Pernahkah kita menjalin hubungan asmara dengan seseorang. Berawal dari pendekatan yang saling kita lakukan dengan berbagai perhatian. Hingga kemudian jalinan rasa sayang itu tumbuh dengan sendirinya. Sampai akhirnya kita saling mengetahui bahwa si dia juga sangat menyayangi kita. Kita pun jadian dengan dia, kita dijadikannya orang yang dianggapnya sebagai kekasihnya.

Saat hal itu terjadi, saat kita telah bersamanya itu rasanya hidup kita begitu indah. Rasa-rasanya kita sering kali ingin tersenyum, walau tak tahu apa penyebabnya. Kita menganggap bahwa bisa bersamanya merupakan anugerah terindah yang Allah berikan pada kita.

Waktu berjalan dengan begitu cepat, kita pun masih bertahan dengannya karena kita begitu menyayanginya. Lambat laun mulai ada konflik-konflik kecil yang datang. Namun dengan sedikit ketenangan dan kesabaran akhirnya kita bisa melewatinya bersama dengan baik. Konflik-konflik kecil itu justru membuat kita bisa saling menguatkan. Saat-saat itu kita sudah mulai menyadari bahwa untuk bisa bertahan dengan seseorang, memang tak selamanya akan dilalui dengan berbagai kebahagiaan semata. Ada kalanya datang cobaan yang akan menguji kesetian dan rasa cinta.

Cinta yang tulus niscaya akan senantiasa tumbuh bersemi di hati kita. Kita jadi teramat menyayangi pasangan kita, dan kita berharap si dia pun merasakan hal yang sama seperti kita. Namun suatu saat terjadi hal yang tak ingin kita lihat dan tak ingin kita dengar. Si dia mulai menunjukan bahwa ia tidak nampak sebahagia dulu bersama kita. Si dia mulai tak sesering memberi perhatian pada kita seperti dulu.

Entah mengapa, kadang kita coba menenangkan hati dan berfikir bahwa itu hanya dugaan perasaan kita saja. Namun lambat laun, memang benar yang kita rasa. Dia mulai terlihat sangat jarang mengungkapkan perasaaan sayangnya. Dia sudah tak seromantis dulu, kita jadi merasa bahwa apakah ada yang salah dengan kita. Apakah kita telah menyakitinya, padahal selama ini sudah mencoba berusaha setia dan pengertian dengannya.

Advertisement

Hingga datanglah konflik-konflik seperti biasanya, namun kenapa walau konflik itu kecil rasanya justru selalu ia besar-besarkan. Tak seperti dulu yang bisa diselesaikan hanya dengan tatapan penuh senyum dan pengertian. Dia rasanya telah berubah, kenapa harus ada pertengkaran-pertengkaran jika hanya ada masalah-masalah kecil. Jika kita bertanya berlebih, rasanya justru menunjukan seolah kita tak percaya dengan dia.

Kita jadi merasa bersalah lakukan ini-itu, padahal niatnya adalah untuk meminta kejelasan dan mencoba untuk bisa menyelesaikan masalah yang ada. Hal itu karena kita sebenarnya masih ingin bertahan, dan berharap bisa saling menyayangi seperti dahulu lagi. Entahlah, tetapi rasanya begitu sulit. Seolah dia sudah bosan bersama dengan kita.

Terkadang rasa curiga pun terbersit di hati kita, apakah ada sosok lain yang kini mampu mengalihkan perhatiannya. Apakah kita sudah tak lagi berarti lebih baginya. Lalu apakah semua cinta yang kita berikan selama ini adalah sia-sia belaka. Apakah semua cerita yang telahdi lalui bersama akan berakhir begitu saja. Terpaksa kita pun dibuatnya menangis merasakan sakitnya cinta yang tak dihargai.

Tanpa dia tahu, kita telah dibuatnya sakit hati. Rasa pedih itu pun semakin menjadi, tat kala ia dengan jelas memperlihatkan bahwa dia tak lagi sesayang dulu pada kita. Hingga akhirnya dia berkata seolah tanpa memikirkan perasaan kita, bahwa ia inginkan hubungan kita dengannya berakhir. Kecewa, menangis, sedih dan semua rasa pedih sakit hati seketika membuat kita terdiam karena terasa desakkan air mata yang tak bisa dibendung lagi. Dia akhirnya pergi dengan segala alasannya, seolah tanpa peduli apa yang kita rasa.

Beberapa hari setelahnya, kita masih terlarut dalam kesedihan. Kadang diri ingin meyakinkan bahwa dia yang tak mau bertahan, memang tak pantas ditangisi. Namun rasa sayang yang telah lama tumbuh memang tak bisa padam seketika. Kita merasa butuh waktu untuk bisa melupakannya. Kadang kita merenung kenapa dia pergi, apakah salah diri ini yang tak bisa membahagiakannya. Hingga dia memilih pergi dan mencari yang lain.

Namun saat kita berfikir dengan jernih, kita sadar bahwa kita telah berusaha semampu kita untuk bisa membahagiakannya. Jadi memang ini bukan salah kita. Kita sadar, namun menyalahkannya bukanlah suatu yang bisa melegakan kita. Hal yang paling melegakan kita adalah saat kita mengerti bahwa yang lebih baik adalah mengikhlaskan dia yang tak setia itu pergi, hati kita yang setia memang pantasnya untuk sosok yang mau setia pula. Biarlah orang yang tak setia itu enyah dari hati dan hidup kita, agar tak sedetik pun ia akan punya kesempatan menyakiti kita lagi.

Kita tahu semua hal yang telah lalu adalah pembelajaran, tetapi terlalu memikirkan dia di masa lalu bukanlah hal yang paling utama untuk menatap masa depan. Dari pada meratapi kesedihan karena sakit yang ia buat, lebih baik kita mempersiapkan diri untuk menyambut sosok baru yang bisa kita pilih untuk mengarungi masa depan. Dari pada merengek-rengek menangisi dia yang tak menghargai kesetiaan, lebih baik kita memantaskan diri menjadi lebih baik untuk dapatkan pasangan yang baik pula.

Rasanya jika tak bisa bangkit, tentulah sang mantan akan menertawai kita karena tak bisa lepas darinya. Berbeda jika kita bisa tersenyum menatap masa depan, entah sang mantan mau sedih, iri, bahkan ngajak balikan atau apalah-apalah itu sudah tak ada urusannya buat kita. Biarlah masa lalu pergi, saatnya kita tersenyum dan membuat masa depan yang begitu indah tanpanya.

Kita mengerti, baiknya memang kita menatap indahnya langkah di depan. Di luar sana sangat masih banyak sosok yang mau menyambut kita dengan pintu terbuka. Namun tentu kita tak lagi ingin main-main, biarlah yang serius saja yang kita pilih. Buat apa toh main-main, kita sudah terlalu sangat paham bagaimana rasanya sakit hati ketika cinta kita tak dihargai. Kini kita mengerti, inilah diantara arti dari move on itu.

Tak sekedar lepas dari masa lalu, namun kita bisa belajar dari masa lalu. Tak sekedar bisa berganti pasangan secepat mungkin, namun kita bisa mengerti bagaimana cara kita memberikan cinta kita selanjutnya kepada siapa yang pantas dan dengan bagaimana cara yang paling benar dan tepat. Hal itu karena kita sepenuhnya menyadari bahwa cinta kita itu tak pantas untuk orang yang seenaknya datang dan pergi, namun cinta kita itu hanya teruntuk orang yang bersedia bertahan bersama kita selamanya.