Ini tentang melupakan. Kita merasa sulit untuk melupakan karena sejak kecil, kita selalu diajarkan untuk mengingat dan menghapal, bukan melupakan. Satu-satunya cara agar kau tak perlu mengingat kejadian lama adalah perbanyaklah kejadian baru dalam memori otakmu.

Aku punya cerita untukmu, Angin. Tentang petugas jalan. Setiap kali pulang kuliah, aku selalu menyebrangi jalanan ramai di depan perumahan. Terkadang, aku meminta bantuan bapak itu untuk membuat beberapa mobil berhenti hingga aku bisa lewat. Bapak itu baik, walau saat dia tersenyum aku tak bisa melihat senyumannya.

Aku pernah berandai-andai, jika Bapak itu bisa memberikan apa yang kuminta selain membantuku menyeberangi jalan. Kau, misalnya. Tapi, sepertinya itu tak mungkin. Banyak orang di dunia ini yang sering kali memilih untuk menyimpan keinginan terbesar mereka. Bukan karena mereka malu atau tak mampu mendapatkannya. Hanya saja, karena sebagian besar orang tak bisa mengabulkannya.

Hidup ini tak bisa kau tebak karena realita sering datang mendadak. Tapi kau diizinkan untuk merancang dan berharap. Hanya saja, kau harus tahu batasan-batasan harapanmu. Tak boleh terlalu tinggi agar nanti kau tak kecewa. Angin, lewat dirimu aku sadar bahwa tak selamanya apa yang kita dapatkan sesuai dengan apa yang kita minta. Namun begitu teruslah meminta. Karena ada beberapa bagian dalam hidup kita yang terjadi berdasarkan apa yang kita minta.

Beberapa minggu yang lalu, aku belajar tentang konsep dasar fisika. Bagaimana membedakan titik positif dan negatif. Lalu dosenku bertanya begini, “Elemen apa yang bisa bernilai negatif?”

Advertisement

“Waktu,” jawabku ragu.

Dosen Fisika tertawa mendengarnya. Aku kikuk. “Jikalau waktu bisa kauberi tanda negatif, maka penyesalan-penyesalan di masa lalumu bisa kau perbaiki, Nak.”

Berdasarkan teori Fisika, waktu tak bisa bernilai negatif karena itu berarti akan ada perjalanan ke masa lalu. Dan semua yang buruk di masa lalu, bisa diubah menjadi sesuatu yang baik hingga tak ada seorang pun yang memiliki masa-masa kelam.

Jika kau punya waktu luang, sempatkanlah untuk menonton sebuah film lama berjudul Forrest Gump. Film ini menceritakan tentang anak dengan keterbelakangan mental, namun bisa meraih apa yang dia impikan. Ada satu bagian di mana tokoh utama memutuskan untuk berlari saat hal-hal menyedihkan baru saja menimpa hidupnya. Dia terus berlari mengitari semua jalan yang dia temui. Tak ada yang tahu pasti alasan mengapa dia terus berlari.

Saat ditanya, jawabannya hanya, “Aku tak tahu alasannya. Yang aku tahu, hanyalah aku harus berlari.”

Jika kau ditanya seperti itu, berikanlah jawaban seperti apa yang Forrest Gump berikan. Kau tak tahu alasan mengapa kau berhembus. Yang kau tahu hanyalah kau harus berhembus meninggalkan semua masa lalumu, termasuk aku.

Ingin berbagi pengalaman menunggu? Ceritakan padaku, akan kudengarkan dengan khidmat. Line: angin.biru