Bahwa jatuh cinta itu memang membingungkan. Seindah apa pun kita merangkai kata untuk menggambarkannya, ternyata tak seindah yang kita rasakan. Sekompleks apapun deskripsi perasaan yang dinarasikan, tetap saja tidak bisa mewakili ruwetnya isi hati.

Kata-kata di atas kukutip dari pemikiran yang lain.

Ya, jatuh cinta memang membingungkan. Bahkan saat pertama merasakan hadirnya sebuah perasaan, kita menjadi lebih peka dari biasanya. Ingin menjadi lebih. Mengagungkan. Memujinya setiap saat. Lalu, ketika cinta jatuh, kita pun menjadi bingung. Merasa tak percaya. Merasa tersakiti. Menumbuhkan benci hingga rasa-rasa yang tidak baik bagi hati.

Menurutku, "Cinta adalah ketetapan-Nya." Hadir dan perginya dapat dinetralisir kembali. Tidak harus menyakiti hati lagi. Tidak perlu mendoakan hadirnya karma. Bagaimana mungkin kamu berharap karma untuk dia yang pernah kamu harapkan bahagianya? Saya, kamu bahkan mereka. Kita sama-sama (pernah) mendapati rasa yang sama. Tapi, seperih apapun luka, saya tidak akan pernah mengganti doa kebaikan dengan keburukan untuknya. Perpisahannya. Hanyalah kedatangan yang tertunda.

Sebentar lagi sampai. Untuk hati yang merasa dilukai lagi dan dilukai. Please, jangan berpikir kamu lagi kamu lagi. Tapi berprasangka baiklah bahwa kamu yang dipilih sebab kamu mampu kembali. Sebab ketika jatuh cinta, hati memanipulasi semua indra. Setidaknya setelah cinta jatuh, kamu harus menahkodainya kembali bahagia. Hati bisa dikondisikan. Daripada memilih jatuh cinta, saya lebih memilih menumbuhkan cinta. Padamu. Iya, padamu. Nanti. Pasti. Sesuai ketetapan Ilahi. .