Selain berkutak dalam dunia bahasa, relungku setiap saat pasang dengan larik-larik senyum dari puisi yang samar. Menerjemahkan adalah salah satu senjata mendalami sebuah makna dibalik teks yang terucap-tertulis. Sebut saja bahasa; dalam satu bahasa, terdapat berpuluh bahasa (tanpa rasa). Perihal senyum yang hendak aku terjemahkan, tersusun deretan-deretan gigi yang teratur dengan sebuah pelukan kawat berwarna gamang. Indah hanya sebagian dari dia, selebihnya sulit untuk aku tuliskan kedalam tulisan~selain mencintaimu dengan sendirian.

#

Dua pasang mata yang sedang mendung. Hujannya sesekali menyuburkan kita, walau terkadang meluapkan kasih yang terkasihani kenangan masa lalumu. Senyumanmu ibarat rumah; menyediakan kehangatan, menceritakan ingatan ketika "masih" jatuh cinta pada masa lalu. Tentangku, bukan karena engkau. Salinannya ada pada saat, saat ketika berdua (dalam sebait tempat yang kusebut sajak).

#

Aku malu menunggu masa depan, menuju dan memujinya. Di balik itu, hatiku berani berkelana tepat di atas ubunmu, memberikan tanda lewat kecupan bibir yang sedang tersenyum di malam nanti; malam saat menghapus pagi dan siangnya!

Advertisement

Masih teruntuk bibirmu. Relungku belum sepenuhnya paham menerjemahkannya menjadi tulisan, hendak tubuhmu menjelaskan melalui bahasa tubuh yang kaku. Lantas mengapa kau mencintaiku setelat itu? Hari ini, teras dari sebuah rumah sedang menanti. Pintunya menjelma menjadi pilihan, entah kau masuk atau mengetuk. Jiwaku menunggu tepat di teras itu!

Langit kian menjauh, awan menolak menjadi putih lagi. Matahari mati di telan rindu, rindu yang berinai kian sejuk menghantam amarah. Ada sebuah kiasan yang sengaja kuperuntukkan buatmu; dalam kata, ada kita. Paham?

"Iya, aku malu dengan cintamu~oleh sebab itu, maafkan perasaanku, berikan waktumu padaku ya!"

Makassar 2015