(Tulisan ini hanyalah bentuk muhasabah diri. Seberapa pantas kemerdekaan berhak kita agungkan dan muliakan)

"Pada sang Merah Putih, Hormat Gerak!..Hiduplah Indonesia Raya.

Semangat 45 Kian terasa membara ditengah lapangan yang terik setelah lagu kebangsaan dikumandangkan dan sang saka dikibarkan. Luar biasa, benar-benar menggugah, benar-benar membuat jiwa merinding, tenggelam dalam perenungan "hening cipta", untuk jasa dan nyawa para pahlawan.

Tetapi…Kenapa?

Kenapa momen 17 Agustus kian terkikis oleh waktu, tergilas begitu cepat, dan termutilasi oleh "formalitas" belaka?. Upacara memang diadakan, tapi kenapa realisasi kemeredekaan itu begitu sulit kita capai. Atau jangan-jangan kita hanyalah "budak" kemerdekaan Soekarno?

Advertisement

Bedebah. Lancang sekali kau mengatakan kalo kita ini "budak" kemerdekaan sang proklamator. Terus apa? Atau kita terlalu "gila" dan berharap kemerdekaan yang hakiki?

Berhenti berbicara kemerdekaan, dan jangan pernah meneriaki kata "merdeka". Karena kita belum meraih kemerdekaan dalam berbagai ranah hidup kecuali sekedar kebebasan mendirikan "gubuk" pertiwi hasil perjuangan mereka. Itupun gubuk yang mereka berikan kian rapuh dan lapuk dimakan rayap-rayap koruptor tanpa ampun. Gubuk itu kini perlahan hilang dalam peradaban yang kejam. Siapa yang jauh lebih bedebah sekarang?

Kita terlalu dimanja oleh melodi kemerdekaan semu sampai tak sadar kalau negeri kita sedang dikuras, kekayaan dieksploitasi, hak-hak rakyat dimutilasi, dan pemerintah dicaci maki. Menyebalkan!

Merdeka? Apa kau sudah gila? Perekonomian kita kian terkapar sakit dan merangkak. Problematika ekspor yang tak pernah usai, kebanjiran impor yang tak pernah surut, belum lagi popularitas dan eksistensi rupiah yang kian terhempas dari kancah pasar uang global. Masihkah pantas kita berteriak "merdeka" ditengah-tengah kesakitan rupiah yang siap dijemput maut?

Kemana dokter-dokter finansial bangsa? Mereka ada, mereka eksis, banyak pula yang apatis. Kewajiban memperbaiki perekonomian adalah hak untuk mendapatkan jatah finansial. Pantas saja persoalan ekonomi bangsa takkan ada habisnya menghadang, tak pernah ditemukan seberkas cahaya sebagai titik terang.

Tak heran jika maestro-maestro finansial berlari meninggalkan "gubuk" dan pindah ke "apartemen" yang lebih menjanjikan. Mereka lari bukan untuk mengejar kepuasan materi. Mereka lari karena tau, di sana ada cahaya dan di sini hanya ada kegelapan.

Menjadi korban pelarian anak-anak terbaik bangsa, sungguh kasian "gubuk" pertiwi ini.

Merdeka? Apa kau sudah gila? Perpolitikan kita kian jauh dari nilai-nilai luhur demokrasi. Memaknai demokrasi sebagai egoisme politik dan kepartaian yang tak memandang kawan maupun lawan. Kemana nilai-nilai pancasila sebagai ideologi politik ditempatkan? Di hati ataukah di dengkul?

Etika dan estetika tidak lagi menjadi kiblat perpolitikan bangsa. Kedua nilai itu telah tergantikan dengan "kekuasaan". Inilah kiblat utama para politkus yang bermodalkan sempak dan dengkul semata. Bagaimanapun caranya, retorika lah jalannya dan kekuasaan lah tujuannya. Mereka menjadi pengemis dan rentenir politik sekaligus. MEMINTA dan MEMAKSA, itulah manifestasi politik bangsa saat ini. Sungguh Memalukan!

Merdeka? Apa kau sudah gila? Pendidikan bangsa didualismekan dan kau berteriak merdeka, hih?
Pendidikan saat ini kian direduksi maknanya dari pendidikan yang universal menjadi pendidikan kognitif semata, titik. Ketika menyebut pendidikan, maka itu berarti pendidikan kognitif dan tanpa karakter.

Ini sama saja denga ketika menyebut hantu, maka itu berarti pocong. Tanpa tuyul, suster ngesot, kuntilanak, dan genderuwo. Mereka bukan hantu, karena yang bisa disebut hantu hanyalah pocong seorang diri, titik.

Kira-kira seperti itu halnya dalam dunia pendidikan. Yang layak disebut pendidikan hanyalah pendidikan kognitif. Sedangkan pendidikan karakter bukanlah pendidikan. Bukankah ini sebuah kesalahan besar?

Menyebut diri anda berpendidikan dengan atribut kesarjanaan padahal moralnya kacau. Pantas saja jika negeri ini selalu konsisten memproduksi sarjana-sarjana intelektual pengangguran setiap tahunnya. Bukan karena mereka bodoh sehingga tidak kebagian lapangan kerja. Hanya saja mereka kurang mendapatkan asupan karakter yang memadai sejak awal mengenal pendidikan.

Saya tidak mengatakan bahwa pendidikan kognitif itu tidak penting. Sama sekali tidak. Justru sangat penting, karena tanpa pendidikan kognitf anda takkan mampu membaca, menulis, dan berhitung.

Tetapi bermodalkan kemampuan seperti itu tidaklah cukup. Anda harus memiliki pendidikan karakter yang akan membuat anda mampu membaca keadaan bukan sekedar membaca tulisan, menulis dan mengukir jejak kehidupan bukan sekedar menuliskan kata, dan menghitung segala dosa dan khilaf bukan sekedar menghitung kebaikan dan angka yang berbau materialisme.

Ah, jika sudah demikian, tidak ada lagi yang didualismekan, maka silahkan anda berteriak "merdeka". Saya tidak akan mengkritisinya apalagi mencaci kemerdekaan anda. Tetapi kenyataan pahit yang harus kita telan adalah bahwa sampai dengan saat ini "dualisme pendidikan" tersebut masih menggerogoti benih-benih pendidikan. Jadi, kita belum pantas untuk sekedar berteriak "Merdeka", karena kita masih terjajah. Ya, terjajah!

"Merdeka tapi Terjajah", mungkin seperti itu tema yang pas untuk memperingati momen HUT RI yang ke 70 ini. Selamat memperingati hari keterjajahan bangsa. Sekian, wassalam!