Kini, aktivitas membaca bak makanan yang bertujuan untuk menunjang keberlangsungan kehidupan sehari-hari manusia. Kegiatan membaca dapat memperkaya khasanah keilmuan, wawasan yang luas, mempertajam dalam berimajinasi, serta membentuk pribadi yang teliti. Membaca menunjukkan adanya suatu kegiatan yang bermanfaat tiada kentara bagi si pembaca. Berkaca pada hal itu, tentunya kegiatan membaca, baik di rumah, di sekolah atau pun di suatu taman baca merupakan hal penting yang harus dilakukan mulai hari ini, jangan tunggu hari besok.

Problematika Membaca di Sekolah

Kegiatan membaca di sekolah, bisa menjadi stimulus yang efektif untuk menumbuhkan kecintaan siswa-siswi dalam kegiatan membaca. Lingkungan sekolah, sudah barang tentu merupakan suatu tempat yang sangat dekat bahkan tak ada jurang pemisah antara sekolah dengan kegiatan yang beraroma edukatif. Hal ini termasuk juga pihak sekolah harus mampu menghadapi tantangan berskala, lokal, nasional, dan global. Ungkapan yang sudah tidak asing bagi kita, yakni literasi. Secara sederhana, kegiatan literasi di dalamnya terdapat aktivitas membaca dan menulis.

Jika secara sederhana seperti itu yang dimaksud, akan tetapi maknanya lebih dari kata sederhana, melainkan mewah. Dalam hal ini, pemerintah yang khususnya ada dalam ranah pendidikan selalu menggaungkan mengenai manfaat membaca dan menulis untuk masa depan siswa/i. Namun timbul pertanyaan yang mendasar, apakah pelaksana di sekolah gemar membaca dan menulis? Dalam kontek ini Kepala Sekolah, Guru, serta Tenaga Kependidikan yang berada di lingkungan sekolah. Untuk meningkatkan minat baca di sekolah, terdapat upaya yang bisa kita lakukan sebagai orang yang peduli terhadap literasi di sekolah dasar.

Mendirikan Sudut Baca

Advertisement

Rasa optimis untuk menumbuhkan kecintaan siswa-siswi dalam membaca selalu ada, namun tetap saja ada tantangan. Minat baca di sekolah bisa tumbuh dari lingkungan sekolah yang dapat diciptakan melalui kegiatan gemar membaca. Misalnya, dibangun sebuah saung atau pojok baca di salah satu pelataran yang terdapat di sekolah. Tempat tersebut bukan memfasilitasi para orang tua yang asyik bergosip sambil menunggu anaknya pulang sekolah, tetapi tempat tersebut digunakan agar terciptanya komunikasi membaca dan menulis di sekolah tersebut efektif. Tentu di tempat baca itu harus ada seorang guru yang mengajak siswa-siswinya agar terlibat dan menggemari kegiatan membaca dan menulis.

Tidak sekedar mengajak, guru pun harus memiliki kecintaan terhadap kegiatan literasi. Ketika guru membaca di suatu pojok baca di sekolah, dengan harapan dapat menstimulus siswa agar senantiasa memiliki kesadaran betapa pentingnya membaca. Kita tidak bisa memerintah orang lain membaca apabila kehidupan kita sangat jauh dari kegiatan membaca. Analogi sederhananya, apabila kita ingin menularkan batuk kepada orang lain, hal yang utama kita harus memiliki virus batuk.

Hal yang mustahil, ketika kita berusaha untuk membuat orang lain batuk, tapi tidak virus batuk. Sama halnya dengan kegiatan membaca, apabila kita tidak mempunyai virus membaca, jangan berharap bahwa mimpi untuk melihat siswa-siswi rajin membaca akan terwujud di masa yang akan datang.

Guru Seorang Figur yang Diperhatikan Siswa

Peran guru melakukan kegiatan membaca tidak sekedar memberi berupa stimulus kepada siswa-siswi. Peran lain dari seorang guru, yaitu senantiasa membimbing kegiatan membaca siswa. Hal itu bertujuan untuk mengarahkan atau mengklarifikasi konten-konten janggal yang terdapat pada buku bacaan. Artinya, peran guru tidak serta merta hanya menyuruh anak membaca tanpa tujuan, namun ada poin penting  yang dipetik siswa kepada gurunya 'guru saya itu orangnya teliti.' Kemudian setelah kegiatan membaca sudah selesai, guru bisa bertanya kepada muridnya setelah membaca. Hal itu bertujuan untuk mengukur sejauh mana konsentrasi siswa saat kegiatan membaca berlangsung.

Bukan hal yang mustahil,  jika kita berusaha menata masa depan yang lebih baik banyak tantangan, godaan dan halangan. Ada saja alasan yang menciutkan kita untuk berbuat baik serta bermanfaat bagi orang lain dan beratnya demi kemajuan bangsa. Sugesti 'khawatir gagal dari program membaca di sekolah' selalu menghantui kita. Namun justru dengan sugesti buruk tersebut, pihak sekolah ditantang, apakah memiliki keberanian untuk mendobrak sugesti 'khawatir' yang berlebihan atau justru pihak sekolah mangut terhadap sugesti penuh 'kekhawatiran'.

