Tahu nggak sih, Indonesia tercatat sebagai negara yang menduduki peringkat keenam terburuk di dunia dalam peringkat ketimpangan ekonominya? Hal ini diterangkan dalam laporan yang berjudul “Menuju Indonesia yang Lebih Setara” oleh Oxfam Indonesia dan International NGO Forum on Indonesia Development (lNFlD).

Gue yakin kalian pasti nggak tau fakta di atas. Soalnya, gue sendiri sebenarnya juga baru sok-sokan cari fakta tentang ketimpangan ekonomi di Indonesia sejak memutuskan untuk menulis artikel ini. Maklum aja, anak muda seperti kita yang termasuk kalangan awam biasanya malas untuk baca berita ekonomi yang dipenuhi dengan jargon-jargon ekonomi yang entah artinya apa.

Kali ini, gue pengen sok keren untuk berbagi pandangan mengenai ketimpangan ekonomi di Indonesia. Gue akan membahas menggunakan sudut pandang dan bahasa orang awam. Kenapa? Karena memang gue orang awam. Hehe..

Perlu digaris bawahi dulu beberapa disclaimer dari gue berikut ini:



  • Semua atau sebagian isi artikel ini bisa benar dan juga bisa salah. Hal ini dikarenakan semua isinya merupakan pemikiran pribadi gue dan gue bukan pakar dalam bidang ekonomi.




  • Gue tidak mempunyai maksud tertentu dalam menulis artikel ini. Jadi jangan dikaitkan dalam isu-isu sensitif, seperti politik, ras, agama, dll.




  • Gue tidak mempunyai ikatan secara langsung dengan nama-nama yang ditulis di artikel ini. Nama-nama yang disebut dalam artikel ini hanya sebagai bahan penelitian. Tidak ada unsur jelek sama sekali.



Advertisement

Untuk memulai inti dari artikel ini, gue ingin berbagi beberapa cerita pribadi ke teman-teman.

 

Cerita pertama, dimulai saat gue mulai memasuki dunia perkuliahan di Jakarta. Gue pernah iseng untuk menghitung, berapa sih pendapatan yang orang tua gue harus hasilkan dalam 1 bulan untuk menghidupi keluarga kami.

Berikut kira-kira perhitungan “bodoh” gue (dalam rupiah):

Biaya kuliah untuk 1 bulan = 3.000.000 Uang jajan bulanan = 2.000.000 Uang kos = 1.500.000 TOTAL = 6.500.000

 

Untuk kehidupan perkuliahan gue, orang tua gue harus menyediakan Rp 6.500.000 per bulannya. Karena gue mempunyai seorang kakak yang juga sedang berkuliah pada saat itu, artinya beban orang tua gue harus dikalikan 2, sehingga menjadi Rp 13.000.000. Angka ini juga belum termasuk biaya hidup orang tua gue di kampung halaman. Berikut perhitungan “kira-kira” gue tentang biaya hidup orang tua gue:

Biaya makan = 30 hari x 60,000 = 1.800.000 Biaya listrik = 600.000 Biaya air bersih & telp = 300.000 Biaya transport = 600.000 Biaya kebutuhan rumah = 500.000 Biaya lainnya = 1.200.000 TOTAL = 5.000.000

GRAND TOTAL = 13.000.000 + 5.000.000 = 18.000.000

 

Artinya, untuk kami sekeluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan 2 orang anak, orang tua gue harus menghasilkan setidaknya Rp 18.000.000 dalam 1 bulannya. Jujur saja, waktu gue menghitung seperti di atas, gue baru menyadari bahwa kondisi perekonomian keluarga gue tidaklah jelek (bahkan lumayan OK).

Sampai detik ini, gue masih tidak tahu secara pasti berapa total pendapatan orang tua gue. Yang pasti, orang tua gue telah berhasil membantu gue dan kakak gue untuk lulus kuliah dengan baik.

 

Cerita selanjutnya, dimulai saat gue berhasil menyelesaikan perkuliahan setelah 3,5 tahun. Gue akhirnya mulai masuk ke dunia nyata dan mulai mencoba membanting tulang untuk mencari nafkah. Di saat inilah gue kembali teringat dengan “perhitungan bodoh” yang pernah gue lakukan. Gue baru benar-benar menyadari, menghasilkan Rp 18.000.000 per bulan bukanlah hal yang mudah.

