Sebutan apa yang cocok untuk mendeksripsikan sebuah perasaan dalam tubuh berumur tiga belas tahun? Jika itu suka, bisakah ia kembali bersemi saat bertemu orang yang sama? Jika itu cinta, apakah sekali mati ia tak akan pernah hidup lagi? Jika itu hanya kagum, pantaskah ia bertahan begitu lama dalam persembunyian dan menunggu waktu yang tepat untuk berkembang menjadi cinta?

Laki-laki yang kembali itu adalah laki-laki yang menjadi alasan mengapa aku bertanya hal-hal di atas. Dia hanya sekadar kembali. Kembali ke kota kelahirannya, bertemu sanak keluarga, dan hanya sekadar kembali. Aku pun hanya sekadar kembali. Rindu rumah, lalu pulang. Namun sayang, saat aku memutuskan kembali. Perasaan lima tahun lalu juga memutuskan kembali.

Perasaan yang hingga kini belum bisa kutemukan definisinya. Perasaan yang terkadang membuatku tak nyaman duduk di sampingnya. Meski begitu, aku bersikap wajar. Kau tak bisa membunuh perasaan, bukan?

Laki-laki yang kembali itu adalah laki-laki yang dulu pernah menungguku. Entah berapa tahun. Lalu, dia kembali tapi tidak bersama perasaannya. Dia meninggalkan perasaan itu di suatu tempat yang jauh di belakang. Lima tahun lalu. Mana mungkin bsia dibawa lagi?

Laki-laki yang kembali itu adalah laki-laki yang telah berhenti di sebuah dermaga seorang wanita. Dermagaku masih jauh dan dia memutuskan untuk berhenti di dermaga lain. Karena di dermagaku, telah kukibarkan sebuah bendera bertuliskan “Taken”.

Advertisement

I’m taken for the one who’s not coming back.

Dermaga yang sepi, merindu kapal angin yang sudah hilang di samudera. Entah kapan bisa menurunkan bendera itu, tapi menunggu bukanlah hal yang perlu diburu.