Kota Malang. Bagi banyak orang, Kota Malang merupakan destinasi berbagai wisata. Tetapi bagi saya, ke Kota Malang ialah untuk melepas rindu. Rindu akan orangtua, saudara, teman dan semuanya yang ada di Malang dan harus ditahan sampai ada hari libur panjang.

Perjalanan Jakarta – Malang bisa ditempuh dengan berbagai cara. Untuk yang ingin praktis, mempunyai dana berlebih, dan waktu tempuh perjalanan yang singkat bisa mempergunakan moda transportasi pesawat terbang. Malang mempunyai bandara yang melayani rute Jakarta – Malang. Untuk yang mendadak bisa menggunakan moda transportasi bus. Sedangkan saya, menggunakan transportasi kereta api.

Berangkat di hari Jumat dari Stasiun Pasar Senen pukul 17.30 WIB dan jadwal tiba di Stasiun Kota Baru Malang di hari Sabtu pukul 09.55 WIB. Tetapi saya memilih turun di Stasiun Kediri dan melanjutkan perjalanan dengan bus jurusan Kediri – Malang dengan alasan pukul 10.00 WIB saya sudah berada di rumah sehingga lebih hemat waktu.

Hal yang pertama saya lakukan di rumah ialah ngobrol dengan orangtua. Mendengar curhat mereka tentang saudara-saudara yang lain, bertanya tentang perubahan-perubahan apa saja yang terjadi sampai sejauh ini. Kedua, menuju tempat bakso bakar di salah satu sudut di Kota Batu. Makan dengan lahap sambil menikmati semilir angin sepoi-sepoi di pinggir sawah. Selanjutnya safari ke rumah saudara-saudara yang dari ujung Malang ke ujung Malang yang lain. Mendengar cerita, icip-icip kue buatan saudara, terakhir yang pasti dan harus adalah bagi-bagi angpau untuk ponakan-ponakan yang kecil-kecil.

Hari kedua di pagi hari aktivitas yang dilakukan ialah menuju nasi pecel langganan keluarga. Yang jualan sudah sepuh (tua) dan antrinya panjang sekali, tetapi karena enak rasanya dan terjangkau, dibetah-betahin mengantri. Kala matahari mulai meninggi saya bersama seorang rekan meluncur ke Kampung Triji, sebuah destinasi baru di Kota Malang yang terletak di daerah Jodipan, dekat dengan Stasiun Kota Baru. Sebuah destinasi wisata yang awalnya merupakan kampung kumuh, oleh beberapa orang kreatif disulap menjadi penuh warna dan penuh gambar, sehingga menarik orang untuk mengabadikan dalam bentuk gambar dan membagikan di media sosial. Dan saya juga ikut melakukannya he he.

Advertisement

Puas foto-foto di Kampung Triji, saya meluncur ke arah Comboran, menikmati jajanan cenil yang dijual oleh mbah-mbah dengan rasa yang masih selalu sama setiap saya makan. Puas makan cenil, saya melanjutkan makan tahu campur yang tidak jauh dari penjual cenil, sebuah hidangan yang tidak pernah berbohong dan mengecewakan akan sebuah kerinduan makanan di Malang

Hari ketiga sekaligus hari terakhir saya di Malang, pagi hari saya dan beberapa keponakan menuju ke alun-alun Kota Batu, bermain sebentar sambil mencari jajanan cilok langganan saya. Puas makan cilok, saya melanjutkan mencari oleh-oleh untuk teman-teman kantor. Bukan di pusat oleh-oleh, melainkan masuk kampung-kampung untuk langsung ke produsennya, lumayanlah bisa irit lima ribu per bungkusnya.

Selanjutnya persiapan menuju stasiun. Perjalanan dari rumah menuju stasiun kurang lebih satu jam dan diantar oleh kedua orangtua dan beberapa ponakan. Selama di perjalanan, tak henti-hentinya kedua orangtua memberi wejangan akan bagaimana saya menjalani hidup di Jakarta. Pukul 11.45 kereta saya berangkat menuju Jakarta dan saya siap mencari sesuap nasi lagi dan mulai mengumpulkan rindu.