Masih teringat jelas di benakku, senja dimana kau memutuskan untuk mengakhiri kisah kita. ''aku tidak lagi mencintaimu seperti pertama kali aku bertemu denganmu''. Hanya itu alasan yang kau berikan kepadaku. Bahkan permintaanku agar kau memikirkan ulang keputusanmu itu tak kau hiraukan. Kau memintaku untuk mengerti dan tak lagi menganggu hidupmu. Apakah menurutmu waktu dua tahun hubungan kita, aku hanyalah sebagai penganggu ketenangan hidupmu? Aah, aku juga masih ingat, kau mengucapkan itu bahkan tanpa mengucapkan kata maaf. Lalu kau secepat kilat pergi, meninggalkan aku di keremangan senja yang sinar jingga mentari yang biasanya aku suka, kali ini tak bisa membuatku bahagia.

Andai saja kau mengerti rasa sakit itu.

Kau bahkan tidak tau, malam malam setelah kepergianmu, aku menangis sendirian. Rasanya begitu sulit untuk melupakan tentang dirimu, bahkan ketika kau dengan kejamnya menikam hatiku. Baaimana mungkin aku melupakanmu, ketika semua hal yang aku dengar dan aku cium mengingatkan aku padamu? Rasanaya begitu gila ketika mendengar lagu yang biasanya kita nyanyikan bersama dengan diiringi petikan gitarmu dan bau parfum seseorang yang baunya seperti parfummu. Juga betapa sulitnya aku untuk tetap tersenyum dan berusaha menahan air mata ketika teman-temanku bertanya, mengapa aku tak lagi denganmu.

Juga masih jelas di benakku ingatan ketika aku Pernah mencoba menghubungimu untuk menanyakan mengapa dengan tega kau meninggalkanku, hanya untuk mendengar jawaban menyakitkan,''kalau aku dulu bisa memulai dengan kata aku cinta kamu, mengapa sekarang aku tidak bisa meninggalkanmu dengan kata aku tidak mencintaimu lagi?''

Mungkin bagimu, cinta adalah sesuatu yang bisa expired, yang tak bisa lagi dikonsumsi ketika sudah habis masanya. Ah kau takkan mengerti betapa gilanya aku untuk berusaha melupakanmu.

Advertisement

Tak bisakah kau mengingat kembali perjuanganmu untuk mendapatkan cintaku? Dulu kau rela dating ke rumah ku ketika aku sakit di saat hujan sedang deras-derasnya. Perhatianmu dulu yang meluluhkan hatiku dan memantapkan hatiku untuk menerimamu. Atau jika itu tak juga bisa merubah keputusanmu, bagaimana jika kau mengingat pengorbananku untuk tetap bersamamu? Mati-matian aku meyakinkan orangtuaku,bahwa kaulah pilihan yang paling tepat untukku. Lalu setelah orang tuaku bisa menerima hubungan kita, kau malah pergi meninggalkan aku dengan teganya. Terlalu sadis caramu.

Kini, setelah aku bisa melupakan semuanya dan mencoba memulai hubungan baru, yang kau pasti tentu tau betapa tak mudahnya aku menerima cinta yang baru, kau datang lagi dan menawarkan kisah kita yg dulu terpaksa harus terhenti karena dirimu. Beribu maaf kau ucapkan padaku, begitu banyak rencana indah tentang masa depan yang kau berikan padaku. Maaf, tapi aku belajar dari kisah dulu, tak akan aku korbankan hati yang aku punya untuk seseorang yang bahkan tak pernah menghargainya.

‘’Aku akui dulu akulah yang paling bersalah, tapi tak bisakah kau memaafkan dan menerimaku lagi?". ‘’Tuhan saja Maha memaafkan, masa kamu gak bisa? Tak bisakah kau berikan aku kesempatan kedua?’’, dengan tenangnya kamu melontarkan pertanyaan itu kepadaku. Satu hal yang mungkin kamu lupa, memaafkan dan menerima adalah dua hal yang berbeda! Untuk soal memaafkan, bahkan ketika kau tanpa kata maafmu itu pergi meninggalkan aku sendirian di senja itu, aku sudah memaafkanmu. Aku bukan orang yang kuat, tapi aku tahu menyimpan dendam hanya akan merusak diriku sendiri. Tapi, maaf, untuk soal menerima, aku takkan pernah bisa lagi. Luka kau yang buat terlalu pedih untuk diobati.

Dulu, kau bahkan pergi ketika aku sedang dengan asyiknya merajut rencana masa depanku bersamamu. Mungkin terdengar lucu, tapi aku sudah merancang bagaimana bentuk rumah masa depan kita, dan berapa jumlah anak-anak kita kelak.

Kini, aku juga akan merancang rumah masa depan, tapi tidak lagi dengan dirimu. kini jalan kita sudah berbeda, carilah seseorang yang dengannya cintamu tak pernah expired dan pudar. Carilah. Jangan pernah lagi menoleh padaku, karena beribu kalipun kau meminta, jawabanku akan tetap sama, aku tak ingin lagi berjuang denganmu. maaf, aku sudah terlalu lelah untuk kau cintai lalu ditinggal pergi lagi olehmu.