Beberapa hal yang baru gue sadari setelah mencoba untuk bekerja di satu perusahaan:



  • Standar gaji yang diterapkan oleh perusahaan untuk lulusan baru, adalah Rp 3.500.000 hingga Rp 6.000.000. Tentu saja ada saja lulusan yang mendapatkan gaji di bawah maupun di atas range tersebut, namun bisa gue simpulkan, 80% dari lulusan baru di Indonesia masih berada di dalam range tersebut di atas.




  • Kenaikan gaji per tahun biasanya hanya berkisar 10%-30%. Kamu sudah hoki banget jika berhasil mendapatkan kenaikan gaji hingga 40%.



Sebagai anak muda yang aktif, gue memiliki pergaulan yang luas. Gue memiliki berbagai kelompok teman, yaitu teman kuliah dan teman organisasi. Gue kerap kali berbagi informasi dengan teman-teman tersebut. Melalui sharing informasi ini, gue kembali dapat menyimpulkan beberapa hal:



  • Kelompok teman kuliah gue termasuk dalam kelompok lulusan baru yang “hanya kuliah”. Sebagian besar kelompok ini hanya dihargai dengan gaji standar, yaitu sekitar Rp 3.500.000 hingga Rp 6.000.000.




  • Kelompok teman organisasi biasanya mendapatkan gaji yang lebih tinggi. Lulusan baru yang berkuliah sambil aktif berorganisasi (maupun aktif dalam kegiatan lainnya yang positif) cenderung dihargai dengan gaji yang sedikit lebih tinggi, yaitu Rp 5.000.000 hingga Rp 10.000.000. Bahkan ada beberapa teman yang bisa mencapai Rp 15.000.000 per bulan.



 

Cerita ketiga, dimulai ketika gue memutuskan untuk mengikuti passion gue untuk memulai usaha sendiri. Gue mulai membuka usaha kecil dan mempekerjakan beberapa pegawai untuk membantu operasional usaha tersebut. Sedikit bocoran, gue memberikan upah sebesar Rp 2.500.000 hingga Rp 4.000.000 ke masing-masing karyawan, tergantung jenis tanggung jawabnya. Angka ini gue berikan atas pertimbangan berat tanggung jawab mereka, upah minimum yang diterapkan oleh pemerintah (di kampung halaman gue) dan kemampuan usaha gue untuk menghasilkan pendapatan.

Tepat di hari pertama puasa tahun 2017 kemarin, gue mengundang karyawan-karyawan gue untuk berbuka puasa bersama. Di saat itu, gue mendapatkan beberapa point yang lumayan mencengangkan lagi dari mereka:



  • Upah Rp 2.500.000 untuk seorang kasir sudah termasuk upah yang dianggap “tidak jelek”. Banyak kasir atau pekerja yang disuruh untuk menjaga kios pemilik usaha hanya mendapatkan upah yang tidak sampai Rp 1.000.000 per bulannya.




  • Tidak sedikit dari kenalan mereka (yang bahkan sudah menjadi kepala rumah tangga) memiliki nasib yang lebih kurang beruntung. Terkadang mereka hanya mendapatkan Rp 600,000 perbulan, terkadang bahkan tidak mendapatkan apa-apa.



Dari ketiga cerita tersebut di atas, gue tertarik untuk menulik lebih dalam mengenai perekonomian di Indonesia. Fakta mengejutkannya adalah… semua golongan di atas (termasuk orang tua dan karyawan gue) tidak ada yang masuk dalam golongan “atas” maupun golongan “bawah” di Indonesia! Semua golongan di atas merupakan golongan “…menengah…”. How can?

