Maaf, mungkin aku bukan teman yang menggembirakanmu. Yang bisa pergi ke manapun, kapanpun, dan selama apapun bersamamu. Tak mengapa bagiku jika kamu ingin menjauhiku. Karena aku lebih menghargai ayah sebagai orang tuaku.

Itulah yang kukatakan saat aku melihat teman-temanku dengan gembiranya berkumpul bersama di sebuah tempat makan, di tengah keramaian.

Aku hanya seorang gadis yang baru saja beranjak dewasa. Aku adalah anak kelima dari lima bersaudara. Kalau orang bilang adalah anak bungsu. Katanya anak bungsu itu manja dan sangat disayangi oleh orang tuanya. Padahal semua orang tua itu pasti menyayangi anaknya. Tak ada yang bisa mengalahkan kasih sayang seorang ibu dan ayah.

Aku tumbuh menjadi seorang gadis 21 tahun di mana 10 tahun dari usiaku dilalui tanpa seorang ibu. Ternyata Tuhan lebih menyayangi ibu daripada aku, ayah, dan juga kakak. Sejak kepergiannya, tentu ayah menjadi lebih protektif terhadap diriku yang waktu itu baru berusia 11 tahun, yang harus memulai hidup baru tanpa seorang ibu. Kini aku adalah seorang mahasiswi keperawatan tingkat akhir, di sebuah Politeknik Kesehatan yang ada di Jakarta.

Apapun dalam keseharianku, selain dari soal finansial, ayah selalu mengajariku untuk selalu mandiri. Ayah selalu mengajariku untuk melakukan hal-hal yang lebih penting untuk kesenangan di masa depan dibandingkan kesenangan yang sesaat. Ayah tidak pernah melarangku untuk pergi ke manapun, dengan syarat itu penting dalam hal pendidikan dan kedaruratan.

Advertisement

Bagaimana dengan jalan-jalan atau berkumpul dengan teman-teman sekedar melepaskan kejenuhan setelah bergelut dengan tugas-tugas yang ada di kampus? Hmmm… Ayah selalu ragu untuk memberikan izin itu padaku.

Ayah selalu bilang, ”Melepaskan kejenuhan bukan berarti kamu bisa pergi ke manapun dengan teman-teman di luar, dengan uang yang orang tua berikan untukmu, dan kamu gunakan uang itu untuk bersenang-senang. Tidakkah kamu berpikir ayahmu bekerja siang dan malam? Agar kamu bisa sekolah, kuliah, menggapai cita-citamu, dan hidup enak tanpa harus banyak mengeluarkan keringat seperti ayah?”

Aku hanya bisa terdiam, menyesali keinginanku untuk bisa bersenang-senang dengan teman-teman di luar sana. “Tapi salahkah jika aku mencobanya sekali saja?” Itu yang terlintas saat ayah terus menasihatiku.

“Kamu adalah seorang perempuan dari keluarga yang biasa saja. Hiduplah sesederhana yang kita punya. Biarkan yang lain bisa pergi ke mall, foodcourt, tempat makan yang mewah, pergi dan pulang kapanpun mereka mau, bahkan sampai larut malam. Apa yang akan orang pikirkan jikan melihatmu pulang larut malam? Walau kamu tidak melakukan hal yang menyimpang, tapi sesuatu yang berlebihan itu bisa menimbulkan fitnah walau Tuhan lebih tahu yang kamu lakukan."

"Kamu cukup belajar dengan rajin dan sungguh-sungguh, dengan diiringi ketaatan pada Tuhan yang telah menciptakanmu. Yang selalu memberikanmu kesempatan untuk melanjutkan hidupmu hingga saat ini. Yang selalu memberikan kesempatan untuk menggapai yang kamu inginkan. Bukan tak boleh bersenang-senang, tapi untuk apa kamu bersenang-senang jika kamu masih menggunakan uang dari orang tuamu?"

"Ayah bukan bermaksud untuk memperhitungkan, tapi ayah ingin kamu lebih menghargai hidup ini. Jika kamu merasa jenuh dan lelah dengan kuliahmu, ceritakanlah pada ayah. Jika kamu merasa tidak mungkin, gunakanlah uangmu itu untuk berbagi dengan mereka yang lebih membutuhkan. Karena di luar sana masih banyak yang lebih jenuh dan lelah dari apa yang kamu rasakan. Di luar sana masih banyak yang lebih membutuhkan kesenangan dari kesulitan hidup."

"Jika kamu berbagi apa yang kamu miliki dengan mereka, maka kebahagiaan itu akan jauh lebih bermakna. Jika kelak kamu sudah bekerja, kamu bisa belikan apapun yang kamu inginkan. Kamu bisa gunakan uangmu untuk memenuhi kesenangan pribadimu. Namun jangan sampai kamu lupa untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan. Ayah menyayangimu, sangat menyayangimu."

"Ayah hanya ingin anak ayah tumbuh menjadi dewasa namun tidak menyimpang dari apa yang seharusnya. Jika kamu merasa temanmu menjauhimu karena kamu selalu tak bisa seperti mereka, sering tak bisa jalan-jalan, atau berkumpul di sebuah tempat makan yang mewah yang harus mengeluarkan uang lebih dari uang jajan yang ayah berikan untukmu, biarkanlah."

"Tak perlu takut kehilangan seorang teman. Kamu punya Tuhan yang tak pernah tidur. Jika dihubungkan dengan silaturahmi, ia tak selalu harus berkumpul dan bersenang-senang seperti itu.”

Ya Tuhan, aku hanya bisa termenung. Maafkan anakmu ini ayah, yang kurang menghargai kerja kerasmu untuk menghidupi dan menyekolahkanku. Aku lebih mementingkan teman-teman daripada rasa lelah ayah dan kerja keras ayah bekerja untuk masa depanku. Aku lebih takut kehilangan mereka daripada mementingkan perasaan ayah. Maafkan anakmu ini, yah.

Aku berjanji akan lebih menghargai ayah dan hidup ini.