Dalam kehidupan, kita berbicara tentang stres dan merasa stres, biasanya terjadi ketika terlalu banyak yang harus dilakukan dan terlalu banyak pikiran atau tuntutan tidak masuk akal dari seseorang kepada pribadi kita atau bahkan ketika berhadapan dengan situasi yang tidak terkontrol. Situasi-situasi yang membuat stres dikenal dengan istilah stressor, ditandai dengan ekspresi stres berkaitan dengan perilaku.

Respon akut stres meliputi, perasaan (kecemasan, depresi, mudah tersinggung dan lelah), perilaku (kemunduran, agresif, penuh air mata, tidak termotivasi), berpikir (kesulitan konsentrasi dan pemecahan problema) atau gejala fisik (palpitasi, mual, sakit kepala). Apabila stres berlanjut, akan ada perubahan neuroendokrin, kardiovaskular, autonomic dan fungsi imunologi yang mengarah ke mental dan kesehatan fisik yang buruk, seperti ; kecemasan, depresi dan penyakit jantung (Kundaragi dan Kadakol, 2015) bahkan menggoda seseorang untuk bunuh diri. Tidak mengherankan apabila ada orang yang gantung diri maupun menengak racun.

Situasi yang menyebabkan stres biasanya tak terduga atau tak terkendali, pasti, ambigu, konflik, kerugian atau harapan terhadap kinerja. Stres bisa dialami oleh, orang biasa, pegawai, pejabat atau bahkan ilmuwan. Organisasi kesehatan dunia mencatat bahwa prevalensi stres cukup tinggi dan sebagai penyakit dengan urutan ke-4 didunia (Waningsiha, 2012). Melihat stres dapat berdampak buruk bagi setiap pribadi, sudah selayaknya kita mengantisipasi dampaknya dimulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan kerja. Karena itu, kiranya tulisan ini bermanfaat sebagai informasi penting dalam memahami, memerangi dan mengatasi stres.

Pemahaman Stres

Dalam kehidupan nyata, pemahaman tentang stres berbeda-beda tergantung situasi dan peristiwa. Secara umum, stres merupakan cara seseorang bereaksi secara fisik dan mental untuk suatu perubahan, peristiwa maupun berbagai situasi dalam kehidupan. Biasanya kita memandang stres sebagai sesuatu yang negatif padahal stres memiliki sisi positif dan menyebabkan perubahan fisik (pertumbuhan), mental, dan hal lainnya (Labola, 2017). Perbedaanya terletak pada cara seseorang dalam menangani setiap problema yang ditemui dan dialami. Karena itu, penting menjaga efek stres pada tingkat positif sepanjang waktu.

Advertisement

Secara umum jenis-jenis stres meliputi ; (a) eustress, dikenal sebagai stres positif, yang membuat kita merasa baik dan mengerahkan efek sehat. Eustress memberikan kemampuan untuk orang menghasilkan output yang optimal dengan melakukan yang terbaik, (b) distress, disebut sebagai stres negatif (stres yang buruk), memiliki dua jenis (stres akut dan stres kronis), (c) hyper-stress, orang dipaksa bekerja melampaui apa yang dapat ditangani. Itu terjadi karena beban kerja atau bekerja berlebihan, (d) hypostress, stres yang dialami ketika seseorang terus menerus merasa bosan, tugas yang sama berulang ulang, gelisah dalam bekerja dan kurangnya inspirasi (Selye, 1983 ; Tomas dan Joy, 2014 ; Kundaragi dan Kadakol, 2015).

Sumber dan Penyebab Stres

Sumber penyebab stres seperti, (a) lingkungan (cuaca, kebisingan, berkerumun, polusi, lalu lintas, tidak aman, perumahan di bawah standar dan kejahatan), (b) tekanan sosial (tenggat waktu, problema keuangan, wawancara kerja, presentasi, perbedaan pendapat, tuntutan atas waktu dan perhatian, kehilangan orang yang dicintai, perceraian dan pola asuh anak bersama akibat perpisahan orang tua karena cerai atau tidak hidup bersama), (c) fisiologis (pertumbuhan yang cepat dari remaja, menopause, penyakit, penuaan, melahirkan, kecelakaan, kurang olahraga, gizi buruk dan gangguan tidur) dan (d) pikiran (sulit, menyakitkan atau menyenangkan dan situasi otak kita untuk menentukan apakah suatu problema membuat terlibat).

Beberapa faktor penyebab stres secara luas menurut Kundarag dan Kadakol (2015) dibagi menjadi, (a) faktor lembaga/organisasi (pekerjaan pribadi, kondisi kerja fisik yang buruk, kelebihan beban kerja, tekanan waktu, jam kerja yang panjang, ketidakstabilan pekerjaan dan kejelasan pekerjaan), (b) faktor kepribadian (usia, seks, sakit kepala, kontrol dan pengambilan keputusan kapasitas, fisik dan tuntutan pekerjaan dan depresi), (c) faktor interaksi keluarga dan pekerjaan (tuntutan keluarga, fleksibilitas kerja, tekanan di tempat kerja, dukungan di tempat kerja, kehidupan kerja dan keluarga).

Memerangi dan Mengatasi Stres

Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh seseorang untuk memerangi stres meliputi ; (a) keterampilan fisik (latihan pernapasan, relaksasi progresif, peregangan latihan, kaki dan tidur), (b) keterampilan mental (meditasi dan yoga), (c) keterampilan sosial (Meeting dan menjaga hewan peliharaan), (d) keterampilan mengalihkan (melakukan kegiatan mengalihkan pikiran dari dari problema) dan (e) keterampilan spiritual (introspeksi membantu untuk menghubungkan dengan diri sendiri, membantu untuk menemukan output berarti bagi kehidupan

Beberapa teknik mengatasi stres meliputi ; (a) melakukan audit, lembaga/organisasi melakukan audit melalui kuesioner dan wawancara, (b) gunakan input ilmiah, menyebarkan kesadaran dan informasi yang efektif terkait stres, (c) periksa dokter, melakukan program manajemen stres, (d) pentingnya kebiasaan rutin