Masih sangat jelas teringat dibenakku saat pertama kali kita berbincang, gurauan yang kau lontarkan berhasil membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Dan saat itu pula, kau berhasil membuatku tertarik kepadamu, dimataku kamu begitu menarik.

Jujur kukatakan, aku tak dapat melepaskan pandanganku kearahmu ketika kita berada dalam satu area yang sama. Hari berganti hari kulewati, semakin bertambahnya hari semakin bertambah pula kedekatan kita. Hingga pada akhirnya status sebagai teman berhasil kita genggam. Ketika itu satu-satunya kontakmu yang aku miliki hanya di akun facebook. Aku sering online begitupun denganmu. Kita pun sering chat di facebook saat online bersama. Membahas sesuatu yang sebenarnya tak begitu penting, dan menghabiskan malam sampai pagi menjelang. Terkadang kau memberikan gombalan ringan kepadaku dan aku hanya dapat merespon itu sebagai gurauan, meskipun pedasaan dalam hati begitu tak karuan.

Kamu sosok teman yang baik, bersedia menemaniku untuk sekedar menunggu jemputan di teras depan kelas. Melontarkan gurauan lucu dan menghiburku dengan segala tingkah konyolmu. Masih ingatkah kamu? Disuatu hari dengan seragam almamater warna cream yang kita kenakan, kala itu turun hujan lebat hingga sekolah banjir. Aku tak dapat pulang karena harus menunggu ayahku untuk datang menjemput.

Kita mengobrol bersama sampai aku mengantuk. Aku tidur tengkurap di lantai dan begitupun denganmu yang mungkin sedang berpura-pura tidur dihadapanku dengan posisi yang sama. Kau tahu? Hal itu merupakan kenangan terindahku bersamamu. Masih ingatkah ketika gossip hangat menimpa nama kita di sekolah? Bahkan kau tak pernah menanyakan pendapatku akan hal itu. Apakah kau tak ingin mendengar betapa bahagianya aku saat itu?

Mendengar namamu dan namaku disandingkan menjadi satu di sela pembicaraan teman-teman sekolah. Dilain waktu, kamu tahu kan ada gossip lain yang membawa namaku didalamnya. Namun, kali ini bukan nama kamu yang disandingkan dengan namaku. Kau tahu? Betapa bahagianya aku ketika kamu menanyakan kebenaran itu padaku. Terimakasih jika kala itu kau merasa cemburu. Hingga detik ini masih teringat jelas tiap kata itu. Dan maafkan aku karena kode yang kukirimkan terlalu sulit untuk kau terjemahkan.

Advertisement

Mungkin aku salah mengartikan kebaikanmu. Atau mungkin memang semua temanmu kau perlakukan demikian. Tapi, ketahuilah bahwa namamu sudah benar-benar melekat disini sejak lama dan hingga detik ini aku belum berhasil untuk menghapusnya. Ingin rasanya menghindarimu. Namun, dengan status sebagai teman yang telah beralih menjadi sahabat hal ini menjadi semakin sulit. Pernah satu kali aku menghapus namamu dari kontak bbmku. Tidak butuh waktu lama kau pun menyadarinya. Mengontakku dengan akun sosmed lain dan alhasil pinmu pun kembali tersemat di kontak bbmku. Kini, kuputuskan untuk membiarkan semuanya mengalir seperti air sungai. Tak mengapa bila akhirnya kau tak membalas perasaanku, setidaknya banyak pelajaran yang bisa kupetik. Mengenai penantian, dan mengikhlaskan kamu untuk bersandar dengan orang lain yang seharusnya lebih baik dariku.

Kita berdua pernah berjanji, diundang atau tidak akan tetap datang menghadiri pesta pernikahan masing-masing dari kita. Konyol memang. Saat perjanjian itu, aku membayangkan duduk di pelaminan bersamamu. Terimakasih telah menjadi temanku. Terimakasih untuk setiap kebaikan yang kau berikan. Aku menyayangimu sebagai seorang teman. Meskipun kini hubungan pertemanan kita tidak sedekat dulu, dan aku tak lagi mengetahui semua hal yang terjadi dalam hidupmu. Ingatlah untuk selalu bahagia dan hidup dengan baik dimana pun kau berada.

Doakan aku untuk secepatnya bisa move on darimu.