Sepulang dari perayaan 17 Agustus, saya dikagetkan dengan berita pengeboman yang terjadi di Bangkok. Yang menjadi sasaran pengeboman adalah Kuil Erawan. Sampai tulisan ini dibuat (17/8 malam) jumlah korban meninggal adalah 15 orang. Namun perkiraan lain mengatakan korban lebih dari 20 orang, sementara puluhan orang lainnya menderita luka-luka.

Sebagian dari korban ialah traveler karena selain menjadi tempat ibadah, Kuil Erawan juga merupakan tempat yang ramai dikunjungi oleh traveler.

Kejadian ini tentu sangat menyedihkan. Beberapa kali kunjungan saya ke Bangkok, saya sempat melintasi daerah tersebut. Tidak ada tanda-tanda terror. Yang ada hanyalah aktifitas warga yang berangkat atau pulang kerja. Beberapa traveler biasanya ada di dekat sana untuk sekedar mengambil gambar. Mereka juga tidak melakukan aksi yang mengganggu orang yang beribadah.

Pengeboman dalam bentuk apapun merupakan sesuatu yang keji. Apalagi bila sasarannya adalah tempat ibadah atau tempat wisata. Tentunya si pemasang bom sudah tahu bahwa korban yang tewas adalah warga sipil dan pengunjung. Rencana mereka tidak sekedar membunuh, tetapi untuk menarik perhatian dunia atas misi dan tujuan dari organisasi mereka. Bila bom meledak bisa dipastikan banyak korban berjatuhan dan media massa akan meliput.

Saya masih ingat kejadian Bom Bali jilid satu dan dua. Pengeboman ini mengundang kutukan bagi para pelakunya namun juga sekaligus mencoreng nama Indonesia sebagai tujuan wisata. Indonesia menjadi identik dengan sarang teroris dan tidak aman untuk dikunjungi. Meskipun kenyataannya saya berani jamin pelaku terorisme di Indonesia jumlahnya hanya segelintir dibandingkan dengan rakyat Indonesia yang ramah dan toleran.

Advertisement

Sebagian besar tempat wisata dan rumah ibadah merupakan tempat yang terbuka dan ramah untuk dikunjungi oleh wisatawan. Baik di Thailand maupun di Indonesia. Bagi traveler sendiri, tempat wisata merupakan tempat untuk melepaskan diri dari keseharian yang melelahkan.Tidak jarang, sepulang dari kunjungannya, traveler mendapatkan makna hidup yang baru.

Hanya saja keterbukaan tempat wisata dan kepercayaan traveler ternyata dimanfaatkan oleh sekelompok kecil orang dengan pikiran ekstrem untuk melakukan tindakan yang terkutuk. Bagi mereka yang penting terror berhasil disebarkan dan negara yang mengalami insiden pengeboman akan terguncang. Harapan lainnya adalah kelompok mereka akan eksis dan bisa merekrut lebih banyak pengikut lagi untuk mencapai tujuannya.

Menurut opini saya pribadi, pengeboman malah membuat orang membenci konsep atau tujuan yang ingin disebarluaskan. Bukankah bila ada perbedaan pemikiran lebih baik menuliskannya dalam bentuk buku atau publikasi yang dapat mengubah pemikiran seseorang? Karena tulisan bisa dikatakan tidak pernah mati, bisa menyerang tetapi tidak melukai, bisa disebarluaskan tanpa perlu membunuh.

Bagi para traveler, tentunya kematian bukan hal yang bisa ditebak. Meninggal tidak harus hanya saat traveling, terkena bom dan lain-lain. Dalam perjalanan ke tempat kerja pun kita bisa meninggal. Kematian mungkin menakutkan, tetapi bila kita tidak tahu kapan datangnya kematian, kita tidak perlu takut. Seorang traveler tidak akan khawatir akan hal yang demikian, ia hanya fokus pada tujuan perjalanannya.

Bom mungkin bisa mematikan potensi wisata, namun tidak bisa membunuh jiwa-jiwa traveler. Mereka tetap akan pergi kesana kemari karena tidak pernah tahu apa yang akan mereka alami. Para pemasang bom tidak memahami hal ini, karena mereka bukanlah traveler, mereka hanya sekumpulang pengecut berpikiran sempit. Mereka tidak akan pernah berhasil karena setelah kematiannya, suatu lokasi wisata akan bangkit kembali.

Contoh nyatanya adalah Borobudur., 30 tahun lalu , tepatnya pada tanggal 21 Januari 1985 terjadi pengeboman yang menghancurkan sebagian dari tempat bersejarah ini. Tetapi tentunya hal ini juga sudah terlupakan oleh traveler. Tidak ada yang peduli dengan hal itu. Bahkan cerita ini tidak diketahui masyarakat yang hidup di jaman sekarang. Bisa dikatakan bahwa misi para ekstremis gagal total.

Begitu juga dengan Bali, yang meskipun tragedinya masih diingat, tetapi saat ini sudah memiliki kemajuan wisata yang sangat pesat. Mulai dari hotel berbintang sampai menjamurnya budget hostel bisa menjadi indikatornya. Bahkan pertemuan-pertemuan dengan standar internasional sering diadakan di Bali. Sebagian besar tulisan mengenai Bali saat ini lebih banyak menyorot potensi wisatanya, hanya sedikit yang menyinggung tragedi yang terjadi di masa lalu.

Travel Destination dan Traveler bagaikan kisah cinta sejati yang tidak bisa dipisahkan. Cerita-cerita indah dari traveler yang kembali berdatangan akan menutup tragedi yang terjadi. Tempat wisata tetap kembali pada hakikatnya, menjadi tangan terbuka yang siap menerima siapapun tanpa memberi penghakiman. Luka-luka karena tragedi akan menutup secara perlahan, digantikan dengan tubuhnya bunga-bunga cinta yang baru, antara traveler dan tempat yang ia kunjungi.