Lebih dari lima puluh sembilan hari, ledakan perasaan ini membuat semuanya menjadi berubah. Lewat sebuah pertikaian kecil yang membuat kecewa sana sini. Betapa pendeknya pikiran ini hingga tak ada kendali pada buih emosi yang kian menaik dan memberi sakit pada hati. Dimensi waktu yang kini semakin memberi jarak antara aku dan kau.

Seseorang bisa saja berubah karena perasaannya atau karena keadaannya. Tetapi tidaklah bisa mengubah diri seseorang jika tidak bisa mengubah diri sendiri. Nampaknya, ledakan perasaan itu yang tak bisa lagi mengubah keadaan seperti dulu. Itulah yang terjadi antara aku dan kau.

Lewat sebuah perjalanan singkat, lebih dari lima puluh sembilan hari yang lalu, saat kondisi tak sedekat hari-hari lalu, kita bertemu dalam satu perjalanan. Sudah tak seperti dulu. Perasaan yang mana yang harus ku bawa, ketika harus pergi dengan seseorang yang masih terbelenggu konflik batin, sedangkan ia adalah sahabatku sendiri?

Jalinan persahabatan yang sudah terbina lebih dari tiga tahun lamanya. Tak mungkin aku berani merusaknya, meski tanpa kendali lidah ini berlaku lebih tajam dari layaknya sebuah pedang. Masih saja aku yang tak bisa menyeru di hadapanmu, untuk sebuah kata maaf. Perasaan dan pikiran ini pun berubah, seharusnya aku merasa senang kembali kenalimu lewat sebuah perjalanan. Inilah suatu hal yang ku inginkan sejak pertentangan itu membuat kita rumpang.

Pantai. Tujuan perjalanan aku dan kau, dan bersama teman lain yang sejatinya menjadi tameng untukku menyembunyikan perasaan dan kendali perasaan pada kau. Tapi tenanglah, aku akan membawa hati yang ceria dan izinkan aku bernostalgia bersama senja atas cerita merah dan ungu kita.

Advertisement

Memecah ombak, bersamanya ingin ku berteriak.

Kata dalam hati, “Sahabatku ingin rasanya aku menjadi ombak yang mampu menghantammu ibarat batu karang, dengan derasnya arus persahabatan, tak ingin ku beralih dari sini. Mungkin sering kali kerasnya hantaman arus logikaku membuatmu rapuh. Tapi aku ingin selalu mengisi kekosongan harimu. Bagai ombak dan batu karang, ia tak kan pernah terpisahkan”.

Ahh, itu hanya sebuah kata dalam hati. Kini aku bersamanya menyaksikan derasnya arus ombak. Hanya bergeming. Diam tanpa kata dengannya. Ia bagai rawa yang hening tetapi mematikan. Tapi aku ingin memecah ombak, dan terhanyut bersamanya. Sahabat, aku ingin terhanyut bersama ombak-ombak yang bersua, bukan pada rawa yang hening tetapi mematikan. Bicaralah.

Jejak-jejakku, haruskah ku hapus pada memori tentangmu?

Ku tinggalkan langkah kakiku pada halusnya pasir pantai. Menghampar, mencetak jejak langkah kakiku. Seberapa pun banyaknya ku langkahkan kaki ini, sebegitu seringnya ombak menghapus jejak-jejak itu. Haruskah aku menjadi ombak pada luasnya hamparan hatimu yang telah ku tapaki jejak-jejak kesakitan, agar hilanglah rasa sakit itu? Atau tetap menjadi diriku sendiri dengan mencetak jejak-jejakku pada memori tentangmu? Andai aku ombak, menghapus jejak-jejakku pada memorimu, sudah pasti ku lakukan. Agar tiada lagi kesakitan dan membuat catatan usang pada hatimu. Sungguh aku tak ingin membuatmu merasakan kekecewaan yang amat mendalam karena ulah ku.

Sebegitu kecewanya kau, aku tetap menjadi diriku sendiri. Tak ingin ku hapus jejak-jejakku, karena aku tak ingin kau melupakanku. Apakah karena keburukan sekali akan merusak kebaikan yang telah berkali-kali hingga merusak segala lapisan keadaan? Sudah burukkah aku di matamu? Aku tak demikian, memori tentangmu masih ku simpan baik-baik sejalan dengan langkah kakiku kemanapun aku pergi. Kau selalu baik, bahkan sangat baik. Manusia pada dasarnya ialah baik, hanya saja mereka mau mengembangkan atau tidak, hingga mereka pun mempunyai satu titik kekhilafan yang kadang memburukkan kebaikan. Benar begitu bukan?

Matahari terbenam, bersama senja mengemas manis semua memori ku bersamamu.

Tak ku sadari aku telah lama bercengkrama dengan isimu pantai. Semburat matahari telah sampai menyelinap di sela-sela awan hitam penutup hari pendatang malam. Senja yang manis, bersama orang manis, dengan kenangan manis. Hari itu bersama menyaksikan senja dengan sahabat, izinkan aku mengingat kembali memori masa lalu. Memori masa lalu yang mungkin sudah tak kau pedulikan lagi. Dan aku tak mau memusingkan hal itu. Bagiku hanya kenangan bersamamu lah yang kini menjadi bagian dari penyemangatku. Saat kini keadaan tak seperti dulu dan kau secara utuh tak lagi datang memberiku kekuatan. Kini cerita hanya diam tanpa kata. Aku ingin kembali, namun kini sudah tak seperti dulu lagi.

Bersama terbenamnya matahari, saksi perjalanan sepi ini.

Bersama terbenamnya matahari, ku ungkap kata dalam hati, aku ingin.

Bersama terbenamnya matahari, terbenam pula jiwaku dalam hidupnya.

Sahabat, ku sampaikan kata dalam doa yang tak ingin kau ketahui.

Semoga kita dapat bersua dalam hari-hari yang senada dengan irama senja.

Pantai, rangkuman alam membentuk keindahan. Bersama terbenamnya matahari, aku langkahkan kaki pada arus persahabatan yang mengalir senada dengan darah kehidupan, dan membangkitkan kembali memori-memori tentangmu, padamu yang selalu ku sebut sahabat.

Langkah kakiku, selalu mengikuti perjalananmu. Melangkah bersamamu, dan senja di tepian pantai itu.