Sebuah kebanggaan tersendiri saat kita dapat kuliah sambil bekerja, seakan kita sudah mampu untuk membantu orang tua masalah dana dan mampu berkonstribusi untuk kebutuhan pribadi. Bagaimana pun masa ini adalah proses, tak semua orang dapat melalui atau memiliki kesempatan seperti ini. Namun banyak juga yang memimpikan aktivitas ini terwujudkan.

Bagi para mahasiswa khususnya yang dari luar kota, kuliah sambil bekerja menjadi harapan yang ingin diwujudkan sebelum atau saat menempuh pendidikan. Dalam bayangannya bekerja sambil kuliah pastilah memberi keuntungan tersendiri dalam hal ekonomi. Dapat uang jajan tambahan, pengalaman baru, kesibukan tambahan, merupakan beberepa keuntungan yang di dapatkan.

Terlepas dari itu semua, ada beberapa hal yang terkadang terlupa dan tak sesuai ekspektasi sebelum menjalani 2 aktivitas tersebut. Gaji yang tak seberapa dan kebutuhan yang lebih banyak dari biasanya membuat kita tak bisa lepas dari bantuan orang tua, terutama masalah dana.

Pekerjaan paruh waktu memang tidak menghasilkan gaji yang seberapa, dimana rata-rata hanya dapat 400-600ribu perbulan. Hal-hal seperti itulah yang menjadi faktor kenapa belum mampu secara mandiri. Namun, ada beberapa alasan lain juga yang mempengaruhi. Berikut akan aku jabarkan berdasarkan pendapat dan pengalaman pribadi, semoga dapat jadi refrensi dan refleksi diri.

Prinsip Bekerja hanya untuk mengisi waktu luang dan untuk tambahan uang jajan

Hal seperti ini pastilah terlintas di awal melakoni aktivitas tersebut, gaji yang tak seberapa dan kebutuhan yang terus meningkat saja membuat uang habis tak tersisa. Apalagi mahasiswa sekarang ini yang seringkali nongkrong, jajan, atau belanja keperluan membuat kebutuhan semakin meningkat. Sehingga jika dapat penghasilan lebih terkadang untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Advertisement

Memang, setiap hari/minggu/bulannya dapat jatah dari orang tua. Tapi terkadang itu hanya cukup untuk kebutuhan primer saja, seperti untuk tugas kuliah dan jajan. Apalagi kalau sudah punya kerja sampingan kaya gini, terasa sedikit malu jika harus minta uang tambahan.

Tak adanya manajemen keuangan yang jelas, sehingga tak tersisa untuk keperluan yang lebih prioritas

Kegiatan Kuliah, Kerja, dan pulang berjalan begitu saja seperti halnya waktu terima gaji bulanan. Upah atau penghasilan yang diterima masuk dompet dan terpakai untuk keperluan pribadi dan habis begitu saja. Untuk menanggulangi hal tersebut hendaknya mendaftar kebutuhan primer bulanan yang perlu di wujudkan, setidaknya apa yang kita kerjakan mendapatkan hasil yang nyata dan bermanfaat nantinya. Tapi jangan lupa, untuk menyisipkan sisanya untuk cadangan atau kebutuhan hari-hari selanjutnya

Entah kenapa, semakin banyak penghasilan yang diterima meningkatkan kebutuhan pribadi setiap bulannya. Pernah ku coba mengatur pemakian uang bulanan, tapi setelah di lihat hasilnya, uang yang ku punya begitu sedikit sekali dan seakan tak tersisa karena sudah di bagi untuk kebutuhan ini itu.

Berfikir bahwa masalah pendidikan adalah tanggung jawab utama orang tua

Perlu di ketahui juga, bahwa ada tanggung jawab anak terhadap orang tua dan tanggung jawab orang tua terhadap anak. Salah satu tanggung jawab orang tua terhadap anaknya yaitu menyekolahkan anaknyanya dan memberi pendidikan yang layak untuknya. Aturan dan prinsip seperti itulah yang membuat kita tak seperlunya membiayai biaya sekolah sendiri, toh sudah ada orang tua yang mampu mencukupinya dan tugas kita hanya belajar saja.

Memang tak semua berpikiran atau melakukan seperti itu, tapi itulah yang aku alami hinga aku masih butuh bantuan orang tua masalah dana. Selagi tidak merepotkan atau membebani atau membuat kecewa orang tua, aku rasa sah-sah saja.

Gaji bulanan yang di dapat tidak seberapa, karena kerja paruh waktu saja

Apa mau dikata, namanya juga kerja sampingan belaka gajinya pun tak seberapa. Meski terkadang kerja juga 6 sampai 8 jam per hari, tapi itu tidak menghasilkan upah yang seberapa, karena memang bekerja di usaha skala kecil.

Seperti yang aku ketahui dari teman-teman sendiri yang juga melakukan aktivitas ini, rata-rata perbulannya menghasilkan 400-600ribu. Dengan jumlah segitu terkadang hanya cukup untuk makan, jajan, dan jalan-jalan (terutama anak kos).Kalaupun bisa menyisihkan, paling sekitar 100-300rb perbulannya, beda-beda dari setiap mahasiswa yang melakukannya. Semua itu tergantung bagaimana kita mengatur uangnya dan cara untuk menghematnya.

Beberapa alasan diatas itu tadi memang sering terjadi dan aku alami sendiri, dengan berbagai kemungkinan yang ada aku terkadang tak mampu mengatasinya. Memang membanggakan jika kita bisa memenuhi kebutuhan pribadi tanpa melibatkan orang tua lagi. Tapi tak perlu dipungkiri, jika memang masih belum mampu melakukannya dan orang tua masih mampu mencukupinya. Setiap orang punya cara tersendiri dan jalan hidupnya yang berbeda-beda, disini aku hanya berpendapat saja dan komentar anda (pembaca) akan membuatnya lebih baik lagi.