Sejak pindah kost kurang lebih 6 bulan yang lalu, hampir setiap hari aku melihat wanita paruh baya itu duduk didepan toko didekat kostku, setahuku dia tidak pernah menjulurkan tangannya mengemis pada para pelanggan toko yg kluar masuk. Jika ada yg kasihan dan ingin memberi, mereka bisa memasukkan uang receh kedalam gelas kecil yg sudah tersedia. Sepertinya dia tidak punya tempat tinggal ataupun saudara Entah terik atau hujan, dia selalu ada disana. Dia lebih sering menyapu sampah, kadang juga tertidur dan tidak tau lagi manakala ada yg memberi atau tidak.

Hari itu sudah cukup larut, hujan turun cukup deras dan kuputuskan untuk berteduh di depan toko itu. Tidak banyak yang kubicarakan dengannya, hanya obrolan singkat saja, begitu obrolan berhenti aku bahkan masuk begitu saja kedalam toko membeli air mineral, tak pikir panjang, kuraih dua botol dan dua bungkus roti. Setelah membayar, aku segera keluar menemuinya, kupikir sambil menunggu hujan reda ngobrol terus haus juga lama-lama. Kuhampiri dan kuberikan ke tangannya, dia terlihat kaget menatap wajahku tak bergerak.

"Ini buat Ibu, ya," tawarku tersenyum. Segera diterimanya makanan dan minuman seadanya itu dan entah berapa kali dia mengucap syukur pada Yang Maha Kuasa. Dia bahkan memegang kepalaku dengan tangan kanannya dan berkali-kali mengucapkan kata-kata berkat padaku. Aku sama sekali tidak menyangka dia akan jadi begini, aku yang terharu kemudian larut dalam situasi itu, tidak putus-putus doa yg keluar dari mulutnya untukku dan jujur hal ini membuatku terdiam tanpa bisa bicara apa-apa lagi.

Sejak hari itu kami jadi makin sering ngobrol. Dia tetap disana, tetap jadi dirinya sendiri, begitu juga aku. Aku tetap jadi apa adanya diriku. Bagiku pemberianku itu tidak ada artinya, hanya sebotol air minum dan seketul roti saja, tidak lebih dari 10.000 rupiah. Tapi baginya begitu berarti. Meskipun hanya seorang pengemis, tapi doanya yang tulus itu rasanya jauh melebihi angka 10.000. Itu sebabnya aku tidak menyangka dia akan jadi begini, sedangkan diluar sana kuhabiskan berjuta2 rupiah untuk bersenang-senang, hura-hura, dan lebih banyak lagi untuk orang-orang tidak punya harga diri, yang hanya memanfaatkanku demi uang yang kupunya.

Aku yakin, orang-orang semacam itu tidak akan pernah mendoakanku. Ibu itu merasa beruntung karena itu dia mengucap syukur, aku juga merasa beruntung karena aku mendapatkan pelajaran berharga yang tak ternilai dari kejadian itu. Jadi sebenarnya siapa yg diberkati? Siapa yang beruntung? Dan siapa yang bahagia? Berikanlah kepada mereka yang membutuhkan, jangan harapkan mereka akan mendoakanmu.

Advertisement

Berikan dengan ikhlas, jangan tinggikan dirimu dihadapan orang-orang semacam ini, jangan rendahkan mereka hanya karena mereka pengemis. Hormati mereka sebagai orang tua dan sebagai sesama manusia, jangan pernah punya pikiran buruk tentang mereka. Keberadaan mereka berarti kesempatan bagi kita untuk berbuat baik. Pikirkan baik-baik, kita yg butuh dia atau dia yg butuh kita?

Kita memberi bukan hanya karena itu diajarkan dalam ajaran agama manapun. Bahkan ada yg bilang, beramal itu sama saja membuat Tuhan berhutang pada kita. Semua benar, tapi jangan hanya beramal dengan alasan ini. Sebab orang kafir pun tahu perbuatan baik, mereka juga tidak dilarang untuk beramal.

Kita memberi bukan karena kita sanggup, berilah semampunya karena ini bukanlah soal jumlah nominal yg kita berikan, tapi kerelaan hati kita. Kita memberi bukan hanya karena ingin atau mengharapkan pahala, menanamkan karma baik, ataupun buang sial (pendapat sebagian orang). Tapi berikan dan lupakan, jangan ada udang dibalik batu. Meskipun beramal itu sama saja dengan membuat Tuhan berhutang pada kita tapi jangan jadikan itu sebuah alasan. Kita memberi bukan karena orang itu pantas untuk mendapatkan pemberian. Soal pantas atau tidak, itu urusan Yang Maha Kuasa, bukan urusan kita.

Memberi dengan hati, jangan biarkan otak yang suka perhitungan ikut campur dalam urusan ini. Kita memberi bukan hanya karena kita ingin memberi contoh kepada org lain, contohnya mengajari anak untuk memberi sejak kecil itu memang baik, sangat baik. Tapi jangan hanya karena alasan ini, sebab kalau mereka yg tidak punya siapapun utk diajarkan, lalu tinggal sendiri diatas gunung misalnya, apa mereka termasuk pengecualian? Kita memberi bukan karena kita ingin dihormati orang, kalau memberi demi supaya dihormati orang banyak, lalu suatu saat kamu bangkrut lalu apa mereka masih akan menghormatimu?

Kehormatan bukanlah soal banyak tidaknya uangmu, tapi soal bagaimana kamu berprilaku dan kedewasaan dalam bersikap. Tapi lakukanlah karena kita semua manusia, kita masih punya rasa kemanusiaan, lakukan karena hatimu menjerit melihat penderitaan mereka, lakukanlah demi dirimu sendiri, bukan demi orang lain, dan lakukanlah karena kamu ingin bahagia, sering2lah membeli kebahagiaan, lagipula hargnya cukup murah bukan? Ini adalah suatu bukti bahwa jika dilakukan dengan benar, maka iya, uang memang bisa membeli kebahagiaan. Coba lakukan hal ini, setelah itu rasakanlah sensasi kebahagiaan karena sudah memberi.

Satu-satunya cara utk bahagia adalah dengan cara memberikan kebahagiaan itu sendiri, lalu kebahagiaan itu akan menular dan terus menerus menular sampai kemudian kembali lagi padamu. Kita semua pasti setuju bahwa didunia ini tidak ada yg abadi, lahir tidak membawa apapun, mati juga sama, kita tidaklah membawa apapun kecuali amal dan perbuatan kita selama dibumi, lalu mengapa kita masih belum memulai mengorbankan sesuatu yang tidak abadi demi mendapatkan sesuatu yg lebih berharga, yang abadi, dan yang berguna diakherat, ataupun kehidupan mendatang?