Begitu dilahirkan, saat itu juga kepemimpinan menjadi milik kita. Tetapi pemimpin itu bukan sebuah jabatan, melainkan sifat. Orang – orang yang mempunyai sifat pemimpin, secara tidak langsung dianggap sebagai pemimpin entah dalam lingkungan yang kecil ataupun yang besar. Lelaki yang mempunyai sifat pemimpin, akan mempunyai aura menarik orang – orang disekitarnya. Karena dia, dianggap sebagai pemimpin walaupun dia tidak menyadarinya.

1. Siap

Lelaki pemimpin tidak akan mengerti sebuah tanggung jawab sampai merasakan "siap". Siap ini adalah kondisi dimana menerima resiko, menerima hujatan dan tidak menyalahkan keadaan. Tidak akan lari dari apa yang diperbuatnya walaupun secara sadar merasakan ketakutan. Tapi karena itu merupakan keputusan dari tangan sendiri, lebih baik berdiri buat menerima daripada lari untuk menghindar. Karena pada saat menerima, pada saat itu juga kami belajar.

2. Aku tidak minta dihargai, sampai aku menghargai kamu terlebih dahulu.

Dalam melakukan tindakan Lelaki pemimpin itu lebih mengutamakan contoh daripada ucapan. Setelah mereka melakukan sesuatu yang dapat dicontoh, baru mereka dapat melakukan ucapan. Mereka sadar bahwa tindakan itu adalah nilai nyata yang tidak dapat dibandingkan dengan seribu ucapan. Dalam bergaul mereka menghargai lingkungannya dan secara tidak langsung lingkungannya akan menghargai mereka.

3. Maafkan aku, aku salah

Intropeksi diri adalah hal yang tidak akan lepas dari sifat lelaki pemimpin. Tujuan intropeksi diri adalah agar berhati-hati dalam mengambil keputusan, belajar dari kesalahan, dan yang terpenting adalah membentuk mental. Keadaan bukanlah sesuatu untuk disalahkan, melainkan lebih mengenal diri sendiri dan belajar.

4. Senyum ku untuk kawan – kawan ku.

Melihat orang – orang disekitar bisa mendapatkan manfaat dari kehadiran kami, itu sudah lebih dari cukup dibandingkan dengan pujian. Lelaki pemimpin membawa manfaat kepada lingkungannya dan berusaha menjauhkan pengaruh buruk, tanpa mengharapkan balasan. Karena mereka mengerti keadaan orang yang menganggap aku pemimpin merupakan tanggung jawabku sedangkan diriku merupakan tanggung jawab atas pilihanku.

5. Kamu lebih unggul

Advertisement

Yaah, ada beberapa hal yang tidak bisa dilakukan sebagai lelaki pemimpin. Kami masih perlu untuk belajar dan terus belajar. Ada momen di saat pemimpin tidak bisa menghadapi tekanan yang bener benar berat. Oleh karena itu mereka membutuhkan kehadiran seseorang yang dapat menenangkan hatinya. Disaat seperti itu lah orang yang dapat menenangkan hatinya, mereka lebih unggul dibandingkan kami. Dan kami sangat menghargainya.

6. Melihat Wanita.

Kami mengerti bahwa wanita mempunyai kelebihan kelebihan dibandingkan dengan para lelaki. Kami tidak merendahkan kalian, kami tahu bahwa menghargai, menjaga dalam segala aspek dan lembut kepada kalian adalah cara kami menjaga kalian. Agar kalian mengerti betapa berharganya wanita di mata lelaki pemimpin.

7. Keputusan bukan untuk menunjukkan betapa kuatnya aku, tetapi merupakan betapa beratnya aku menanggung.

Ketika mengambil keputusan, pemimpin harus bertanggung jawab atas apa yang ditentukannya. Kami tidak mengambil keputusan sepihak tetapi yang kami putuskan adalah masukan dan pendapat dari lingkungan sekitar kemudian kami menentukan keputusan yang siap kami jalani. Bukan untuk memenuhi urusan kami.

8. Setiap yang diucapkan sama kuatnya dengan usaha atau tindakan yang dilakukan.

Ucapan adalah hal yang sakral dalam pikiran kami, karena kami mengerti ucapan itu akan dituntut oleh yang mendengarnya. Kami lebih senang mengucapkan kata kata yang dapat kami lakukan daripada ucapan yang hanya angan – angan semata.

9. Aku harus lebih dahulu merasakan agar aku dapat mengarahkan.

Yang dicari untuk menentukan pilihan, seorang pemimpin sangat haus akan pengalaman. Bagi kami saat mencari pengalaman kami benar benar merasakan belajar. Belajar seperti ini lebih membentuk kami, pengalaman ini akan kami bagi, hasil dari pengalaman ini akan kami buat untuk menjaga lingkungan kami. Dan ini yang kami cari.

10. Akhirnya kami mengetahui bahwa kami lemah.

Kami tidak sekuat apa yang kalian lihat, kami selalu membuka mata untuk belajar dan tidak merendahkan orang lain. Kami belajar dari setiap orang, kaya atau miskin, seorang pejabat atau gembel, seorang berpendidikan dan tidak berpendidikan, seorang penjahat atau orang alim dan semua macam macam orang.

Kami belajar dari lingkungan ataupun keadaan. Sampai akhirnya kami mengetahui bahwa kami lemah dan terus belajar. Di satu sisi, kami mendengar bahwa "kami lebih kuat daripada apa yang kami lihat". Dan masih banyak proses untuk mendapatkan sang "Pemimpin".