Penyelenggaraan Ujian Nasional di Indonesia memang menghadirkan berbagai macam dinamika yang menarik bagi saya. Pada setiap penyelenggaraannya, ada saja pro atau kontra yang menjadi perbincangan orang banyak. Isu menyontek, bocornya kunci jawaban dan kecurangan-kecurangan lainnya memang sudah menjadi isu yang sangat familiar didengar masyarakat. Selain itu, sempat muncul juga isu tentang adanya kebijakan penghapusan Ujian Nasional yang sempat menghebohkan banyak orang.

Meski pada akhirnya tidak diberlakukan, wacana tersebut benar-benar memberikan dampak yang cukup kompleks di masyarakat mengenai dunia pendidikan di Indonesia. Dan baru-baru ini, muncul juga isu mengenai format soal Ujian Nasional itu sendiri. Berbagai isu, bahkan permasalahan memang sudah muncul. Akan tetapi, hal tersebut tidak menutup kemungkinan akan muncul kembali dan pada akhirnya akan menjadi sesuatu yang menarik untuk dibahas.

Dan saya sebagai pelajar, menemukan satu keganjilan dalam salah satu sisi dari pelaksanaan Ujian Nasional di Indonesia. Satu keganjilan yang saya temukan adalah mengenai mata pelajaran yang diuji dalam Ujian Nasional. Ada sebagian orang yang mungkin sudah menyadari hal ini, bahwa sebenarnya pemilihan mata pelajaran yang diuji tidaklah adil atau juga berimbang. Ada beberapa pendekatan yang bisa kita analisa terkait hal tersebut. Pendekatan yang saya lakukan bersandar pada segi kuantitas dan kualitas.

Pertama, dari segi kuantitas, dengan kata lain dari segi jumlah mata pelajaran yang diuji. Ini sudah menjadi sesuatu yang mengherankan dan membingungkan bagi saya dan mungkin bagi pembaca. Seperti yang kita ketahui bahwa sejauh ini, mata pelajaran yang diuji dalam Ujian Nasional di Indonesia hanya terdapat 4 bidang; Ilmu Pengetahuan Alam, Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Jika kita menyoroti mata pelajaran yang diajarkan pada proses pembelajaran keseharian di sekolah, tentu kita akan mendapati jumlah yang berbeda. Disinilah letak keganjilannya.

Kita mempelajari berbagai bidang ilmu, namun kenapa yang diuji hanya 4 mata pelajaran ? Kenapa yang lainnya tidak diuji ? Kenapa hanya 4 ? Hal yang menjadi tanda tanya besar terkait hal ini sebenarnya apa yang membuat keempat pelajaran yang diuji tadi terkesan begitu istimewa dibandingkan yang lain ? Saya rasa, inti dari permasalahan ini adalah lagi-lagi mengenai pemahaman kita mengenai kecerdasan itu sendiri. IPA dan Matematika dipilih mungkin karena memang sudah seperti menjadi tolak ukur kecerdasan seseorang, karena keduanya ilmu eksak.

Advertisement

Ini pemahaman yang keliru dan perlu dimengerti semua orang. Ilmu eksak tidak bisa serta merta mendapat julukan bidangnya orang-orang cerdas. Orang yang menguasai ilmu eksak memang orang yang cerdas. Namun, bukan berarti orang yang tidak menguasainya menjadi orang yang bodoh. Karena, ilmu tidak hanya mengenai angka dan alam, ada ilmu lain dan disitu ada orang yang juga pintar menguasainya.

Pemahaman seperti ini seakan sudah menjadi sesuatu yang akut bagi masyarakat. Masyarakat seperti menutup mata akan mereka yang expert dalam bidang seni, sastra atau sosial. Padahal, keduanya memiliki jalurnya masing-masing. Ini yang sangat disayangkan, dimana para pelajar seperti diharuskan menguasai sains dan ketika tidak, mereka malah dicap sebagai orang yang bodoh.

Sehingga, mata pelajaran pada Ujian Nasional pun didominasi mata pelajaran eksak. Sebetulnya, hal yang hampir sama pun bisa dikaitkan dengan bidang bahasa Inggris utamanya, karena jika berbicara mengenai bahasa Indonesia, itu bukan sesuatu yang mesti dibahas.

