Dulu, kita mungkin berbeda dari anak-anak remaja yang lain. Ketika segala hal tampak begitu indah dengan kebersamaan, kita lebih memilih mengurung diri dengan kesibukan masing-masing.

Menjalani apapun, yang kau bilang demi masa depan. Pada akhir pekan, mereka sibuk membuat daftar jalan-jalan. Sedangkan kita memilih berdiam diri untuk sekedar saling menyapa lewat udara dan pesan. Kamu mungkin masih ingat, bagaimana tak pernah alpanya kita untuk saling bertukar pesan. Bagaimana seringnya kita mengucap rindu dan sangat ingin cepat-cepat bertemu.

Kamu bilang, tak masalah dengan jarak yang membentang sedemikian lebar. Kamu bilang, tak apa kalau nanti aku tak selalu ada. Kamu selalu menjelaskan semua akan baik-baik saja. Kamu selalu meyakinkan kalau kita pasti bisa.

Kamu selalu bilang kalau everything's gonna be OK. Kamu terlihat sangat yakin dengan segala hal yang dikatakan. Sederet janji pernah kita buat bersama. Tentang apa yang kelak akan kita lakukan saat bertemu lagi dan tempat apa saja yang akan dikunjungi nanti.

Aku masih hapal sekali, bagaimana wajah sendumu di akhir pertemuan kita. Kamu selalu berjanji untuk saling bertemu lagi.

Advertisement

Bagiku tak ada kabar yang lebih bahagia, selain kepulanganmu ke kotaku. Ada rasa senang yang membuncah setiap pertama kali melihat senyummu lagi setelah sekian bulan lamanya. Terlampau bahagianya, aku lupa bahwa kebersamaan seperti ini hanya sementara. Sampai tiba saatnya, kamu harus kembali ke kotamu dengan segera. Aku bukan main sedihnya. Kamu selalu bilang, "Never mind, babe! Besok kita ketemu lagi."

Kelak nanti, mungkin ada salah satu di antara kita yang lelah dan memilih pergi.

Aku tahu sejak lama, bahwa tak mudah untuk menjalani hubungan seperti ini. Kelak nanti, mungkin ada salah satu di antara kita yang lelah dan memilih pergi. Aku paham mungkin ini tak akan berrtahan lama. Aku selalu ingat bahwa cinta pun memiliki masa kadaluarsa.

Akhirnya jarak telah benar-benar menjauhkan kita, kemudian hati kita.

Hal yang aku takutkan benar-benar terjadi. Kamu mulai lelah dengan segala hal yang sudah kita usahakan. Kamu semakin kehilangan kata-kata ketika aku tak lagi percaya. Keengganan kita untuk saling menjelaskan, menjadi alasan harus menyudahi semuanya. Waktu itu, aku mungkin sedikit merasa kehilangan pijakan di bumi. Dan lewat waktu yang semakin tak terbilang ini, aku belajar untuk paham kenapa manusia cepat sekali berubah pikiran.

Kamu bilang segala hal untuk meyakinkan. Kamu juga yang bilang ini tak bisa dipertahankan.

Kita sama-sama tahu seberapa inginnya kamu untuk mempertahankan. Kita sama-sama melihat bagaimana sedihnya kamu setiap kali perpisahan. Tapi kamu juga yang kemudian menyerah dan merasa enggan untuk tetap tinggal. Kamu yang dari awal bilang untuk saling bertemu lagi. Kamu pula yang kemudian bilang untuk tak pernah saling bertemu lagi.

Karena kita manusia, tak segala yang kita pikirkan saat itu adalah keputusan pada hari ini.

Semenjak hari itu, aku terus bertanya pada diri sendiri. Mengapa seseorang bisa begitu mudah mengubah keputusannya? Mengapa manusia tak bisa berpikir sama seperti dari awal saja? Jawabannya tentu saja karena kita manusia! Kemudian sampai saatnya tiba, aku mulai akan setuju saja. Memang benar, lebih baik kita begini saja. Mari kita buat janji baru lagi: untuk jangan pernah saling bertemu lagi!