Desember, aku adalah orang yang dahulu hidup berdampingan dengan rasa muak. Bagiku, kekasih hanyalah sebuah khayalan yang berujung pada kesia-siaan. Itu dulu, tidak lagi semenjak kau mengajarkanku tentang kedewasaan. Malam itu di tengah Desember, diantara lalu-lalang mesin-mesin motor, dan di sela-sela hiruk-pikuk Jogjakarta, kau datang menawariku ajakan untuk menembus malam bersamamu.

Kusambut ajakan itu dengan gegap gempita. Tak kusangka, engkau datang tidak dengan tangan kosong. Kau datang dengan bungkusan surga cinta. Sungguh tak kusangka. Tapi kala itu aku menghiraukannya. Yang kuperhatikan adalah langkahmu yang menyilau pukau dan menyudutkanku pada sebuah keheningan yang sangat wangun. Dalam keheningan itu, aku bisa mendengar jiwaku bercerita tentang dirimu.

Ia bercerita tentang bunga mawar yang memayungi kelopak matamu, lipstik merah sayu yang menyelimuti bibirmu dan jepit rambut warna-warni yang memeluk ikal rambutmu. Semua itu laksana mozaik yang menyusun mimpi-mimpi indah atau malah buruk? Entahlah. Yang bisa kulakukan saat itu hanya duduk menyeduh puisi-puisi yang menetes dari bibirmu. Kalau tidak, maka aku merasa berdosa karena melewatkan nikmat Tuhan. Aku khusyu’ dalam menghabiskan malam.

Sungguh, aku melakukannya dengan begitu khusyu’. Aku ingat bagaimana kata-kata yang lahir dari lidahmu berhamburan memecah gelas di dalam dadaku. Aku ingat bagaimana senyummu melangkahi indah bulan di ladang bintang. Aku ingat bagaimana jarimu menenggelamkan kartu-kartu uno di atas meja pada tubuhmu yang mungil lucu. Aku ingat persis bagaimana caramu menyusupkan rindu dalam sukmaku yang kukira telah lama layu.

Satu malam dengan seribu kesempurnaan. Malam mulai berlalu, tapi tidak dengan kenangan-kenangan yang lalu mengisi lembaran baru hidupku dengan pena yang kusebut dengan cinta. Benar, setelah malam itu, perlahan kita saling memahami satu sama lain. Pada setiap perbedaan yang kita miliki, kita menemukan kesamaan yang tak satu setanpun punya, yaitu cinta.

Advertisement

Kita adalah dua insan yang sedang jatuh cinta. Sebagian orang mungkin akan menganggap bahwa cinta adalah sesuatu yang kuno. Tapi, tidak bagi kita. Dari cinta, justru membuat kita bisa mencari tahu makna dari memberi dan menerima, ikhlas dan berbahagia, memahami dan melapangkan dada, serta mencari tahu bagaimana cara mengolah perasaan tanpa harus menjadi budak dari perasaan itu sendiri.

Dan semua itu adalah apa yang orang-orang (egois) jaman modern tidak ingin kenali. Bukankah cinta mengajarkan perihal kehidupan yang indah? Lalu, dimana letak ke-kunoannya? Kemudian kita sama-sama mengakui, atas dasar itulah kita tidak enggan untuk memupuk cinta yang tumbuh dalam jiwa. Semenjak malam itu pula, hari-hariku semakin indah. Jika kata orang senja adalah puncak dari keharmonisan, maka engkau adalah orang yang telah merobek kelopak mataku sehingga aku fasih menikmati senja.

Jika kata orang bintang-bintang adalah sahabat paling merdu di malam sendu, maka engkau adalah bintang hidupku. Dan jika kata orang Ranukumbolo adalah surga para pendaki semeru, maka engkau adalah danau surga yang menampung kebahagiaanku. Sekali lagi, semua begitu indah. Itulah kenapa aku mencintaimu. Kau adalah gadis yang tidak hanya pandai membuatku jatuh cinta, tapi juga pandai dalam membuatku bahagia, termasuk bahagia dengan cara bersikap kokoh dalam menghadapi angkuhnya dunia.

