Kehadiran media sosial di kalangan masyarakat telah banyak memberikan kemudahan terhadap kehidupan. Melalui media sosial, kita bisa mempermudah komunikasi dengan ratusan bahkan ribuan orang walaupun dengan jarak yang berjauhan. Tidak bisa dipungkiri lagi karena hal tersebut bukan hanya kaum remaja yang marak dan kecanduan menggunakan media sosial namun juga orang dewasa. Adapun media sosial yang banyak digunakan oleh masyarakat adalah Facebook dan Twitter. Direktur Pelayanan Informasi Internasional Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik (IKP), Selamatta Sembiring menyatakan bahwa Indonesia menempati peringkat 4 pengguna Facebook terbesar setelah USA, Brazil, dan India lalu menempati peringkat 5 pengguna Twitter terbesar di dunia setelah USA, Brazil, Jepang dan Inggris (www.kominfo.go.id). Hal tersebut menunjukkan bahwa antusiasme masyarakat dalam menggunakan jejaring sosial sangat tinggi.

Selain mempermudah komunikasi, dampak positif lainnya dalam menggunakan media sosial adalah sebagai ajang untuk berbisnis dalam bidang “Trading” atau berjualan. Maraknya toko-toko online membuat sebagian masyarakat antusias untuk memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mencoba peruntungan mereka dalam berbisnis online. Media sosial yang ramai digunakan untuk berbisnis online adalah Instagram. Instagram terbilang aplikasi baru yang digunakan untuk berbagi foto. Country Head Facebook Indonesia, Sri Widowati mengatakan “Orang Indonesia sangat aktif di Instagram. Para Artis, Content Creator, sampai Pebisnis benar-benar memaksimalkan manfaat Instagram.” ungkapnnya dalam acara #DiscoverYourStory di Jakarta pada tanggal 26 Juli 2017.

Namun, kehadiran media sosial juga turut menimbulkan berbagai dampak negatif. Tidak jarang media sosial disalah gunakan oleh sebagian orang, maraknya kemunculan fake accounts atau akun-akun palsu yang sering menebar komentar-komentar berbau kebencian bahkan mem-bully seseorang hingga memakan korban. Hal negatif lainnya yang ditimbulkan adalah berita-berita hoax yang banyak bertebaran di Facebook, Twitter, dan lain-lain. Banyak pengguna tidak menyaring secara rinci sumber dari berita yang akan di share atau dibagikan kepada pembaca. Hal tersebut merupakan bias dari rendahnya minat baca yang dimiliki masyarakat Indonesia. Selain itu, perkembangan media sosial juga dapat membuat seseorang menjadi autis dan tidak peduli terhadap lingkungan. Sehingga, perkembangan tehnologi yang seharusnya bermanfaat justru membuat banyak pribadi kehilangan rasa empatinya terhadap sesama.

Menurut kamus besar Oxford Dictionary “Empathy is The ability to understand and share the feelings of another” artinya, empati adalah kemampuan memahami dan berbagi perasaan satu sama lain. Sering kali, kita masih sulit untuk membedakan antara empati dan simpati. Perasaan empati lebih dalam dari sekedar perasaan simpati. Ketika kita bersimpati kepada seseorang, biasanya kita hanya mengerti atas apa yang dialami oleh seseorang, namun ketika kita ber-empati, kita akan turut merasakan secara pribadi.