Padahal range-nya sudah jauh banget loh dari Rp 2.500.000 per bulan hingga Rp 18.000.000 per bulan…

Jadi… Ceritanya nih, di Indonesia, kita terbagi menjadi 5 golongan berdasarkan jumlah pendapatannya, yaitu:



  1. Golongan bawah




  2. Golongan menengah kebawah




  3. Golongan menengah




  4. Golongan menengah keatas




  5. Golongan atas



Orang tua dan teman-teman organisasi gue masuk di golongan menengah keatas karena mereka memiliki pendapatan di atas Rp 6.000.000 per bulan. Teman kuliah gue masuk di golongan menengah. Begitu juga dengan karyawan-karyawan gue. Ya, penduduk yang pendapatan di antara Rp 2.500.000 hingga Rp 6.000.000 per bulan masih dikategorikan sebagai golongan menengah. Lalu, yang menduduki golongan menengah kebawah adalah kenalan dan keluarga dari karyawan-karyawan gue.

Sejauh ini, gue memiliki 2 pertanyaan yang timbul, yaitu:



  1. Loh? Pendapatan Rp 600.000 per bulan masih menengah ke bawah? Lalu bagaimana dengan golongan bawah?




  2. Rp 18.000.000 per bulan saja sudah susah banget di cari, tapi kok masih di kategoriin sebagai menengah ke atas doang sih?



Sampai detik ini, gue juga masih tidak bisa menjawab secara pasti pertanyaan nomor 1. Gue masih tidak bisa membayangkan bagaimana miris-nya kehidupan para penduduk Indonesia yang dikategorikan sebagai golongan bawah. Namun, gue sedikit dapat menjawab pertanyaan nomor 2.

Supaya lebih ada gambaran, gue mau kasi contoh 2 orang kaya di Indonesia. Supaya lebih meyakinkan, gue ambil data yang dikeluarkan majalah Forbes edisi Maret 2017:



  • Robert Budi Hartono, orang terkaya di Indonesia yang merupakan pemilik perusahaan rokok Djarum. Bapak ini memiliki kekayaan sebesar US$ 9,400,000 atau setara dengan Rp 122,000,000,000. Beliau mulai berbisnis sejak 55 tahun yang lalu. Jadi, kalo gue hitung-hitung sendiri, rata-rata pendapatan per bulannya adalah Rp 185.000.000.




  • Sri Prakash Lohia, pengusaha tekstil yang merupakan orang terkaya ketiga di Indonesia. Beliau mulai berbisnis sejak 39 tahun yang lalu. Saat ini, ia telah mengantongi US$ 5,400,000 atau setara dengan Rp 70,200,000,000. Gue hitung-hitung sendiri, rata-rata pendapatan per bulannya adalah Rp 150.000.000.



Nah, dari contoh 2 orang di atas, sudah kebayang dong yah seberapa jauh perbedaan pendapatan golongan menengah keatas dengan pendapatan golongan atas (hampir 10x lipat). Mungkin gue mengambil contoh orang kaya yang terlalu ekstrim, but… memang itu yang pengen gue tekankan. Ketimpangan ekonomi di Indonesia sangatlah besar!

Menurut Tempo.co, 1% orang terkaya di Indonesia menguasai 49,3% kekayaan Nasional. Ya, mereka menguasai hampir setengah dari kekayaan Nasional. Artinya, jumlah kekayaan dari keempat kelompok yang lainnya hampir sama dengan jumlah kekayaan yang dimiliki oleh 1% orang terkaya di Indonesia.

Sampai di sini, gue berharap teman-teman telah mengerti keadaan ketimpangan ekonomi di Indonesia. Gue tidak bermaksud untuk menyombongkan diri maupun bermaksud menjelek-jelekkan pihak tertentu dengan pembahasan-pembahasan tersebut di atas.

Gue membagikan beberapa cerita gue agar teman-teman bisa mendapatkan gambaran secara mudah tentang keadaan perekonomian yang terjadi di Indonesia saat ini. Harapan gue, dengan semakin banyaknya orang yang telah mengerti mengenai ketimpangan ekonomi yang terjadi di Indonesia ini, maka semakin banyak orang yang mempunyai kesadaran diri akan keadaan sosial Indonesia dan bahkan mungkin dapat berpartisipasi secara aktif dalam mengatasinya. Contoh mudah-nya adalah dengan tidak menghindari pajak. Hehe..