Aku tidak merasa bahwa dunia ini begitu angkuh sampai saat dunia membuat keindahan itu harus digantikan dengan keikhlasan. Sebelum hari ini, aku merasa berbahagia. Kuhabiskan hari-hari dimana aku dan kau terbang tinggi ke langit, mengitari bukit-bukit menembus awan, lalu Tuhan menyaksikan permainan itu dan menjaga kita tetap aman. Tapi, dunia terlalu angkuh, rupanya tak hanya angkuh, namun juga bodoh dan rakus.

Sayap-sayapmu terlanjur patah dimakan waktu. Sayap-sayapmu terlanjur dimakan keegoisan manusia lain. Akupun begitu bodoh, karena tak mampu merawatnya. Oleh karenanya, Manisku, aku mengharap maaf darimu. Aku tidak bisa menjaga sayap itu. Aku hanya ingn kau tahu, bahwa kau adalah gadis pertama selain Ibu yang mampu membuatku menangis dihadapan Tuhan. Dan tak sedikitpun airmata itu mengandung dusta. Karena ketulusanmu mengajariku bahwa setiap dusta akan kembali pada kita.

Ombak di pantai sanubariku terus terombang ambing sampai akhirnya menerjang dinding cinta yang agung itu. Hancur, menyisakan puing-puing airmata pada pesisir asmara. Aku selalu berbahagia selama ini karena kau selalu ada setiap aku membuka mata di pagi hari dan saat sebelum aku menutup hari dengan pejaman mata. Aku sangat berbahagia kau telah menuntunku ke pantai dan menguburku dalam pasir yang dingin kala itu, sehingga aku bisa merasakan cintamu yang begitu hangat.

Aku sangat berbahagia saat-saat kau membisikkan lagu rindu di tengah perjalanan yang melelahkan. Aku sangat berbahagia, kau tak pernah takut kepada dingin malam dan memilih menemaniku menyeruput secangkir kopi di bawa rembulan. Aku sangat berbahagia, saat meski kutahu telingamu sudah lelah, namun kau tetap setia mendengarkan celoteh tengah malamku. Aku tak pernah sedikitpun merasa jenuh mendengar keluhanmu tentang pertanyaan-pertanyaan kehidupan yang tak satu setanpun tahu.

Taukah kau, dalamku menyusuri jalan malam kemarin, aku selalu saja melihat wajahmu pada sela-sela huruf pada billboard yang berdiri gagah di pinggir jalan. Aku melihat awan kelam di langit hitam tertulis namamu diiringi pantulan lampu kota. Aku selalu melihat butiran senyummu pada setiap lampu merah di tengah jalan, seolah memintaku berbalik arah dan kembali menemuimu.

Kurasa aku sangat merindu. Sungguh, rindu ini berkecamuk menyambuk, dia ingin menghukumku karena aku mengiyakan perpisahan ini. Sedangkan kita sama-sama tidak menginginkannya. Manisku, kau adalah keindahan yang berbuah air mata. Namun, kita telah memahami, cinta adalah soal memberi dan menerima. Cinta, sejatinya adalah sebuah kebaikan. Cinta adalah wujud nyata dari ajaran kebaikan pada setiap agama berupa, siapa menabur maka akan menuai.

Jadi, siapapun yang bersedia “menumbalkan diri” kepada sang maha cinta, harus siap menerima sanksinya, termasuk aku. Tidak ingin munafik, siapa anak manusia yang bersedia begitu saja menerima sebuah perpisahan? Itupun yang kurasa. Dalam lubuk hati, aku tidak ingin menerima perpisahan itu. Meskipun sebenarnya aku punya dua, lima, sepuluh, seribu, bahkan sejuta alasan untuk menolak perpisahan itu. Tapi cinta lebih memintaku untuk melapangkan dada sehingga aku bisa menampung segala pilu beserta dukamu.

Sebelumnya, senja menyuguhkan menit-menit yang mendebarkan dalam kehidupan. Selalu begitu sampai saat cinta mengajarkanku tentang keikhlasan. Terimakasih kau mengajarkanku, bahwa mungkin jika mati satu akan tumbuh seribu. Tapi, jika tumbuh satu dan sangat indah sepertimu, harus dijaga dengan sejuta cara. Meskipun berakhir pada perpisahan, namun semua itu tidak sia-sia. Kebaikanmu akan selalu ada dan berkembang dalam ingatanku.