Di era globalisasi seperti saat ini, rasa empati sudah sangat jarang sekali dimiliki oleh seseorang. Kemajuan tehnologi beserta kehadiran ribuan media sosial justru malah membunuh rasa empati seseorang. Banyak sekali realita menyedihkan yang kita temui akhir-akhir ini. Seperti maraknya video-video kecelakaan yang tersebar di media sosial, alih-alih menolong korban, masyarakat malah berlomba-lomba merekam, menyimpan, kemudian meng-upload kejadian menyedihkan tersebut. Nampaknya, prioritas masyarakat zaman sekarang adalah sebagai penyedia informasi yang harus selalu siap dengan handphone yang mereka miliki. Menjadi sumber informasi demi eksistensi dan kepuasan diri sendiri. Menjadi sumber informasi memang penting, namun bukan berarti hal tersebut menjadikan kita manusia yang kehilangan rasa empati. Menolong korban kecelakaan memang bukan hal mudah untuk dilakukan, jika memang menolong dengan tenaga merupakan hal sulit dilakukan, setidaknnya kita bisa segera menghubungi ambulans atau pihak yang berwenang untuk meminta bantuan, daripada hanya sibuk merekam korban yang tengah kesusahan.

Advertisement

Contoh lainnya, baru-baru ini beredar luas sebuah video bunuh diri yang dilakukan oleh dua kakak-beradik di Bandung. Ada beberapa versi video yang tersebar. Salah satunya adalah video yang berdurasi 48 detik. Video tersebut tersebar luas di dunia maya. Video tersebut direkam oleh seseorang dari bawah gedung tempat kejadian. Dalam rekaman video tersebut, tampak jelas ada beberapa orang yang berada di sekitar lokasi kejadian dengan memegang handphone masing-masing dan sibuk merekam prosesi bunuh diri tersebut. Sungguh miris, namun itulah realita yang terjadi. Di manakah letak rasa empati kita ketika melihat hal tersebut? Terlebih jika kita berada di lokasi kejadian. Lagi-lagi, Memberikan pertolongan memang bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, terlebih jika memiliki konsekuensi yang besar. Namun, bukan berarti kita hanya diam saja dan malah sibuk merekam kejadian naas tersebut. Padahal jika semua orang yang berada di tempat kejadian memiliki rasa empati yang tinggi, setidaknya bisa bergotong-royong untuk meminimalisir dampak buruk yang akan terjadi.

Kemudahan yang didapat dari kemajuan tehnologi benar-benar telah membunuh rasa empati bahkan rasa kemanusiaan seseorang. Jika dulu hanya momen-momen atau kejadian bahagia saja yang didokumentasikan, sekarang setiap momen bisa dengan cepatnya beredar luas di media sosial, tidak peduli lagi itu hal yang baik maupun buruk. Akankah bangsa Indonesia kedepannya semakin kehilangan rasa empati yang dimiliki? Akankah rasa empati tersebut mati hanya karena kemajuan tehnologi yang semakin pesat? Sebagai bangsa indonesia yang memegang kuat prinsip gotong-royong, saya berharap prinsip ini tidak semakin terkikis dengan semakin pesatnya kemajuan tehnologi. Terutama generasi muda selaku pelaku perubahan bangsa ini, harusnya kita tidak menghilangkan identitas sebagai pemuda dan pemudi yang cerdas, kritis dan kreatif. Memanfaatkan kehadiran media sosial dengan menjadikannya forum komunikasi publik untuk mempromosikan keindahan serta keunikan negara kita, menyampaikan informasi yang positif kepada masyarakat lokal bahkan dunia, dan memantau kemajuan-kemajuan negara lain untuk kemudian menjadi contoh bagi kemajuan negara sendiri. Bukan malah memanfaatkannya menjadi forum pembunuh rasa empati terhadap sesama.

Mengikuti setiap perkembangan tehnologi dari masa ke masa memang bukan hal yang salah, namun hendaknya kita mampu memilah-milah hal positif apa yang kita dapat dari sana, bukan hanya menerima ataupun mengikuti begitu saja. Semoga saja kita bisa meminimalisir prilaku “eksistensi diri” terhadap musibah atau kejadian buruk yang tengah menimpa orang lain. Terutama bagi masyarakat di kampung halaman saya “Bumi Raflesia” tercinta, semoga masih tetap memiliki empati yang tinggi. Apalagi kita para generasi muda yang ada. Semoga bisa menjadi gen perubahan yang mampu merubah Indonesia menjadi lebih baik lagi.