Banyak hal yang menjadi dinamika dalam hidup ini. Mengiringi dunia yang terus berputar, ragam karakter dan preferensi gaya hidup pun muncul menjadi alternatif. Ada yang memilih untuk menggantungkan niat tulus mengabdi kepada dunia dan bekerja keras. Ada pula yang bersusah payah menyentuh kasih Tuhan dengan beribadah. Banyak juga yang (merasa) sukses menjalani keduanya tanpa beban.

Kesadaran akan kebutuhan sentuhan rohani nyatanya bukan hanya miliki mereka yang merasa sudah uzur. Para remaja atau mereka yang masih produktif bekerja, masih lajang, atau baru berumah tangga adalah beberapa kelompok masyarakat yang juga membutuhkan sentuhan yang sama. Ketenangan dan kedamaian jiwa.

Tentu saja fenomena remaja Masjid atau Gereja sudah lama dikenal di masyarakat lokal. Adalah kelompok muda yang hadir dan aktif menggerakkan kegiatan dakwah dan sosial dengan latar agama.

Menjadi remaja Masijd/Gereja adalah pilihan personal. Mereka yang memutuskan untuk aktif di dalamnya, pasti sudah punya pertimbangan matang.

Salah jika kemudian mereka menjadi bulan-bulanan. Mereka sering mendapat verbal bullying yang awalnya yang berupa canda dan guyon.

Eh, kirain gue anak Masjid nggak tahu ini itu…

Advertisement

Seperti halnya menekuini hobi, memilih pekerjaan, atau bergabung di satu komunitas, aktif dan mengembangkan Masjid/Gereja juga adalah kegiatan positif. Di dalamnya, mereka berdiskusi, berbagi ilmu dan pengalaman, mengkaji isu-isu terkini, dan pastinya berdakwah. Mereka juga turut serta mengajak lingkungan sekitarnya untuk selalu taat dengan ajaran agama.

Keputusan personal ini, menurut saya tidak layak untuk dipertanyakan apalagi dibuat bahan candaan. Setiap orang pasti punya preferensi dan cerita sendiri di balik keaktifan mereka menekuni satu kegiatan.

Ada pendar kebahagiaan yang damai dari mereka yang istiqomah berdakwah untuk agama. Kalian pasti juga merasakan itu, kan?

Mungkin berasal dari jiwa yang tenang, seimbang, dan segar. Basah dengan balutan siraman rohani yang rutin didapat dari pertemuan-pertemuan, kajian-kajian, diskusi penuh gizi di dalam Masjid/Gereja. Para remaja yang aktif menjadi representatif dakwah agama mereka masing-masing, punya tampilan yang menurut saya khas. Bukan hanya tampilan secara visual, tapi juga kualitas personal dan karakter pribadi yang apik. Suatu hari, seorang Ibu pernah berujar:

Adem banget, deh kalau lihat remaja masjid lagi pada kumpul. Rasanya tenang lihat anak-anak macem gitu.

Teratur dalam tutur, berbudi pekerti luhur, kompak, penuh semangat, dan sedap dipandang. Setuju dong?

Bukan berarti komunitas selain remaja Masjid/Gereja itu tampilan dan akhlaknya nggak bagus, ya. Awas aja ada yang sampai kepikiran begitu. Maksud saya, mereka yang bergabung dengan komunitas dakwah remaja Masjid/Gereja selalu punya kesan yang baik. Apa pernah kalian melihat remaja Masjid/Gereja yang kumpul tertawa terbahak-bahak? Atau mengendarai motor dengan suara knalpot bising? Tidak kan? Mereka identik dengan akhlak yang baik.

Hal ini (mungkin) disebabkan oleh asupan obrolan yang rutin mereka bagi dalam tiap pertemuan. Saya yakin tidak ada ajaran agama apapun yang mengajarkan untuk berbuat kurang ajar, berpakaian tidak sopan, dan berkelakuan bejat. Dari situ, mereka yang apik mendalami ajaran agama akan dengan seksama mengejawantahkan apa yang mereka yakini sebagai ajaran agama. Membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih manusiawi.

Yang kalian maksud dengan Kuper itu Kurang Pergaulan, kan? Yakin?

Serius deh. Beneran yang kalian maksud dengan kuper itu = Kurang Pergaulan? Pergaulan yang macem mana dulu, nih? Kalau yang urusannya mirip-mirip ke Exodus, Blowfish, Alexis, dan kawan-kawan, mungkin kalian ada benarnya.

And it's fine to shout them so.

Tapi kalau yang kalian maksud dengan pergaulan adalah melek isu terkini, teknologi teranyar, dan semacamnya, ada baiknya kalian berpikir ulang. Serius! Kalian akan merasa malu dan luar biasa salah dengan menganggap mereka demikian.

Remaja Masjid/Gereja boleh jadi kegiatannya berkutat pada aktivitas sosial keagamaan yang statis. Namun, mereka berasal dari lartar belakang yang sangat beragam. Mereka juga punya karir profesional yang sangat cemerlang. Mereka juga adalah pengusaha mandiri yang sukses nggak ketulungan.

Coba deh sekali-kali gabung sama komunitas remaja Masjid/Gereja. Ya, saya cuma bisa bilang. Coba dulu, baru ngomong!

Karena mereka adalah penyeimbang peradaban, tidak ada alasan untuk mencibir kehadiran para remaja Masjid/Gereja.

Kebayang dong kalau di dunia ini nggak ada yang rela menjadi remaja Masijd/Gereja? Menjadi perwakilan dakwah yang lebih kasual di tengah masyarakat. Duh, bukannya mau sok bijak dan tua, ya. Tapi emang gaya hidup zaman sekarang itu makin lama kok ya makin menjauhi logika gitu ya? Saya yakin, Tuhan sangat tahu itu. Dan Ia sangat sayang kepada kita, makhlukNya. Saya juga tidak ingin menyebut mereka — para remaja Masjid/Gereja adalah penjaga peradaban, sih. Tapi, mereka ada untuk kita.

Mereka ada untuk memastikan ajaran agama ditransfer dengan sempurna dari generasi ke generasi. Dan hidup yang kita semua jalani ini, akan tetap ada. Bersahaja dalam damai dan kasih. Bukankah itu tujuan yang mulia? Yang tidak pantas untuk dicemooh apalagi dibenci.