Bolehkan aku berharap padamu. Yah namanya kehidupan pasti akan ada kerikil, bahkan batu yang akan menghadang. Tinggal kita bagaimana menghadapinya. Untukmu yang kuperjuangkan. 3 tahun, Tak terasa ku mengenalmu lebih dalam. Yah selama itu kita bersama. Tawa, luka kita selalu bersama. Bahkan kita telah menatap masa depan bersama,kita berangan berdua menempuh hubungan yang lebih sakral. Menikah itu mimpi kita. Itu dulu. Namun sekarang kau entah bagaimana berubah.

Aku mencoba bertahan, aku menahan perih atas sikapmu. Seakan semua yang kita mimpikan dahulu tiada artinya bagimu. Disini aku masih sama masih menjaga perasaan yang sama, bertahan menopang sendiri mimpi-mimpi yang kita bangun bersama, berharap kelak kau kan mengerti dan berubah kembali.

Memang kuakui, selama ini belum mampu menjadi seseorang yang dapat kau banggakan. Aku hanya seorang cowok bermodal dengkul yang terus berharap padamu. Aku sadar siapa diriku, derajat kita berbeda,kau jauh berada diatasku. Namun kau dulu pernah merangkai angan bersamaku apakau melupakan semuanya? Ingatlah, keluarga kita masing-masing telah memberikan sinyal-sinyal positif atas hubungan kita. Mereka saling berharap pada kita.

Disini kumencoba meningkatkan kualitas diriku. Entah itu dari segi keimananku tanggung jawabku bahkan materiku. Kau tahu kenapa? Itu semua kulakukan agar mampu mewujudkan angan kita. Yah walaupun ku berjuang sendiri, entah nanti kau mau atau tidak menggenggam tanganku lagi, untuk wujudkan mimpi kita dulu. Yang jelas aku akan tetap berusaha mewujudkannya walaupun ku harus berjalan sendiri.

Walau perih,sakit, aku akan coba tegar. Aku masih berusaha untuk wujudkan mimpi-mimpi itu. Entah sampai kapan aku mampu bertahan menopang ini sendiri. Yang jelas ,ketika ada janur kuning dirumahmu entah itu kau berjodoh denganku entah berjodoh dengan orang lain, disaat itu ku akan berhenti berjuang sendiri.. Antara ku akan membangun mimpi yang lebih besar denganmu atau bahkan kuhancurkan mimpi itu.