Lelaki dalam inboxku, laman biru menautkan hati kita. Dalam dunia yang yang kita sebut maya, ribuan kata-kata menyatukan kita hingga melebur menyatu dalam rasa yang sama.

Beribu hari kau menemaniku dengan bahasa khasmu yang mampu meyakinkan aku. Dan tanpa sadar aku memainkan hatiku sendiri pada akhirnya. Dilaman biru ini, aku selalu menanti dengan harap cemas setiap pertanda adanya pesan darimu.

Lelaki dalam inboxku, hanya kita berdua yang mampu mengeja dan menterjemahkan bahasa hati yang kita tulis di laman biru ini. Meski tak pernah bertemu, avatar dan kata-kata yang kau tabur di beranda rumahmu lah yang jadi pengobat rindu untukku.

Tapi mengapa dengan malam ini?

Kepanikan melandaku dalam mencarimu. Di depan layar monitor berdebu aku menahan tetesan air yang tak terbendung dari sudut mataku, tapi tidak membuatku terlindung dari rasa sakit, pedih, perih yang masih tetap sama setelah ku tau kau hapus aku. Mengapa seperti ini?

Advertisement

Lelaki dalam inboxku, andai kau tahu, seketika saja aku ingin bertemu nyata denganmu. Lalu aku akan menulis sesuatu tentangmu di beranda rumahku melupakanmu dan menutup laman biru ini untuk sementara waktu.

Tapi itu hanya andai….

Aku takkan mampu. Karena segenggam rasaku ternyata masih tertinggal disitu.

Di dalam inboxku.