Hai, masa laluku!

Sedang apa kamu di sana? Rasa-rasanya hati ini rindu ingin bergelak canda kembali dengan sosok humoris sepertimu. Jika hatiku sedang muram durja, biasanya kelakarmu yang ampuh jadi penawar. Muka masamku lantas sirna menjadi senyum terkembang dan pipi merona bak dipulas.

Tapi tunggu dulu! Rasa rindu ini bukan berarti aku masih menyimpan rasa tentangmu. Aku yakin kalau kamu sudah punya kehidupanmu sendiri. Begitu pun aku. Aku sudah bisa move on dan menjadi insan yang sepenuhnya mandiri tanpa kehadiranmu.

Aku hanya ingin sekedar melepas penat dan bertamasya, kok dengan masa lalu kita yang ada konyolnya.

Masih terkenang masa-masa di mana aku dan kamu kerap menjelajah bersama, sebelum akhirnya kamu memilih menyerah pada keadaan.

Waktu itu, kamu kerap mengajakku pergi ke tempat antah-berantah. Tempat yang sebelumnya tak pernah aku ketahui jika keindahannya nyata di bumi ini. Kamu yang menyajikanku horizon alam yang luar biasa. Kalau sudah begitu, rasa lelah dan penat lepas sudah dan segera minggat. Kita bagai petualang kompak dalam sinema-sinema asal Negeri Paman Sam.

Advertisement

Sayangnya, kamu memilih menyerah pada keadaan. Tidak akan ada lagi kenangan-kenangan semacam itu lagi. Waktu dan keadaan sudah berubah. Begitu pula dengan perasaan yang bisa berganti. Aku dan kamu sudah tak sevisi lagi. Kaki kita tak lagi sepakat berjalan satu tujuan. Kita sepakat mengakhiri tujuan kita secara damai dan bijak.

Secara tidak rela, harus ada luka tertoreh karena perpisahan. Semangat membara barangkali juga sudah tak sudi tiba dan pergi bersama angin.

Meski petualangan kita telah diakhiri dengan baik-baik, aku tak memungkiri kalau memang ada penyesalan di dalam hati. Sedih rasanya mengetahui petualanganmu dengan seseorang yang baik hati dan berani harus terhenti. Bahkan perlu waktu yang tidak sebentar untuk menghilangkan shock yang mendadak.

Aku sempat merasa terjatuh semenjak perpisahan itu. Semangatku pergi dan hilang entah ke mana. Mungkin anginlah yang pergi dan meleburkannya menjadi hancur berkeping-keping. Tapi sudahlah! Aku pikir, aku tak bisa terus menerus seperti ini. Merasa terus terluka malahan akan membuat aku dan kamu semakin tersakiti dan menjauh satu sama lain.

Terimakasih sudah memberi kenangan manis. Aku akan senantiasa mengunjunginya, tapi berpikir berulang kali untuk tetap berdiam diri di sana.

Hai kamu yang dulu pernah bersamaku,

Terimakasih sekali, ya pernah membawaku dalam petualangan tersebut di masa lalu! Semuanya akan aku rangkum dan simpan dalam kotak kenanganku. Jikalau aku rindu, aku akan kembali membukanya dan mengambil kenangan-kenangan indah yang kuperlukan saat itu saja. Toh semua ini tetaplah ada hikmahnya.

Tenang saja. Bagiku, masa lalu hanyalah wilayah indah untuk dikunjungi. Bukan tempat di mana nanti aku akan bermukim di masa depan.