Hai kalian yang sedang berbahagia. Akan lebih terpuji jikalau salah seorang temanmu yang belum memiliki bahu untuk bersandar, kamu tidak melontarkan kalimat 'kamu kapan nyusul? . Kami cukup sadar diri kok, kalimat itu malah acapkali terasa duri ketimbang angin surgawi. Jadi bisakah untuk tidak mengulang kalimat seperti itu lagi? Terimakasih sebelumnya.

Kami bukannya tak ingin segera menyusul bahagia yang kalian rasakan saat ini. Kami hanya sedang menanti dan memperjuangkan doa-doa yang mungkin belum mencapai pintu illahi. Akan semakin terpuji jikalau bibir kalian bertutur Kata semoga yang sama dengan kami. Sebab bagi pandangan kami, pertemuan dan penyatuan adalah hak Tuhan. Jika menurutnya belum waktunya, kami bisa apa.

Dada selalu berujar hal yang sama. Kehadiran yang tercinta selalu menjadi prioritas utama. Sebab manusia hakikatnya tidak bisa hidup sendirian di dunia dan di akhirat sana.

Percayakan pada tuhanmu saja, apa yang menjadi milikmu tidak pernah menjadi milik oranglain. Begitu sebaliknya, apa-apa yang menurutmu sudah menjadi milikmu bukan berarti akan selamanya milikmu. Akan lebih baik, mempercayakan milikmu pada yang maha milik.

Semesta takkan menyembunyikan cintamu. Sebab dada yang terus mendenyutkan doa dan harapan, selalu akan percaya pada takdir Tuhan

Advertisement

Kami berharap pertemuan selanjutnya tidak akan Ada kalimat 'kapan nyusul' lagi tapi 'kudoakan bahagiamu sama seperti bahagiaku, teman'. Karena mendoakan kebaikan oranglain berarti mendoakan hal yang sama pada kita juga. Tuhan maha suci. Salam bahagia untukmu selalu teman.