Belajar Ikhlas: Ikhlas Itu Tidak Akan Membunuhmu!

By : Putri Al Fatih

Ikhlas, sebagian banyak manusia mengganti sebutan itu dengan ‘pasrah’, sejujurnya mereka adalah sebutan yang berbeda. Berbeda makna bahkan sangat berbeda dalam pengaplikasiannya.

Ikhlas, menurutku sikap menerima. Sikap yang harus dan wajib banget dimiliki oleh semua manusia beradab di dunia ini. Ikhlas mengajarkan kita pada sikap menghargai dan sikap memberi lebih tanpa meminta kembali. Ikhlas, itu tidak mematikanmu. Kebanyakan orang yang sedang dirundung masalah akan merasa dirinya terkekang dengan sebuah ‘keikhlasan’ yang mereka anggap dengan pasrah akan suatu hal. Sikap berbeda seperti ini yang membuat mereka seakan mati jika mereka mengikhlaskan sesuatu.

Padahal saat kita ikhlas, hati kita melepas suatu hal yang memberatkan kita saat kita tidak ikhlas, jadi bisa disimpulkan ikhlas itu menyembuhkan bukan mematikan. So, jangan takut untuk memiliki sikap ikhlas yang tinggi. Karena apa? Karena ikhlas tidak akan membunuhmu.

Advertisement

Ikhlas, banyak hal yang bisa mengajarkan kita pada keikhlasan batin. Salah satunya adalah ikhlas merelakan kepergian orang yang kita sayang. Ikhlas melepaskan kepergian mereka kepada sang Maha Pencipta adalah ikhlas yang menyakitkan tetapi sangat luar biasa hebat. Kembali aku harus bercerita, ikhlas saat aku harus merelakan kedua orang yang sangat aku cintai yaitu Kakekku dan Sahabatku meninggal di waktu yang hampir bersamaan. Waktu yang membuat semuanya tidak adil, seperti yang aku ceritakan dalam tulisan sebelumnya.

Waktu yang merubah pandanganku terhadap kepercayaan yang sesungguhnya. Waktu yang menjadikan aku membenci segala hal, termasuk Tuhan. Dan waktu itu pula yang mengenalkan aku bagaimana ikhlas, menerima dan merelakan. Dalam kejadikan waktu itu, saat aku harus berperang dengan diriku sendiri. Aku menemukan ikhlas di usiaku yang baru saja menginjak usia 12tahun. Usia yang masih sangat muda untuk aku mengerti sikap ikhlas yang sesungguhnya. Kehidupanku sebenarnya bahagia, berkecukupan dan selalu menjadi keluarga yang terbaik di lingkunganku.

Tetapi tidak dengan hidupku. Aku tidak bisa menemukan sosok yang sama seperti Kakek dan Sahabatku yang telah pergi. Kakek yang selalu menceritakan kisah sejarah Indonesia di masa lalu. Sahabat yang selalu memberikan informasi tentang masa depan dengan teknologi canggih saat itu. Kedua manusia yang Tuhan ciptakan, untuk kemudian di ambil kembali agar aku bisa merasakan sikap ikhlas. Terhitung lima tahun aku harus menemukan hidupku yang sesungguhnya.

Lima tahun juga aku hidup dengan jiwaku yang lemah tetapi berpura-pura kuat. Aku hidup seperti zombi. Aku hidup, tetapi tidak bisa berbuat banyak hal. Aku selalu merasa sendirian dalam kebahagiaan keluargaku, kegembiraan sahabat-sahabatku, bahkan saat itu aku harus mencemari kehormatan keluargaku dengan tindakan memalukanku, yang tidak bisa aku sebut dalam tulisan ini. Hingga kemudian di usiaku yang menginjak 17tahun. Aku menemukan sosok pengganti kedua manusia hebat itu.

Aku menemukan hobiku ini, menulis. Dengan menulis aku bisa bercerita kepada mereka berdua. Aku bisa berbagi kasih dengan kakekku yang sudah berada jauh di surga sana. Aku bisa bercanda dengan Dhanil sahabatku, dan masih tetap menjadikan dia sahabat terbaikku hingga saat ini. Dan semua itu tidak bisa terlepas dari sikap ikhlas, aku harus mengikhlaskan mereka agar aku tidak mati sia-sia hanya harena ingin mereka tetap hidup. Tadinya aku berfikir ikhlas itu berarti pasrah dengan keadaan, tidak berusaha membangkitkan dan diam apa adanya.

