkan orang lain, maka akan mengubah pola pikir kita. Pola pikir yang tercipta akan mengakibatkan perubahan perilaku, yang tentu saja, merubah perasaan kita juga.

Satu hal sederhana mampu mempengaruhi pemikiran kita, dan merubah seluruh aspek dalam diri. Namun ketahuilah, bukan hanya memikirkan orang lain saja, dalam hal apapun, ketika kita memikirkan suatu hal dan perlahan mulai mempengaruhi pola pikir kita, itu semua terjadi karena kita mempersilahkan hal tersebut mempengaruhi diri kita sendiri.

Manusia terkadang sering merasa cemas. Cemas karena memikirkan pendapat orang lain merupakan suatu hal yang sering kita jumpai (bahkan kita alami). Tapi yang lebih mengkhawatirkan adalah, ketika kita terlalu fokus untuk memikirkan diri sendiri. Kita terlalu menciptakan standar yang terlalu tinggi dalam hidup, khawatir tentang nasib diri sendiri di masa depan, serta berbagai macam kekhawatiran dan ketidakpastian yang membuat perasaan kita menjadi resah.

Padahal, hal yang kita pikirkan belum tentu akan terwujud, bukan? Jadi, apa yang harus di khawatirkan?

Meskipun tidak terlihat, namun, satu hal yang perlu di ingat, bahwa perasaan merupakan satu aspek yang penting dalam diri manusia. Coba bayangkan saja, ketika perasaan kita sedang tidak bagus, itu akan mempengaruhi apa yang akan kita lakukan kedepannya. Yang pada kenyataannya, hari itu seharusnya menyenangkan, di karenakan suasana hati sedang memburuk, maka hari tersebut terasa seperti hari yang suram dan penuh kesedihan.

Itu sebabnya, menjaga kualitas perasaan merupakan salah satu hal yang harus kita lakukan.

Jangan terlalu berusaha untuk membahagiakan semua orang.

Jangan memikirkan terlalu mendalam tentang apa yang orang lain pikirkan tentang diri kita

Jangan menjadi seseorang yang "selalu ada" untuk orang lain

Mungkin kalimat-kalimat di atas terlihat egois. Namun ketahuilah, berusaha menjadi "malaikat" terkadang menurunkan kualitas perasaan kita sendiri.