Keharusan Literasi di Sekolah

Sebenarnya, kegiatan literasi sudah bukan hal yang baru digaungkan oleh pemerintah. Melalui program Gerakan Literasi Sekolah (GLS), pemerintah berharap kegiatan berliterasi di lingkungan sekolah menjadi meningkat. Ragam reaksi ditimbulkan oleh pihak sekolah ketika GLS ini menjadi kewajiban di sekolah. Terdapat sekolah yang menyambut dengan baik dan adapula ada yang menyambut dengan perasaan kalang kabut (apa yang harus dilakukan). Tentu untuk memulai suatu kegiatan, apalagi ini program berskala berkelanjutan, perlu upaya yang konsisten. Layaknya bersepedah, kayuhan pertama terasa berat, namun setelah meluncur kita mulai terbiasa dengan kayuhan sepeda kita. Kita harus siap, karna mungkin kita akan melewati tanjakan yang menguras tenaga dan perasaan. Memulai sesuatu yang baru memang sulit, namun konsistensi jauh lebih sulit.

Perhatikan Keterbacaan Siswa

Tak dapat dipungkiri, buku yang disediakan oleh perpustakaan sekolah hanya didominasi oleh konten buku-buku pelajaran saja. Buku-buku cerita, ensiklopedia, motivasi masih kalah dari buku-buku pelajaran. Sekolah harus mengingatkan para siswa-siswi, bahwa ilmu dan pengetahuan tidak serta merta hanya didapatkan dari membaca buku pelajaran saja, namun sangat memungkinkan siswa-siswii dapat mendapatkan pelajaran atau hal-hal yang bernilai dari buku cerita atau buku ensiklopedia anak. Tentu, tidak sembarang buku bisa diselami oleh siswa-siswi, melainkan buku-buku tertentu saja yang cocok untuk siswa-siswi. Misalnya buku yang diperuntukan untuk siswa-siswi harus turut diperhatikan baik konten isi cerita, gambar, dan kebermaknaan.

Hal yang utama, yaitu buku yang diperuntukkan untuk kelas rendah harus memiliki gambar yang porsinya lebih dominan ketimbang tulisan. Tidak sedikit siswa/i di kelas rendah yang lebih mengutamakan dari segi gambar ketimbang tulisan. Siswa/i melihat dari sampul buku, apabila sampun dan isinya gambar yang menarik, anak akan mencoba untuk bertahaan di bahan bacaan tesebut. Tidak semua buku yang berkategori anak dapat dibaca oleh semua anak sekolah dasar. Harus melewati pengklasifikasian tertentu. Hal ini digagas oleh Fountas & Pinnel (2008) yang berisi bacaan yang tepat untuk usia anak di rentang sekian. Hal itu bertujuan untuk memudahkan kita memilih sumber bacaan yang baik, sesuai dan tepat untuk bacaan anak.

Percayalah, Reward Sangat Penting !

Sama halnya dengan orang dewasa, anak-anak suka dengan penghargaan atas jerih payah yang telah dilakukannya. Pihak sekolah bisa menghimbau siswa-siswinya untuk membuat kartu bacaan yang terbuat dari bahan yang sudah tidak terpakai dengan ukuran tertentu. Setelah kartu selesai dibuat oleh siswa, kita bisa memberi cap bintang sebagai tanda, bahwa siswa-siswii telah melakukan kegiatan membaca. Hal seperti itu itu merupakan suatu wujud betapa kita menghargai setiap upaya siswa untuk membaca, walau pun kegiatan membaca hanya berorientasi hanya untuk mendapatkan bintang semata, namun ini merupakan wujud dari pembiasaan.

Setelah kartu sudah dipenuhi cap bintang, pihak sekolah memberikan penghargaan bagi anak. Penghargaan tidak harus hadiah yang mewah, namun kita bisa memberikan penghargaan berupa, memajang fotonya di majalah dinding sekolah sebagai siswa yang memiliki predikat rajin membaca di setiap minggunya. Jika memajang fotonya di majalah dinding bentuk dari penghargaan berskala mingguan, kita bisa membuat penghargaan berskala bulanan. Kita bisa membuat selendang sederhana bertuliskan 'Duta Literasi Sekolah A', kemudian disematkan usai upacara bendera, dimana teman-temannya bisa melihat proses penyematan selendang tersebut. Yakin lah, pembiasaan tersebut dapat memancing minat siswa lainnya untuk membaca. Hal tersebut bernuansa tantangan yang mengasyikkan.

Membaca Sebuah Kegiatan yang Memperbaiki Peradaban

Perlu kita ketahui bersama, bahwa kegiatan membaca sangat berkorelasi dengan kegiatan menulis. Menurut pendapat dari Graham, S. & Perin, D (2007), bahwa terkadang kita lupa dan memandang kegiatan membaca tak sejalan dengan kegiatan menulis. Padahal kegiatan membaca turut serta menentukan kualitas tulisan yang dihasilkan oleh siswa. Jadi tak heran, apabila siswa terkadang mengalami kesulitan dalam menulis cerita, salah satu faktor utama yakni kurangnya aktivitas siswa dalam membaca.

Kegiatan untuk menumbuhkan minat baca di sekolah memang perlu usaha yang begitu keras, apalagi jika harus konsisten. Agaknya kita harus memangkas kegiatan stalking status facebook yang nyatanya kurang bermanfaat. Junjung tinggi sebuah dedikasi demi membangun negeri menuju yang lebih baik. Kita tidak bisa selalu bertumpu hanya sebatas pada pemerintah.


Membangun negeri bukan sekedar membangun infrastruktur saja, melainkan membangun kesadaran tiap-tiap manusia.


Sejalan dengan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas yang secara inti mengungkapkan, bahwa pendidikan merupakan usaha yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran. Jika kita hari ini tak kunjung sadar guna membangun kekuatan siswa-siswi kita dengan membaca, artinya kita sudah legowo menerima hasil PISA yang mana Bangsa Indonesia berada di urutan yang memperhatikan. Mari, bergabung dan bekerja sama demi sebuah cita-cita membangun negeri dengan penuh rasa kesadaran.