“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi..” ( QS .Al  A,raf ayat 96)

 

Konflik di Rakhine setiap tahun seakan tidak ada habisnya. Selalu saja terulang dan mengorbankan ratusan ribu jiwa yang tak bersalah. Siapa yang tidak tergidik hatinya, bila melihat anak-anak sejak kecil telah hidup sebatang kara karena ayah dan ibunya tewas di depan matanya sendiri. Rumah mereka pun telah luluh lantak, mereka terusir, padahal daerah Rakhine yang selama ini menjadi tempat bagi ratusan ribu penduduk Rohingya yang mayoritas beragama muslim adalah rumah mereka sendiri. Jutaan kecaman dari berbagai negara pun berdatangan mengutuk aksi tersebut yang konon di dalangi sendiri oleh Pemerinahan yang berkuasa saat ini. Dibawah kuasa junta militer, kecaman tersebut tak mempengaruhi mereka. Imbasnya adalah beberapa bantuan pangan maupun logistik untuk para pengungsi sulit memasuki wilayah tersebut –termasuk PBB-.

Kecuali Indonesia, yang selama ini menjalin diplomasi yang baik dengan Pemerintahan Myanmar, bantuan dari negeri Indonesia pun dapat memasuki wilayah Rakhine walaupun tidak mudah. Beberapa lembaga sosial seperti Aksi Cepat Tanggap, Dompet Duafa, Mercy, dan Palang Merah Indonesia pun berhasil menembus masuk untuk kemudian menyalurkan berbagai bantuan dan mendirikan sarana umum seperti rumah sakit di daerah konflik tersebut.

Apakah ini murni konflik agama yang selama ini digembar-gemborkan? Untuk menghindari kesempitan dalam berpikir, mari kita perlebar lagi permasalahannya dengan memasukan variabel ekonomi ke dalam masalah ini.

Advertisement

Merupakan janji Allah bahwasannya, ketika kita telah membersamai-Nya dalam setiap ketaqwaan, maka keberkahan pun akan selalu mengikuti kita. Begitu juga dengan daerah Rakhine. Wilayah yang menjadi basis mayoritas muslim di negeri berpenduduk Budha ini ternyata diberkahi dengan kekayaan alam yang sangat luar biasa. Dikutip dari berbagai sumber, Daerah Semenanjung Rakhine dilaporkan memiliki cadangan migas sebesar 7,836 triliun kaki kubik gas dan 1,379 miliar barel minyak, yang beberapa blok di antaranya berproduksi sejak 2013. Daerah ini dikelola oleh konsorsium bersama dengan komposisi kepemilikan 51 persen Daewoo International (Korea), 17 persen ONGC (India), 15 persen MOGE (Myanmar), 8,5 persen GAIL (India) dan 8,5 KOGAS (Korea). Kasus perebutan ladang minyak nampaknya bukan hal yang asing bagi kita, terutama bagi negeri muslim –yang nyatanya memang selalu diberkahi negerinya- selama ini selalu jadi korbannya.

Masih ingat dengan agresi militer Amerika Serikat ke Irak pada tahun 2003 lalu? Saat itu Amerika melalui Presidennya George Walker Bush berbicara di hadapan senator bahwasannya penyerangan ini adalah upaya untuk menghabisi peran Al-Qaeda sebagai dalang tragedi WTC 911. Tetapi di kemudian hari, fakta membeberkan bahwa agresi tersebut tak lebih sebagai upaya Amerika membuka tambang minyak di negeri Irak, terutama untuk menguasai jalur perdagangan minyak di kawasan teluk. Dari Irak, mari kita tengok beranda negeri kita sendiri yaitu Indonesia. Terdapat suatu wilayah di Indonesia yang memiliki potensi sumber daya alam berupa pertambangan emas dengan total cadangan sebesar 229 ribu ton. S

elain itu, kadar emas nya juga mencapai kisaran 3,58 gram. Yap, wilayah tersebut adalah Kabupaten Poso yang terletak di Provinsi Sulawesi Tengah. Yang terjadi permasalahannya adalah, kultur masyarakat Poso tidak begitu terbuka dengan dunia luar. Beberapa investor yang tertarik untuk menggarap beberapa lahan tambang pun ditolak. Sehingga untuk mengatasi hal tersebut, dibuatlah issue Terorisme dan adu domba antar masyarakatnya.

Dalam hal ini, perang selalu dijadikan pembenaran atas segala sesuatu. Tidak masalah jika perang tersebut memakan banyak biaya, asal keuntungan yang didapat melebihi ongkos perangnya, tentu tak masalah. Sekalipun dengan pembunuhan. Bahkan dengan genosida.

Konflik ekonomi memang sering menjadi latar belakang perang dilaksanakan. Bisa dibilang, perang memang merupakan cara terakhir untuk menguasai sumber daya alam dari suatu wilayah oleh negara-negara adikuasa. Memiskinkan wilayahnya terlebih dahulu, pun juga bisa dilakukan seperti yang kini terjadi di Nigeria. Kembali ke persoalan di Rakhine, konflik geopolitik yang diwarnai dengan darah sesungguhnya sering terjadi bukan hanya di Myanmar saja seperti yang telah diceritakan diatas, tapi hampir di seluruh belahan bumi lainnya. Para kapitalis sengaja membungkus operasi ini dengan konflik antar etnis, antar agama maupun antar kelompok masyarakat.

Sungguh malang memang nasib etnis Rohingya. Menjadi asing di negerinya sendiri. Faktanya, telah banyak ketimpangan yang dialami oleh penduduk Rakhine. Mereka tidak diperlakukan sama dengan etnis Myanmar lainnya. Ini pun ditandai dengan tidak masuknya mereka ke dalam daftar sah sebagai warga negara Myanmar berdasarkan undang-undang 1982. Dengan adanya undang-undang ini, hak mereka untuk hidup sebagai warga negara yang berhal mendapatkan akses pendidikan, kesehatan maupun lapangan kerja pun tidak didapat. Ini semua dilakukan oleh birokrat Myanmar untuk membatasi mereka agar tidak dapat memegang jabatan strategis di Pemerintahan. Dengan begini, lengkap sudah penderitaan Rohingya.

Sebagai seorang muslim, doa adalah senjata terkuat yang dimiliki oleh kita semua. Sebagai sesama manusia, tentu tragedi kemanusiaan ini haruslah menyadarkan kita semua bahwasannya telah jatuh korban jiwa yang tidak sedikit pada negara tetangga kita. Uluran bantuan dan simpati haruslah kita sampaikan untuk meringankan beban mereka. Yap, sekiranya masih banyak hal bermanfaat lain yang bisa kita perbuat dibandingkan hanya sekedar menyinyir ataupun menyebarkan berita hoax yang semakin memperkeruh keadaan.

 

Bukan begitu kan?

Salam kemanusiaan.