Kita tidak pernah tahu mana yang benar-benar teman dan mana yang musuh. Nah, terkadang kita punya perasaan seperti ini bukan? Perasaan bimbang dan ragu terhadap apa-apa yang terjadi di sekitar. Jika tengah berpikir jernih saat membaca ini, ada baiknya menyeimbangkan pemikiran terhadap seseorang yang tengah menjadi teman atau musuh bagi kita.

Ya! Ingatlah: Dalam hal pertemanan, jangan pernah menaruh kepercayaan penuh sekalipun tetap: Teruslah melakukan kebaikan. Meskipun tak mengapa menganut asas kebermanfaatan, tetaplah harus diiringi dengan harapan ketulusan. Sementara dalam hal permusuhan: Jangan pernah ambil pusing untuk mempedulikan. Di lain waktu seorang musuh bisa menjadi teman bagimu. Ya, begitulah hidup, teman. Tak tertebak! Kita tak pernah benar-benar tahu di waktu genting mana dan siapa yang akan membantu kita.

Karena teman sesungguhnya ternyata adalah seseorang yang kadang dalam keseharian justru tak dekat dengan kita. Ya, begitulah hidup, begitulah ketulusan tak tertebak setiap manusia.

Ketulusan itu Tuhan yang pinta untuk kita beri dalam bersikap sehari-hari kepada siapapun. Sementara ketika ketulusan tak berbalas, maka sakit hati dan kekecewaan yang kan didapat. Pun jika itu terjadi, memang hanya Tuhan yang akan membalas semua rasanya, dengan kebaikan yang sama atau mungkin berlebih dari sesiapapun orang lain yang ternyata justru tulus padamu.

Bukan justru mendoakan yang buruk ya pada mereka. Melainkan meyakini bahwa ada hal-hal baik yang akan kita dapat dari orang-orang lain kepada kita.

Advertisement

Kekecewaan dan sakit hati adalah pil pahit yang harus ditelan setiap manusia dalam kehidupan sosialnya yang tak menguntungkan. Sementara keuntungan adalah kebutuhan setiap manusia. Sayangnya kehidupan selalu berputar, kadang diuntungkan sering pula dirugikan. Simbiosis mutualisme adalah yang seharusnya menjadi prinsip pertemanan untuk setiap kita. Memang ketulusan adalah segalanya, tapi ketika kita dimanfaatkan, ketika kita dikecewakan, ketika kita diasingkan dan tak dianggap? Maka apa yang dapat mengobati lukamu itu? Hanya bisa diam sajakah menerima?

Jangan bodoh begitu, teman. Bahkan keledai saja tidak mau terjatuh dua kali di lubang yang sama. Maka percayalah, teman. Tidak ada yang benar-benar gratis di dunia ini. Tidak ada yang benar-benar teman atau musuh bagimu. Ketika seseorang mengatakan telah memusuhimu, percayalah bahwa sesungguhnya dia kerap memperhatikan kabarmu, dia adalah orang yang paling ingin tahu sedang apa dan sudah bagaimana kamu. Percayalah.

Maka percayalah pula, tidak ada yang benar-benar merupakan teman di dunia ini. Ketika kita berteman maka di suatu waktu bisa saja dia meninggalkanmu, dan sebab kau pun begitu, bukan? Percayalah karena kau baik, maka orang lain pun hanya tengah bersikap sama untuk mengimbaskan sikapmu. Percayalah bahwa ketulusan adalah topeng, meski itu pinta Tuhan untuk dilakukan setiap kita.

Percayalah bahwa simbiosis mutualisme adalah prinsip setiap orang. Percayalah bahwa semuanya dilakukan demi berhenti dimanfaatkan dan dikecewakan, maka kamupun semestinya begitu. Kata orang teman itu diperlukan. Maka kemudian ramailah yang bersosialisasi, bersikap ramah, menjalin silaturahim, melakukan ini dan itu tanpa pamrih, dan lain lain, dan itu adalah kebutuhan manusia.

Mari menjadi diri yang baru dengan pemikiran yang baru tentang keseimbangan menganggap ikatan antar manusia. Agar semuanya damai dan baik-baik saja. Dan sebab manusia membenci masalah, maka mari berhenti membuat masalah. Kamu harus mampu menjadi manusia tangguh setelah ‘cukup’ menghadapi berbagai macam karakter orang di usiamu sampai hari ini. Semoga ada pengganti yag lebih baik setelah semua pengalaman hidupmu dengan siapapun itu mulai hari ini.

Menemukan teman yang ideal memang sulit, namun yang cocok tentu saja berserakan. Dan sampai saat ini semuanya harus terus berlandaskan ketulusan kah? Ah omong kosong.

Teman, mari berteman. Jangan pakai topeng terlalu lama, teman.