Dalam kaitannya dengan bahasa Inggris, saat ini memang sudah seperti kebutuhan untuk menguasainya. Di era globalisasi saat ini, penguasaan bahasa Inggris memang sudah menjadi hal yang krusial. Akan tetapi, ada hal yang juga perlu dipahami. Penguasaan bahasa Inggris yang mumpuni, kita sudah semestinya lebih bisa mencintai dan menerapkan bahasa tanah air kita.

Apalagi dalam pelaksanaan Ujian Nasional, akan sangat tidak lucu jika nilai yang diraih dalam bidang bahasa Inggris lebih besar dibanding bahasa Indonesia itu sendiri. Saya rasa, hal lain yang perlu ditelisik adalah seberapa tidak pentingkah mata pelajaran lain ? Dan kenapa tidak semua mata pelajaran diuji ? Ini ada kaitannya dengan pembahasan diatas.

Pemahaman kita yang perlu diubah, bahwasanya orang yang tidak menguasai eksak bukan berarti bodoh. Mereka mungkin menjadi orang yang pintar dalam bidan seni, sstra atau sosial. Perlu dipahami bahwa penguasaan bidang seni, sastra dan sosial memiliki dampak yang penting di masyarakat. Sehingga, pelajar yang menguasainya sudah semestinya dan memang orang yang cerdas.

Oleh karena itu, menjadi sesuatu yang penting juga untuk mengujinya dalam Ujian Nasional dalam rangka mencari dan menemukan potensi terkati bidang tersebut dan sudah seharusnya tidak ada kesan sentimen pada bidang tersebut dalam dunia pendidikan khusunya.

Yang saya khawatirkan ketika hanya ada 4 mata pelajaran yang diuji dan seorang pelajar yang memang tidak memiliki bakat dikeempat bidang tersebut, justru disebut bodoh. Padahal, mungkin saya dia menguasai bidang yang sedang tidak diuji. Saya yakin, yang menguasai eksak atau keempat bidang yang saat ini memang diuji belum tentu menguasai bidang lain yang sedang tidak diuji. Disini letak ketidakadilan. Lantas, timbul permasalahan baru, tentu keefektifitasan waktu akan menjadi halangan baru jika menguji lebih banyak mata pelajaran.

Bagaimana solusinya ?

Ada dua pilihan utama menutur saya, menjalani Ujian Nasional dengan lebih banyak bidang yang diuji atau tidak melaksanakan Ujian Nasional sama sekali. Mengapa ? Karena intii dari semua ini adalah keadilan atau kesetaraan. Maka, kuncinya dilaksanakan atau tidak sama sekali. Jika dilaksanakan, mungkin bisa mencari jalan keluar terkait teknis dengan lebih baik lagi. Intinya, agar membuat pelajar melaksanakan Ujian Nasional seperti tiddak melaksanakannya. Bisa dari segi format soal atau bahkan dar segi hiburan. Yang terpenting sebenarnya dari pemahaman pelajar itu sendiri tentang bagaimana menyikapi Ujian Nasional yang mereka hadapi.

Kemudian, kenapa saya menempatkan solusi dengan peniadaan Ujian Nasional ? Sebenarnya lebih kepada apa manfaat dan kegunaan dari Ujian Nasional itu sendiri. Saya merasa tidak ada manfaat khusus dari adanya pelaksanaan Ujian Nasionla bagi pelajar yang berpartisipasi. Ada beberapa alasan, tidak ada yang khusus. Dan sudah saya bahas disini. Pada akhirnya, perdebatan mengenai Ujian asional di Indonesia memang menjadi sesuatu yang wajar. Ada permasalahan yang memang sudah semestinya segera diselesaikan. Bagaimana pun permasalahan, dinamika dan cara menyelesaikannya, yang mesti diprioritaskan tentunya adalah untuk kemajuan kualitas pendidikan di Indonesia itu sendiri.

Terima kasih. Semoga bermanfaat.

Artikel ini sudah dipublikasikan di blog pribadi saya dengan judul yang sama.