Sebelum bertemu denganmu, aku sudah sering merasakan asam garam yang Tuhan sediakan dalam kehidupan ini. Termasuk asam garamnya cinta. Berbagai masalah soal cinta telah aku cicipi bahkan sampai aku telan sendiri. Baik itu bahagia, maupun duka dalam sebuah percintaan.

Siap mencinta berarti siap pula untuk merasakan luka. Itu yang aku simpulkan dari berbagai masalah cinta yang kutemukan dan kurasakan. Mengapa harus siap merasakan luka? Bukankah cinta adalah hal yang katanya akan membuat orang bahagia? Itu memang benar, tapi kehidupan dan cinta tidak akan selalu berpihak pada kebahagiaan. Kesedihan dan keterpurukan karena sakit yang didapatkan adalah bagian dari kehidupan yang akan mendewasakan diri.

Terkadang kenyataan itu memang menyakitkan. Apalagi jika ia tidak sesuai dengan harapan. Tapi sampai kapan kamu terus tepuruk dalam keadaan? Bukankah hidup akan terus berjalan sampai kiamat Tuhan iyakan? Itu yang terlintas dalam benakku saat aku belum bertemu denganmu.

Kita memang telah lama mengenal. Kita telah lama menjalin hubungan. Kamu yang mampu menerima segala kekuranganku, yang mampu menyayangiku sepenuh hatimu, seperti halnya sudah menjadi seorang suami. Kamu selalu siap siaga melakukan apa yang kuminta dan kubutuhkan, bahkan tak enggan orang tuaku menerimamu dengan penuh keterbukaan. Tapi tanpa mereka ketahui, kita sudah saling merasakan asam garam cinta yang kita agungkan.

Sampai pada perpisahan yang kita temui di ujung jalan. Itu hal yang sungguh menyakitkan.

Advertisement

Terlalu banyak kenangan yang kita ukir dalam kurun waktu lima tahun lamanya. Seketika hancur karena hal yang tak kuasa aku ungkapkan. Sampai ia datang membawa luka untukku, namun kamu tetap siap siaga menjadi tempatku untuk kembali. Kamu masih menjadi tempatku kembali. Tanpa pikir panjang, kamu inginkan aku kembali. Kamu ingin aku tetap di sisimu sampai tiba saatnya nanti.

Tuhan, sungguh aku menyesali segala keputusanku saat itu hingga buatmu menangis.

Dan kini aku tanpa memikirkan harga diriku, aku dengan lancang kembali kepadamu dengan membawa air mata luka yang diberikan oleh laki-laki itu. Tapi kamu tetap tak perduli akan hal itu. Kamu tetap inginkanku untuk kembali dan menjagaku dengan segenap cinta dan kasih yang dulu.

Aku beruntung memilikimu…

Kamu adalah seorang yang Tuhan kirimkan untuk menghapus lukaku dan menggantinya dengan kebahagiaan. Seperti halnya kehormatan itu, akan kujaga kamu dan tak kulukai lagi segala yang kamu berikan untukku.

Walau mengikhlaskan semua yang ia lakukan kepadaku adalah hal yang begitu menyakitkan dan sulit untuk kulakukan, tapi itu harus kulakukan karena langkahku masih panjang. Biarlah Tuhan yang akan tunjukan kebenaran kepada mereka karena Tuhan tak pernah tidur. Tuhan tak pernah tak adil. Tuhan selalu berpihak pada kebenaran dan orang-orang yang sabar.

Terimakasih untukmu yang masih setia di sisiku…