Siapa yang tidak pernah memasak? Saya sendiri! Ya, saya yang sebelumnya tidak banyak menyentuh dapur dan segala peralatannya. Mungkin pernah sekedar memasak mie instan atau telur ceplok ketika rasa lapar darurat melanda (baca: posisi lapar yang tak tertahankan, sudah malam, komplek rumah sepi, anak gadis takut dibegal hehehehe). Itu sebelumnya, namun 6 bulan terakhir ini, saya sudah menjabat sebagai seorang Chef dalam sebuah restoran yang buka setiap hari dan setiap saat ; rumah sendiri.

Ya, saat ini, hampir setiap hari selalu berkutat di dapur. Biasanya, masakan yang saya buat adalah makanan pokok; nasi, lauk dan sayur. Nasi, dengan menggunakan Magicom. Lauk yang menurut pemikiran hemat saya sangat mudah adalah, digoreng (sesekali pernah mencoba mengukus, tapi pilihan terbanyak adalah goreng. Jenis sayurnya pun belum berani "aneh" atau improved menu-menu ala-ala, mainnya selalu aman (sayur bening, sayur asem dan kawan-kawannya).

Baru 2 minggu ini sedang mencoba mengembangkan kemampuan untuk memasak menu jajanan. Minggu lalu, sudah mencoba memasak milk pudding. Rasanya alhamdulillah. Hari ini, saya membuat pisang goreng. Beberapa hari yang lalu sang kekasih membawakan pisang. Di dalam aktivitas memasak terdapat cerita yang berkaitan dengan perasaan. "Memasak itu perkara cinta, kesediaan dan kerelaan."

1. Memasak dan Cinta

Ketika memasak kita akan banyak mengandalkan intuisi. Meskipun ada resep-resep yang sudah banyak dituliskan orang di dunia maya ; tetap saja rasanya belum tentu sama. Sama halnya dengan kita yang sedang menjatuhkan hati kepada seseorang, hanya bermodal percaya, memberikan kasih sayang tanpa banyak pertimbangan.

Advertisement

2. Kesediaan dan Kerelaan.
Menurut saya, 2 hal ini merupakan pecahan kecil dari Ikhlas. Kesediaan dan kerelaan dalam meluangkan waktu : untuk bangun lebih pagi, pergi ke pasar; berjubel dengan ibu-ibu lainnya, kemudian kembali lagi ke rumah dan meracik segalanya hingga tersedia di meja makan. Tidak jarang, bisa terluka karena beberapa percikan minyak saat menggoreng atau terkena pisau saat memotong.

Bagaimana kaitannya dengan perasaan? Kesediaan dan Kerelaan, ketika sudah memilih untuk menjatuhkan hati, bersedia untuk menerima segala konsekuensi yang mengikuti dan rela untuk memberi tanpa harus (banyak) mengharap kembali. Belum ada jaminan, bahwa tidak akan mengalami sakit hati.

Payung besar memasak dan menjatuhkan hati adalah Ikhlas. Kalau kita memasak dengan tidak Ikhlas, rasanya akan melelahkan. Kalau kita menjatuhkan hati dengan tidak Ikhlas, rasanya akan menyakitkan. Kembali percaya bahwa baik buruk sebuah peristiwa, apabila terjadi. Kembali pula pada masing masing pribadi, bagaimana caranya untuk menyikapi.

Selamat mencoba untuk memasak 🙂

-Tulisan ini terinspirasi dari postingan pribadi teman saya di Path, Febby R. Widjayanto yang sedang berkelana di Manchester.