Bagiku, lagu natal adalah kunci untuk membuka pintu memori tentang rumah, Bapak dan Ibu.

Hidup sendiri dan jauh terpisah dari rumah dan orangtua, bagaimanapun membuatku merindukan suasana menyenangkannya rumah, hijaunya rumput manis di halaman, aroma khas jahe yang ibu tanam di bawah jendela, jejalar daun sirih merah, wangi daun kunyit yang terkoyak, jeruk nipis yang berbuah ranum dan sepohon jeruk yang tumbuh di sudut depan dinding kamar mandi. Ahh.. Rumahku warna biru, aku rindu.

Lagu natal, entah bagaimana membuatku selalu teringat pada Bapak. Bapak yang sukanya ngobrol sampai subuh. Bapak itu setengah aku. Ibaratnya, ia tampak di dalam cermin jika aku sedang berdiri di depan cermin, atau sebaliknya ia di depan dan aku di dalam.

Kami berdua bukanlah orang dengan tipe “9-5” (tidur pukul sembilan malam dan bangun pukul lima di pagi hari). “Kopi” adalah minuman favoritku dan bapak, tapi setelah ia terserang penyakit yang disebut “diabetes” itu, sekarang kopi hanyalah kenangan untuknya. Ahh Bapak, si cinta pertama.

Percaya atau tidak, cinta bapak adalah yang paling nyata. Dalam peluknya, jiwa lemah terkuatkan. Entah bagaimana bisa genggamannya begitu hangat dan ciumnya selalu sejuk. Saat air mata jatuh karena cita tak tercapai, pelukan bapaklah yang kembali memberi semangat baru. Jauh dari rumah membuatku rindu pada Bapak.

Advertisement

Aku rindu ngobrol sampai subuh, ngobrol tentang apa saja; fisika, sekolah, rumah, agama, adat, gosip politik terbaru, cara bercocok tanam, bapaknya, ibunya, masa kecilnya, anak perempuan dan laki-lakinya, cucunya, ayamnya, motornya, sawahnya, temanya, masa depan, apapun itu, yah apa saja.

Ternyata aku sangat merindukan bapak. Aku rindu mendengar kalimat, “ada yang mau dibilang ke bapak?” yah.. walaupun sering mendengar kalimat itu via telepon, tapi rasanya sangat ingin mendengarnya langsung berhadapan muka dengannya. Kalimat itu sangat luar biasa untukku, saat bapak mengatakan demikian, itu artinya dia sedang memberikan kesempatan untuk meminta apapun darinya. Jika dapat dipenuhi olehnya, pasti akan dikabulkan. Ahh bapakku, sayangku, aku rindu.

Lagu natal, entah bagaimana membuatku selalu teringat pada Ibu. Ibu yang aku panggil dengan sebuatan “Mamak”. Aroma dan rasa kopi buatan mamak itu beda, tak kutemukan dimanapun aku pernah singgah untuk sekedar minum kopi. Mamakku itu perempuan terlembut di muka bumi, kebalikan dari bapak yang tegas namun tetap menyenangkan. Itulah mungkin sebabnya mereka sangat serasih, sangat cocok, saling melengkapi satu sama lainnya. Mamak adalah wanita terbaik bapak. Dia sudah menjadi candu untuk bapak.

Bersenandung ia bolak-balik kamar, ruang tengah, dapur, kamar mandi, halaman rumah, belakang rumah bahkan semua sudut rumah telah dikuasainya dengan sangat detail. Mamak suka sekali merawat tanaman. Ditanaminya bunga-bunga di dalam pot dan disusunnya rapi berjejer di depan rumah di atas lantai teras. Setiap pagi disapunya halaman rumahku yang hijau ditumbuhi rumput manis itu dan sorenya disiraminya bunga-bunga keladi warna-warni dan tanaman lainnya yang ada di depan rumah.

Entah sudah berapa banyak hari yang telah dilaluinya, dengan sigap menyiapkan kopi, sarapan pagi, makan siang dan malam, menyiapkan air panas untuk bapak mandi, membuka dan menutup jendela, membersihkan rumah, menyalakan lampu-lampu dan kemudian mematikan kembali, mengurus suami, mengurus anak, mengurus cucu, tak lupa mengurus ternaknya dan tanaman di halaman rumah. Ahh banyak sekali yang harus ia kerjakan.

Mamakku sangat suka bekerja. Aku bahkan heran kenapa ia tidak pernah diam barang sehari, duduk santai di depan tv sambil menikmati kopi dalam waktu yang lama ya? Ada saja yang ia lakukan. Jika ia lelah, berselonjor ia di kursi berpenyanggah kayu di ruang tengah. Di tempat favoritnya itu, berselonjor ia dengan kacamatanya yang miring tak terhiraukan oleh kantuk. Ahh mamakku perempuan lembut, perkasa yang anggun, aku rindu.

Entah bagaimana, setiap kali aku mendengar lagu natal, aku selalu ingat rumah, Bapak dan Mamak. Apakah karena hanya momen itu yang selalu pasti bisa aku rayakan bersama dengan mereka di rumah setiap tahunnya? Lagu natal selalu mengingatkanku pada rumah, Bapak dan Mamak. Saat mendengarnya terlantun, aku merasa seperti dibawa ke suasana rumah. Saat mendengarnya, aku selalu ingin pulang ke rumah. Saat aku rindu Bapak, Mamak dan rumah, kupasang lagi ke telingaku, headset yang tersambung ke kumpulan lagu natal di pemutar musik smartphoneku. Lagi dan lagi, kunikmati sendiri lantunan lagu natal ini. Yah.. Sendiri, tak ingin berbagi.

Ahhh… Aku rindu Bapak, Mamak dan rumah.