Yah, mungkin bukan hanya sebatas ucapan semu, umurku sudah 22 tahun dan masih seperti bayi yang masih meminta ASI kepada ibunya. Pikiranku teramat mudah dibaca oleh sebagian orang yang merasa mengenalku, namun mereka tak benar-benar tahu apa yang selalu aku pikirkan.

Orang-orang baru silih berganti untuk mencoba masuk ke dalam kehidupanku, dan mereka juga berpikir telah mengerti apa yang selalu aku pikirkan, dan apa yang akan aku perbuat. Karena itulah, aku mencoba untuk melawan pikiran orang-orang yang merasa mengerti tentang diriku.

Ketika mereka berpikir aku akan melakukan cara A, maka aku akan melakukan cara S. Yah antara A dan S teramat jauh, karena bagiku A adalah andai sedangkan S adalah sukses. Banyak orang yang tak mengerti sepenuhnya tentang arti sebuah hidup, begitupun aku. Diriku hanya mencoba untuk menjadi manusia seutuhnya, manusia yang bahagia, manusia yang tak punya kekhawatiran dalam hidup.

Pembohong orang yang selalu berkata tak pernah khawatir tentang hidup, namun ada sebagian orang mampu menyembunyikan bahkan melawan-nya. Aku selalu berusaha menjadi pelawan tersebut, karena aku selalu terbayang orang-orang di sekelilingku yang tak mampu menikmati masa muda dengan teman atau bahkan keluarga. Karena tuntutan ekonomi mereka, aku tak pernah berharap menghabiskan masa muda ataupun masa tua tanpa keluarga dan kawan-kawan ku. Maka dari itu, aku disebut sebagai anak yang tak punya MASA DEPAN, karena yang mereka lihat aku selalu menghabiskan waktu dengan mereka tanpa mempunyai mimpi untuk menjadi orang kaya.

Tanpa mereka sadari, ketika mereka takut tidak bisa makan, tidak bisa mempunyai kehidupan yang layak ketika mereka tua nanti, itu sudah menghina Tuhan. Kenapa harus khawatir dengan masa depan jika kita percaya dengan Tuhan…? Hingga mereka mati-matian mengorbankan waktu dan tenaga untuk perusahaan ternama, yang bahkan perusahaan tersebut belum tentu mengenal kalau dia adalah pegawainya.

Advertisement

Aku adalah manusia yang mencoba menjadi manusia seutuhnya, aku punya lelah, aku punya waktu untuk istirahat, maka tak mungkin aku menjadi robot yang tak mempunyai kehidupan sosial. Aku tak pernah tergiur dengan gaji atau sebutan karyawan suatu perusahaan yang besar, tapi aku lebih suka perusahaan kecil yang memiliki gaji rendah, namun semuanya manusia. Aku tak mau terikat dengan apa yang selalu orang lain takutkan. Hidupku mudah karena aku bekerja hanya ketika aku ingin bekerja, selebihnya hanya bermain, meskipun aku mempunyai mimpi-mimpi besar yang selalu dipatahkan oleh orang lain ketika aku bercerita dengan mereka, tapi aku yakin mampu mewujudkannya.

Aku lebih suka waktu dengan keluarga, daripada waktuku habis dengan berkas-berkas yang mungkin aku tak tahu apa itu isinya. Mungkin aku benci dengan mereka yang membanggakan atribut yang mereka pakai karena aku sadar, tak mampu menjadi seperti mereka, karena itu lah jika tak mampu menjadi yang terbaik, aku selalu menjadi yang berbeda, karena bahagia menurut kita berbeda arti. Dan untuk masa depan kita nanti seperti apa, aku selalu berpasrah kepada Tuhan, karena Tuhan punya porsi masing-masing untuk hamba-Nya sesuai dengan usaha kita.