Perasaan ini masih dengan intensitas yang sama, walau telah setahun dan beberapa tahun kemudian ini akan mengalir untukmu. Hanya saja lebih tak terlihat seperti waktu itu, saat aku jatuh hati untuk kali pertama padamu. Saat kehitamanku berubah kemerahan karena kekuataan itu, saat panah yang utuh melesat menusuk tepat kedalam kalbu dengan namamu yang selalu terbawa olehnya.

Kini sudah tak terlihat bersembunyi di balik bayang lelakimu, yang kau percaya mencintaimu. Perasaan ini selalu tumbuh bahkan lebih tinggi, hingga aku heran mengapa sebodoh itu cinta? Walau kau hantam aku dengan kabar kau bahagia. Kau tertawa dengan pria pilihanmu, kau remukanku dengan berpelukan di depan mataku, aku tak akan mampu mendo'akan buruk untukmu atau bersumpah untuk membencimu hingga anak cucumu.

Bahkan, jika aku bisa membeli kesempatan untuk melihatmu, akan ku bayar dengan waktu, tenaga dan dedikasiku. Ya aku tahu, kau tak butuh itu semua. Aku akan pergi perlahan, tapi aku tak bisa janji untuk selalu menahan rindu yang kian teramat besar atau aku akan pulang hanya untuk melihatmu. Jika kau tak peduli itulah risikoku, karena selalu menjadi bayang-bayangmu, membuntutimu, menganggumu, aku meminta maaf untuk itu.

Sekali lagi, aku mencintaimu penuh dengan risiko. Jatuh, patah, remuk semua pernah dan sudah ku alami,  Tapi maaf saja aku tak pernah menyerah, hingga kau berdiri di sampingku dengan senyum merah dan gigi berpagarmu itu,."I will stand here waiting for you", kata-kata yang ku bisikkan dalam udara malam, bersama doa-doa serta anganku yang melambung tinggi.

Aku harap kau tahu, di sisa hidupku kelak aku ingin menghabiskannya denganmu, hingga tak ada lagi sesal, hingga yang ada hanya kau dan aku.