Indonesia sedang dibasahi air hujan. Mula-mula sekadar rintik-rintik. Belum satu menit, ritme air hujan turun membasahi tanah tumpah darah ‘45 menjadi berlipat ganda. Kali ini hujan cukup deras. Rasanya dingin suhu ruangan di sini. Padahal sudah 32 kali negara ini telah ‘memesan kopi sianida’. Sepertinya telah cukup untuk menghangatkan tubuhku, tetapi entah mengapa rasa menggigil kedinginan ini masih menjalar ke seluruh tubuh. Mungkin sekali lagi memesan akan benar-benar membuat hangat tubuh ini. Pesanan terkahir, aku memesan kopi dari ‘Kedai Mahkamah Agung’.

Menunggu itu melelahkan. Tiba-tiba aku kembali teringat dengan diriku pada tahun 1905. Aku masih ingat waktu itu aku sedang bersemangat karena mendapatkan suatu cahaya besar dari gelapnya malam penjajahan kolonial Belanda. Cahaya-cahaya itu aku peroleh ketika kegelapan sedikit berbaik hati memberiku warna selain hitam pekat, yakni kilau warna emas yang diberi nama ‘pendidikan’. Pendidikan itu melahirkan berbagai cahaya-cahaya kecil yang berkumpul menjadi satu cahaya besar, yakni ‘politik’. Aku senang dan begitu bersemangat dengan cahaya ini.

Ia memberikanku warna lainnya dan membuat kegelapan itu berubah menjadi penerangan yang ku sebut sebagai ‘kemerdekaan’. Kemerdekaan itu membuatku lupa akan satu hal, yaitu siapa yang menyatukan cahaya besar yang disebut politik tersebut? Ia pernah memperkenalkan namanya. Ia bernama Agama Islam. Ibarat tali, ia menjadi penyambung cahaya-cahaya kecil menjadi cahaya besar itu. Kali ini, aku teringat kembali padanya. Tanpanya, aku bukanlah bernama Indonesia. –Muhammad Padjri Duha

Sedikit cerita singkat untuk menghiasi artikel bertema opini ini. Indonesia memiliki segundang peristiwa yang melatarbelakangi negara ini. Namun, kita sekarang dihadapkan dengan peristiwa baru dan lebih kekinian. Mungkin bukan untuk melatarbelakangi negara ini lagi, tetapi untuk mempelajari negara ini. Mempelajari mau kemana negara ini akan berlabuh setelah 71 tahun hidup bebas dengan status masih mencari identitas. Dasar negara memang Pancasila, akan tetapi prakteknya pada saat ini adalah Amerika. Wajar apabila negara ini masih disebut sebagai negara berkembang. Masih terus berkembang bersama zaman mencari jati diri hingga meraih zona aman.

Namun jauh dari hal tersebut, kita melihat fenomena yang unik dari peristiwa baru-baru di negara ini, yaitu Kasus Kopi Sianida dan Aksi ‘Damai’ 4 November. Kedua peristiwa ini menjadi catatan baru dalam diari sejarah Indonesia. Betapa tidak, untuk kasus pembunuhan atas nama Wayan Mirna Salihin, seorang Jessica harus berurusan dengan para jaksa hukum sebanyak lebih kurang 32 kali sidang. Meskipun berakhir dengan vonis 20 tahun penjara, tetapi pengacara Jessica bersama Jessica sendiri menyatakan banding yang artinya untuk sebuah kasus peracunan sianida pada sebuah cangkir kopi vietnam akan muncul season berikutnya lagi yang tak tahu akan ada berapa episode sidang lagi yang akan diperankan. Hal tersebut menjadi yang pertama kalinya dalam kasus di Indonesia yang memakan jadwal sidang terlama sepanjang sejarah Indonesia.

Advertisement

Sambil menunggu babak baru tersebut, kita lihat hal yang tak kalah viral dari kasus kopi bersianida, yakni Aksi ‘Damai’ 4 November. Berawal dari penuntutan atas dasar penistaan agama pada ucapan seorang Ahok yang sedang berbicara pada penduduk di Kepulauan Seribu dengan membawa ayat alquran, yakni Surat Al-Maidah ayat 51 yang diduga telah mencemarkan sekaligus ‘berdosa’ kepada seluruh umat Islam di dunia. Akhirnya, umat Islam di Indonesia bersatu padu dalam satu gerakan demonstrasi untuk menuntut Ahok agar mempertanggungjawabkan hal tersebut secara hukum. Hal ini mengingatkan kita kepada tahun 1905 yang di mana para pedagang batik di Surakarta (salah satu versinya) bersatu menjadi Sarekat Dagang Islam (SDI) kemudian berevolusi menjadi Sarekat Islam (SI) yang pada awalnya terlibat konflik dengan golongan etnis Tiongkok hanya karena persaingan dagang batik yang kemudian menjadi konflik tradisi dan berakhir pada konflik politik. Di sini pula menjadi titik awalnya kemunculan partai politik pertama di Indonesia yang bukan lain dibuat oleh kaum Islam, yakni Sarekat Islam.

Mirip dengan aksi kemarin, sebagian besar beragama Islam turun ke jalanan untuk menentang suatu hal yang menjadi konflik antara Islam dengan Tiongkok. Namun, dalam hal tersebut masyarakat Indonesia lebih cerdas karena bukan karena sikap pluralis terhadap suatu etnis atau agama yang dipermasalahkan, akan tetapi individu yang melakukan penistaan agama Islam dengan dalih ayat Alquran yang dinistakan. Hal tersebut sebenarnya awalnya sepele, tetapi menjadi kompleks akibat dari rasa kurang tanggungjawab dari hal sepele tersebut. Hal tersebut juga menjadi catatan sejarah untuk pertama kalinya juga di Indonesia karena aksi ini berlangsung secara damai (aksi bukan dari oknum provokasi). Bukan hal yang tidak mungkin, politik Indonesia secara ‘politik agama atau politik Islam’ terangkat kembali seperti halnya Sarekat Islam. Ini merupakan pengingat dari sejarah politik tahun 1905 sambil menunggu babak baru dari kasus kopi sianida. Ibaratnya bernostalgia dengan politik tahun 1905 sambil menunggu pesanan kopi sianida datang kembali.