Kepalaku jagat yang celaka, dipaksa ungsi penghuni satu-satunya, ke dalam kata yang menjelma suaka. Adalah namamu, yang mengindahkan pemikiranku–meretas segala gundah yang meraja di dalam kepala, hingga kau adalah satu-satunya ratu yang memerintah segala imagi yang ada. Dulu. Saat kau dan aku, tanpa jeda apa-apa. Hingga kenyataan menjadi durma yang mengundang peperangan antara hati dan logika.

Harapan yang kubangun susah payah, luluh lantak tanpa menyisakan apa-apa. Dan yang kupunya kini hanyalah, kebesaran hati untuk menampung puing-puing sisa cerita, yang tak ubahnya menjadi airmata. Mulutku hilang katup, seakan sungkan untuk mengutuk. Namun raga telah dikuasai oleh emosi, dan segala tipu daya yang kutelan mentah-mentah.

Aku terlalu mudah jatuh cinta, hingga melupakan segelintir logika. Kini aku tak lebih hanya seorang manusia, yang mengemis harapan kepada semesta yang jemawa. Memunguti setiap butir-butir rindu yang jatuh bersama hujan, dengan harapan aku tak mati di dalam rindu yang kekeringan.

Sore ini aku rindu. Di antara segelas kopi dan puisi di depanku, hanya aku yang benar-benar bernyawa. Lantas temui aku, atau bunuh saja aku segera.

Aku tak bisa memutar waktu, walau hanya satu menit lalu, untuk sekedar mengganti kata demi kata yang telah kulontarkan. Atau aku tak bisa hanya berteriak memanggilmu, dan berharap sampai pada tempatmu yang entah; di tempat kau berada.

Advertisement

Aku hanya mampu berucap lirih, berharap intuisi lagi-lagi membuatmu mengerti. Atau setidaknya, membuatku memahami rentetan tanda yang berjajar di kepala, perihal apa saja yang harus kupercaya. Meski salah satunya adalah kenyataan, bahwasanya kita telah berbeda. Dan di setiap hujan yang luruh berkali-kali, hanya akan ada aku dan pelangi, saling bercerita tentang rasa sepi setelah ditinggal pergi. Sudah sampai sejauh ini, aku masih belum menemukan sebab kau pergi.

Mungkin lebih baik mati menjadi alasan, agar tak perlu setelahnya, diikuti banyak pertanyaan atau kiasan-kiasan yang lahir dari hilangnya sebuah jawaban. Mungkin bagimu, aku hanya seorang yang tak pernah peka, tapi bagiku, aku hanya seorang yang tak mampu membaca pikiranmu. Maka kau yang pergi diam-diam hari itu, tak akan pernah aku tahu mengapa.

Aku duduk di bibir jendela, menatap senja yang mengantar malam tiba, dan gelap yang masih menyimpan cerita tentang bintang yang tiba-tiba datang, atau tentang bulan yang mengintip dari kejauhan–menelisik matahari yang segera pergi. Dan mungkin benar, ada sesuatu yang tak bisa dipaksakan, seperti matahari dan bulan, sekuat apapun perasaannya, segigih apapun mereka saling mencari, mereka tak ditakdirkan untuk berpelukan.