Harusnya kali ini aku menyentuhmu dengan tangan kasarku, mengucap selamat tinggal untuk sementara tak bertemu. Lama memang jika harus menunggu waktu berlalu kala hati ini tak ingin membeku. Berharap kau masih berpikir tentangku, yang sedikit terlintas saat kau mengenangku.

Aku tak memburumu untuk ku jadikan santapan nafsuku atau juga tak menikammu untuk ku jadikan tumbal rasa sayangku. Keegoisan rasa yang selalu ingin bersatu ini bukan dongeng atau aku dalam roman picisan yang bahagia melihatmu bahagia. Ini seperti suratan yang harus aku selesaikan, menuntun cerita hingga akhir bahagia. Tapi aku ingin denganmu! Tidak, tidak untuk kali ini bersatu. Nanti, jika aku sudah mampu, aku akan datang kepadamu membawa semesta yang baru. Akan aku lewati terjalnya jalan berbatu walau kau acuh menanggalkanku di memori yang berlalu, hingga kau puas berputar dalam kehidupanmu. Hingga kau bungkam kala melihatku menyandingmu. Aku berjanji seperti patih raja masalalu, untuk setia mendukung segala kehendak ratu. Walau aku hanya patih bukan raja bagimu, akan ku bela seperti kau memang permaisuriku.