Membayangkan kekasih yang menghapus spekulasi perihal kesendirian. Dalam utamanya, merentang pelukan yang telah membentang dalam, Menikmati luka yang telah hangat dalam segelas masa lalu yang kian dingin, kian mentah tersapu belenggu cinta. Memaksa bibir enggan bermulut, lalu berselimut hangat saat sepekat senyum menyerupai pelangi duduk di tepian langit selepas sedih yang menyementarakan kita dulu.

Tentang sebuah keheningan, saudara diam di lembah bisu. Pernah suatu ketika, kau menarik mauku yang sudah tak ingin kembali. Mencoba menunggu sebuah kepergian dalam sambutan datang. Ia berjanji lalu menghantarmu dengan ayunan langkah demi langkah agar dapat segera sampai di sebuah puncak “puncak terendah dan terindahnya dunia”.

Yang pernah kau sebut dalam cerita sore tempo waktu, dalam guyuran pernak-pernik senyumanmu. Apa kau mati? Unsur indahmu, terlukis di liang bibirmu. Tubuh lainnya hanya pelengkap dari bagian seluruhnya.

Menyadarkan kenanganmu. Ibarat kita saling mencoba menghidupkan, hingga hidup menemui mati sebelum berbahagia. Menyadarkan kenangan itu seperti membangunkan kamu saat bermimpi dengan mantan kekasihmu yang hampir menemukan “indah” di akhirnya. Lalu, kenangan itu ternyata serpihan-serpihan kecewa yang pernah kau rajut dalam benangku yang masih kusut.

Mulai kujelaskan perihal ini; mengkeningkan cinta…

Semalam kita sadar, kita bertemu dalam satu mimpi yang sama; tentang cerita merasakan kasmaran, berkirim-kirim surat lewat puisi, bersentuhan tubuh tanpa melekatkan kulit menjadi satu. Tepat di ubunmu, aku menanamkan sepohon kisah yang masih balita, belum sempat kutuai bunga bahkan buah yang asam-manis (seperti kisah kita di kelas~mahasiswa sastra).

Advertisement

Kau sendiri sadar-tidak membibitinya dengan masa lalumu yang bertindak sebagai sementara untuk masa depanmu. Tentang cinta dalam keningmu, mengapa bukan hatimu?

“Aku masih begitu mencintai masa laluku, aku belum menambatkan sebuah tambatan saat kau masih belum ‘berani-rela’ mencintaiku dengan seluruh masaku; lalu, kini dan nanti”.