Stephen King menuliskan tentang "kotak" dengan begitu baik dalam buku "On Writing".

"Hari demi hari pembullyan itu semakin buruk saja. Kawan-kawannya tidak punya niat untuk membiarkan dia keluar dari "kotak" (stereotipe, label) yang dilabelkan terhadapnya; dia bahkan dihukum bila berusaha untuk keluar dari sana. Aku mengajar beberapa kelas dengannya, dan mampu mengamati penghancuran Dodie dengan mata kepalaku sendiri. Aku melihat senyumnya memudar, melihat cahaya di matanya meredup kemudian lenyap." –Stephen King, On Writing (terjemahan pribadi)

Pendapat saya, "kotak" adalah bagian dari dunia manusia. Kotak adalah batasan, sebuah wadah, sesuatu untuk menampung, dengan tujuan menjadi lebih tertata. Pada saat kita membersihkan kamar, kita akan menaruh benda-benda yang sama dalam satu kotak. Itu berarti, satu kotak mewakili satu kategori/sifat yang sama dengan yang dimiliki oleh benda-benda tersebut. Dengan demikian, kotak adalah salah satu produk logika. Biar saya jelaskan, otak kita cenderung mendefinisikan sesuatu. Bila kita tidak mampu mendefinisikan hal tersebut, kita akan merasa takut, salah satu alasannya adalah "teralienasi". Mungkin itu sebabnya orang yang mengalami kejadian misterius cenderung merasa takut dan tidak nyaman. Kita merasa nyaman pada sesuatu yang umum, karena kita cenderung mengkategorikan hal-hal yang kita lihat atau alami. Salah satu tugas logika adalah pengelompokan. Logika yang baik akan membuat kita jeli melihat pola tertentu, termasuk di antaranya persamaan dan perbedaan dari sederet benda yang ada di hadapan kita. Logika-lah yang bertanggung jawab atas alasan kita menganggap batu itu sama dengan besi dalam hal kepadatan. Selanjutnya, logika juga yang bertanggung jawab atas kenapa kita bisa bersikap rasis (karena stereotipe). Bila pengelompokan tersebut adalah bagian dari logika, maka mustahillah bila kita berharap bahwa rasisme atau stereotipe akan lenyap dari muka bumi ini. Tidak mungkin kita meniadakannya, karena itu bagian dari fungsi biologis kita sebagai manusia. Hal itu merupakan salah satu applikasi pabrik yang terinstall secara otomatis ke dalam otak setiap manusia pada umumnya. Berpikir dalam kotak, atau mengelompokkan hal-hal dalam kategori tertentu merupakan kecenderungan alamiah manusia. Kabar baiknya, kita bisa memilih reaksi kita terhadap kecenderungan kita tersebut. Apakah kita memanfaatkan kemampuan itu untuk menyakiti orang lain, atau untuk memahami orang lain? Manfaat Berpikir Di Luar Kotak Pernahkah anda mengobrol dengan seseorang yang sangat sulit untuk digoyahkan pendiriannya? Atau orang yang sekali disakiti, dia akan pukul rata dan bersikap rasis terhadap hal-hal yang berada dalam kategori sama dengan orang yang menyakitinya? Atau orang yang sangat lempeng, saking lempengnya dia akan mengatakan "tidak ada ikan yang bisa memanjat pohon", karena dia tidak pernah melihat mudskippers (alias timpakul, tempakul, gelodok, belodok, belodog, atau blodog, atau belacak)? Orang-orang tersebut adalah jenis orang yang merasa nyaman berkubang dalam kotaknya sendiri. Mereka biasanya takut untuk melihat keluar dari kotak nyamannya tersebut. Mungkin karena angin kencang di luar kotaknya membuatnya menggigil. Mungkin juga karena sinar matahari di luar kotaknya itu terasa begitu silau. Yang pasti, dia sangat mencintai kotaknya yang hangat, gelap dan nyaman. Bila ada hal-hal yang berani menggoyang kotaknya, dia bisa mengamuk dan mempertahankan kotak kesayangannya sampai titik darah penghabisan. Padahal bila dia mau melihat hal-hal di luar kotaknya dan membuka hati untuk itu, dia bisa melihat dunia yang lebih luas daripada apa yang selama ini diketahuinya. Dia bisa melarikan diri dari hal-hal membosankan yang mengelilinginya dalam kegelapan. Keluar dari zona nyaman awalnya mungkin mengejutkan dan bisa membuat seseorang demam karena shock. Tapi bila orang itu berhasil menerimanya, dia akan menemukan dunia yang sangat luas dan indah. Dia akan menyadari betapa kecil dirinya di dalam semesta yang luas dan megah ini. Berpikir di luar kotak berarti adalah berpikir di luar kategori-kategori yang selama ini orang itu pegang. Orang yang berpikir di luar kotak, mampu mengesampingkan stereotipe atau label yang sudah terlanjur dia tempelkan pada hal tersebut dan memandangnya dengan polos tanpa identifikasi apapun. Untuk jelasnya, coba dalami pertanyaan ini : Andai pencipta bahasa Indonesia dulu menyebut gumpalan keras, padat dan berat itu sebagai "bulu", bukannya "batu", apakah bagi anda kata "bulu" masih mewakili sesuatu yang ringan, lembut dan halus? Langkah awal saya untuk berpikir di luar kotak adalah dengan cara menghilangkan "label" yang melekat pada hal yang akan saya nilai itu. Pandanglah hal tersebut tanpa embel-embel apapun. Pada contoh sebutir batu, cobalah lihat benda itu tanpa definisi "berat", "keras", atau "padat". Itu adalah "itu". Apabila pada umumnya batu digunakan untuk membuat bangunan, cobalah hapuskan apa yang kita ketahui dari benda itu dan berandai seakan kita manusia pertama di dunia ini. Apa yang akan kita perbuat dengan "itu"? Mungkin anda bisa menciptakan panci dari sana, atau menggunakannya sebagai alat musik. Itulah sebabnya kenapa kreativitas bermula dari keberanian untuk melihat dunia di luar kotak. Akhir kata, kotak setiap orang berbeda-beda bentuk dan luasnya. Ada orang yang memang sudah puas berkungkum dalam kotaknya sendiri, tapi ada orang yang hidup dalam kotak di luar kotak. Sampai manakah batasan dari kotak anda? Mampukah anda memandang sesuatu di luar kotak bernama "benar" dan "salah"?