Ternyata salah besar. Saat aku diam, pasrah dengan keadaanku. Aku seperti zombi. Tetapi saat aku bergerak, ikhlas dengan kepergian orang yang aku sayang. Aku hidup untuk mereka. Aku hidup untuk membahagiakan mereka. Aku hidup karena mereka ingin melihat sosok mereka menjadi inspirasi dalam setiap tulisanku. Dan kini aku membuktikannya. Kakek, terimakasih atas jutaan pengetahuan sejarah yang selalu kakek ceritakan. Dhanil, kita pasti akan bertemu di surga Tuhan suatu saat nanti. Banyak yang harus aku ceritakan kepadamu.

Ikhlas, ceritaku di atas hanya segelintir kisah sederhana tentang keikhlaskan yang harus dimiliki oleh hati manusia. Sikap yang akan menjadikan manusia menuju kehidupan yang lebih baik. Dan seperti yang aku katakan, ikhlas itu mencangkup banyak hal. Ikhlas memberi, ikhlas menerima, ikhlas mendengar, ikhlas berbicara, ikhlas menasehati, dan kini aku sedang ikhlas menulis untuk memberikan motivasi sederhana kepada mereka yang memiliki kisah sama seperti kehidupanku.

Baik hidup yang sudah berlalu, sedang di jalani atau yang akan terlewati nanti. Kita tidak akan pernah tahu si ‘ikhlas’ terbesar akan kita gunakan pada saat kapan. Tetapi hati kita, jiwa kita, sangat membutuhkan kebesaran ikhlas untuk memperkuat kehidupan kita. Jangan sepertiku yang pasrah dan menjadikan diriku zombi selama lima tahun. Sayangilah dirimu sendiri, buatkah kata ikhlas itu penguat kehidupanmu. Jangan pasrah, berjuanglah. Karena Tuhan mencintai mereka yang berjuang dalam keikhlasan.

Ikhlas, buatlah kata itu sebagai kekasihmu. Karena dia akan menjaga kehidupanmu. Menjaga jiwamu yang lemah untuk lebih kuat dan tegar dalam menghadapi problematika kehidupan. Menemani kesepianmu saat mereka yang kamu sayang tidak lagi memperhatikanmu. Menjaga hatimu untuk tidak sakit yang kedua kalinya. Dan jadikan ikhlas sebagai pedoman hidup dalam masyarakat, agar kamu menjadikan dirimu istimewa bukan rendahan. Sikap ikhlas itu istimewa, dan dengan ikhlas kamu tidak akan mati sia-sia.

Percayalah, aku sudah membuktikannya dan aku tidak mati dalam sikap ikhlas yang terkadang membuat orang lain berkata ‘aneh’ untuk hal ini. Tetapi Tuhan sangat mencintai kita jika kita bisa ikhlas, baik lahir ataupun batin.

Ikhlas juga akan memberikan kamu cermin untuk mencintai dirimu sendiri. Karena dalam tulisan kali ini, aku sedang mendorong kalian untuk mencintai diri kalian sendiri. Buat diri kalian itu istimewa. Jangan akarena masalah sederhana, kalian merusak diri kalian sendiri. Karena aku sudah membuktikannya, saat aku merusak diriku sendiri. Aku bukan hanya membuat diriku hancur tetapi juga keluargaku, sahabatku dan banyak orang lainnya. So, jangan pernah menjadikan masalah sebagai alasan kalian untuk merusak diri kalian.

Love your self, jangan jadikan dirimu pelampiasan masalah yang ada. Jangan jadikan dirimu pelampiasan dari masalah yang menerpa. Ikhlas menerima, dan jadikan dirimu kuat untuk berperang dengan masalahmu.

Buktikan kamu lebih kuat dari masalahmu saat ini. Buktikan kamu lebih hebat dari ‘putus asa’ dan jadikan ikhlas alat perang untuk melawan ‘pasrah’. Karena ikhlas tidak akan membunuhmu tetapi menguatkanmu!

Jadi, jangan takut untuk ikhlas. Jangan malu memiliki sikap ikhlas dan tetaplah kuat. Masalah itu tidak akan selesai jika kamu meninggalkannya dengan kepasrahan. Kamu harus bisa melawannya dengan rasa ikhlas. Dan kembali aku tuliskan disini :

Cintailah dirimu sendiri, dengan caramu, dengan ikhlas dan selalu bersyukur. Semoga kehidupan lebih baik menghampiri perjuanganmu mendapatkannya.