Mari Berteman, Mari Menorehkan Seribu Kisah

Pernahkah kita berpikir akan berteman dengan siapa? Atau pernahkah kita berekspektasi ciri atau karakter teman, sebelum kita bertemu dengan mereka? Banyak pertanyaan yang muncul jika kita menelusuri kembali hubungan pertemanan yang kita jalin sekarang ini atau pun dimasa yang akan datang. Pertanyaan-pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh waktu. Jadi mari kita nikmati kembali ingatan dan pemahaman kita akan pertemanan yang kita jalani.

Berteman hanya sesederhana bertemu, jalani, dan nikmati

Pertemanan yang kita jalin sekarang tidak selalu seperti yang kita ekspektasikan sebelumnya. Mungkin kita pernah berpikir untuk berteman dengan orang-orang yang memiliki citra yang baik di depan orang lain, misalnya anak BEM, anak UKM, dan aktivis kampus lainnya yang menghabiskan banyak waktu dari pagi-malam di kampus. Kita mungkin pernah terpikir untuk memiliki teman seperti ini untuk mendongkrak citra kita di depan orang lain. Akan tetapi, sesudah bertahun-tahun bertemu dan berteman dengan teman yang sekarang, kita menyadari bahwa berteman tidak butuh kriteria yang kompleks karena berteman bukan seperti oprec organisasi yang mengaruskan kriteria tertentu. Kita hanya butuh bertemu, berjalan bersama, dan menikmati kisah bersama.

Kadang pertemanan itu seperti menghadapi sebuah pergumulan, banyak hal yang membuat kita ingin pergi, tetapi selalu ada cinta yang menjaga untuk tetap bertahan.

Advertisement

Pertemanan itu pergumulan? Iya, benar sekali. Berteman tidak berarti selalu bisa melangkah bersama dan tertawa bersama dengan mudah karena setiap pribadi teman memiliki pergumulan masing-masing. Pergumulan itu kemudian berkumpul dalam sebuah ikatan pertemanan, jadi wajar jika dalam berteman banyak tantangan menyerang. Back ground keluarga yang berbeda bisa menghasilkan pemahaman dan persepsi yang berbeda juga dalam berteman. Misalnya saja, dikeluarga si A, mengucapkan sebuah kalimat konyol terhadap sesama tidaklah dilarang bahkan dianggap lucu, sedangkan di keluarga B kalimat tersebut dilarang karena dianggap dapat menyakiti sesama. Dalam hal ini, kalimat tersebut menyebabkan adanya benturan diantara teman. Pilihannya hanya ada dua, bertahan dan mencoba menjelaskan diskomunikasi itu atau pergi dan merasa sakit hati. Pilihan ini tetap kembali pada si pelaku. Akan tetapi, kamu yang mencoba untuk pergi ke komunitas baru, percayalah pasti ada hal yang dirindukan dengan temanmu sebelumnya yang tidak ditemukan di tempat baru. Hal yang dirindukan ini adalah benih cinta yang menjaga kita untuk tetap bertahan. Terkadang memang, bertahan tidak selalu bisa menjadi pilihan yang tepat untuk dijalani karena teman yang kita beritahu akan diskomunikasi yang terjadi, tidak selalu bisa memahami kita. Intinya, kita hanya butuh bertahan, tersenyum, dan biarkan waktu memahamkan temanmu itu.

Berteman membuat kita mengenal lawan jenis kita dengan baik.

Hal ini berlaku pada pertemanan antara laki-laki dan perempuan. Mengapa berteman membuat kita kenal baik dengan lawan jenis kita? Dengan berteman dengan lawan jenis kamu akan belajar untuk mengenal pria atau wanita seperti apa yang patut menjadi pendamping hidupmu di masa depan. Bagaimana bisa? Sederhananya, kamu dapat mengetahuinya melalui pengamatan langsung. Contoh paling mudahnya adalah, jika kamu berbincang dengan teman lawan jenismu coba identifikasi dengan pria atau wanita seperti apa yang kamu rasa dapat menjadi lawan bicara yang baik untukmu? Karena tidak semua teman lawan jenis kita dapat menjadi lawan bicara yang sepadan bagi kita. Dengan perbandingan ini kamu akan mengetaui kelak lelaki atau wanita seperti apa yang kamu butuhkan sebagai pendamping hidup. Selain itu, deteksi lawan jenis melalui teman dapat diketahui melalui kisah yang dituturkan teman-temanmu terkait dunia pria atau wanita yang sebenarnya.

Berteman sama halnya dengan membuka link masa depan.

Pernyataan dunia ibarat roda yang terus berputar pasti tidak asing lagi bagi kita. Kita tidak bisa memprediksi hal yang akan terjadi di hari esok dan seperti apa kita dimasa depan. Untuk itu, sudah seharusnya kita menjalin hubungan yang baik dengan teman kita, usahakan berbuat dan berucap penuh kasih dan tidak menyakiti sesama. Kamu tidak selalu tahukan, besok teman-temanmu jadi apa? Mungkin teman yang sekarang tidak masuk dalam nominasi teman keren (terutama prestasi) bisa saja besok menjadi menteri dan kamu membutuhkan legalisasi darinya untuk kebutuhan kerjamu. Jadi tetaplah menanam kebaikan. Apa yang ditabur, itu yang dituai gan, cepat atau lambat.

Berteman: rainbow life

Pernah dengar atau baca pernyataan ini?

Kita bisa mengetahui seseorang itu cantik/tampan karena ada orang lain yang jelek. Kita bisa bilang seseorang pintar karena ada orang lain yang bodoh.

Pernyataan-pernyataan kontradiksi seperti ini masih banyak lagi. Akan tetapi, sesudah kamu menganalisisnya, kesimpulan apa yang kamu dapat?Ternyata mereka yang jelek, kurang pintar, kurang tinggi, dan kurang lainnya adalah pahlawan untuk mereka yang cantik, pintar dan lebih lainnya. Jadi sebenarnya, mereka yang memiliki kelebihan harusnya berterimakasih kepada yang kurang karena kehadiran merekalah, menjadi kalangan yang lebih dihargai.

Hal ini terjadi juga dalam pertemanan yang menambah warna. Dalam berteman, pasti ada satu atau beberapa anggota yang berprestasi secara akademis, ada teman gamers, teman kutu buku, dan lain-lain. Akan tetapi, hal ini tidak menjadi penyebab seorang akan yang lain mendiskreditkan atau mengangap kecil teman lainnya. Hal ini bisa menjadi referensi pengetahuan tentang minat yang berbeda.

Pertemanan: ruang curhat gratis

Kebiasaan rutin yang dilakukan ketika berkumpul bersama teman adalah berbagi cerita baru, tentang perkembangan akademis, keluarga, teman baru, komunitas baru, pacar, mantan, dan lain-lain. Seringkali juga kisah ini melebar hingga menjadi forum curhat dan tidak jarang kita mendapat solusi akan masalah kita melalui teman-teman kita. Jadi, tidak ada salahnya jika berteman sebaik-baiknya dan menikmati prosesnya penuh bahagia.

Beberapa point ini memang tidak selalu bisa menjadi perbendaharaan dalam dunia berteman, namun setidaknya dapat menambah warna pertemanan kita, minimal dapat menjalin pertemanan tanpa berpikir kompleks, sesimpel bertemu, jalani, dan nikmati. Biarkan waktu yang menjawab jadi apa dan seperti apa kita besok.