Kalau kamu mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, celutakan ini udah nggak asing lagi buat kamu.

“Lo mau ambil jurusan bahasa Indonesia? Belom lancar ya bahasa Indonesianya? Hahaha. .”

“Lo mau jadi guru bahasa Indonesia? Hellow plis deh, murid-murid lo udah pada pinter keles bahasa Indonesianya.”

Jangan berkecil hati, itu karena mereka belum tahu apa saja yang dapat dilakukan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Ok, let’s check it out!

Advertisement

1. Bidang studi yang kamu geluti menempati kriteria tes potensi akademik yang dikhususkan, bersama dengan bahasa Inggris.

Dalam tes akademik calon polisi, bidang studi bahasa Indonesia setara dengan bahasa Inggris. Bahasa Indonesia seratus soal, bahasa Inggris seratus soal, sedangkan pengetahuan umum seratus soal (mencakup matematika, kimia, fisika, biologi, ekonomi, geografi, sosiologi, sejarah). Kebayang dong betapa tidak kalah pentingnya seratus soal bahasa Indonesia yang harus dikerjakan oleh para Catar. Kalau kamu mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, nggak ada salahnya ambil kerja part time di bimbingan dan pelatihan untuk ikatan dinas karena kehadiranmu di sini sangat dibutuhkan, dinantikan, dan diharapkan untuk berbagi ilmumu kepada para calon anak Akpol, Catar Tamtama, Brigpol, dan sejenisnya.

2. Tentor idaman para Catar Tamtama, Brigpol, Akpol, dan sejenisnya di bimbingan dan pelatihan untuk ikatan dinas.

Di bimbingan belajar dan pelatihan untuk ikatan dinas, kamu akan menemukan kelas di mana muridnya 90% laki-laki dan sisanya perempuan yang bisa dihitung dengan jari. Kamu anak bahasa yang terbiasa bermain dengan kata-kata so pasti bisa mengimbangi candaan mereka di sela-sela waktu belajar agar suasananya nggak garing. Apalagi yang mayoritas muridnya adalah laki-laki, murid laki-laki kalau belajar tanpa diselingi candaan rasanya belum lengkap. Kamu tidak pernah kehabisan akal untuk berkomunikasi dengan mereka sehingga terjalin interaksi yang asik dan menyenangkan. Selalu berhasil membuat mereka gagal suntuk, apalagi kalau tentornya cantik bisa-bisa membuat mereka gagal fokus.

3. Kamu terbiasa bermain dengan kata-kata, berikan mereka kata-kata penyemangat untuk membuat mereka senang dan semakin semangat belajar, tidak ada salahnya kan?

Membuat kata-kata yang indah bukanlah hal yang sulit bagi anak bahasa dan sastra karena sudah menjadi makanan sehari-hari dalam mata kuliah sastra. Menerapkan seni dalam berbahasa sudah menjadi bagian pelengkap hidupnya. Saat melakukan tes evaluasi, anak bahasa tak dapat menahan tangannya yang sudah gatel untuk menuliskan kata-kata motivasi di halaman terakhir lembar evaluasi mereka. What a so sweet of that!

4. Usiamu yang dapat dikatakan “sepantaran” dengan murid-muridmu, membuat mereka diam-diam mengagumimu.

Meskipun sebagian besar bimbingan belajar memberikan persyaratan sebagai tentor adalah minimal mahasiswa semester 6, ternyata ada lho bimbingan belajar dan pelatihan untuk ikatan dinas yang menerima tentornya masih mahasiswa semester 3 dan sudah tidak diragukan lagi keprofesionalannya. Semester 3 itu kira-kira masih 19 tahun. Murid-murid yang kamu ajar ada yang masih di bangku SMA/sederajat, ada pula yang sudah lulus sekolah (di luar jam bimbel sebagian dari mereka mengisi waktunya untuk kuliah sambil menunggu pendaftaran tes polisi dibuka *wah sama-sama anak kuliahan nih), dapat disimpulkan usia murid-muridmu sekitar 16-21 tahun. Murid-muridmu yang usianya di atasmu diam-diam mengagumimu karena mau tidak mau murid-muridmu yang harus belajar darimu ketika kegiatan belajar berlangsung meskipun usia mereka di atasmu.