Sebagai seorang manusia yang telah beranjak dewasa, tentunya kita pernah berusaha menemukan jodoh kita. Beberapa hal mungkin telah kita lakukan. Diantaranya dengan menjalin komunikasi dengan beberapa orang yang menarik perhatian kita. Kita pun punya krtiteria sendiri tentang seperti apa sosok orang yang ingin kita cari tahu tentang dirinya dengan lebih dalam. Hal itu karena kita tak lagi ingin lagi bermain dengan cinta-cintaan.

Kita inginkan sosok yang benar-benar serius mau membahagiakan kita selamanya. Bukan sesaat sebagai cinta monyet saat masa remaja dahulu. Cinta yang sering putus nyambung dalam pacaran. Bahkan sering pula berganti-ganti pacar dengan alasan ketidakcocokkan. Hingga selanjutnya, seolah terasa begitu silih bergantinya orang yang dekat dengan kita. Ada yang datang dan ada pula yang pergi. Terkadang pun terasa lelah juga kita mencarinya.

Hingga akhirnya kita temukan seseorang yang begitu nyaman kala diajak berkomunikasi. Nyambung diajak bicara, serta terasa begitu menyenangkan hati saat kita bersamanya. Bukan karena banyaknya rayuan yang ia berikan. Bukan karena seringnya ia memberikan gombalan romantis kepada kita. Bukan pula karena ia sering memberikan hadiah pada kita. Namun kita telah merasa menemukan sosok ideal itu. Sosok yang pantas kita jadikan pendamping hidup kelak.

Waktu bersamanya terasa bergulir begitu cepat. Rasanya kita benar-benar begitu dekat sekali dengannya. Tanpa mengatakan kata cinta pun kita sudah tahu bahwa bahwa dia telah mencintai kita. Cinta itu mengalir begitu saja. Seolah gerak perhatian kita itu mengandung rasa cinta. Dia pun demikian, seolah dia begitu bahagia dengan hadirnya kita. Kini ia telah menjadi sosok istimewa bagi hidup kita. Namun di sisi lain yang tak kita duga.

Karena dia begitu istimewa, tentunya tak hanya diri kita saja yang mencoba memilikinya. Banyak orang di lain sudut yang silih berganti melakukan hal yang sama seperti kita. Mereka yang mencoba meyakinkan si dia seperti kita. Bahwa setiap dari mereka meyakinkan si dia bahwa pantas untuk mendampinginya menjalani hidup. Terkadang banyak sekali saingan.

Advertisement

Sekalipun si dia telah mengungkapkan cintanya terlebih dahulu pada kita. Namun karena kita dan dia belum diikat dalam jalinan pernikahan, mereka menganggap bahwa setiap dari mereka masih bisa merebut hatinya dari genggaman kita. Faktanya banyak yang pindah kelain hati walaupun ada dua insan yang telah lama berpacaran. Ya, itu karena ikatan dalam pacaran tidak mempunyai kewajiban sepenuhnya untuk tetap bertahan.

Pacaran dianggap sebagai jenjang pengenalan. Walaupun ada pula yang mengganggap bahwa pacaran sebagai satu tahap menjalin keseriusan. Sebagian yang lain justru sebaliknya, menganggap pacaran itu merupakan proses yang tidak tepat karena banyak melanggar norma-norma agama maupun kesusilaan dan lain-lain.

Kembali ke topik. Kita yang awalnya sudah begitu yakin dengannya. Tiba-tiba keyakinan kita tergoyahkan, karena hadirnya sosok lain yang begitu istimewa dihidupnya. Ternyata dari sosok-sosok saingan kita itu hadir seseorang yang juga sangat menarik perhatian si dia. Bahkan kita sadar bahwa dia lebih baik dari kita.

Sosok itu pun sudah begitu siap untuk meminangnya. Hingga suatu saat si dia pun terlihat gundah dengan perasaannya. Apakah tetap ingin menunggumu atau beralih mempersilahkan orang lain untuk membahagiakan dirinya. Hal itu bukan menandakan bahwa dia itu sosok yang tak setia dengan perasaannya. Namun karena memang setiap orang punya hak untuk memilih pasangan yang terbaik di hidupnya sebelum memutuskan untuk menikahinya.

Lain lagi kalau sudah dalam ikatan pernikahan, walaupun ada seribu sosok lain yang datang menghampirinya. Niscaya dia yang baik itu akan tetap setia untukmu, karena dia telah menjadi milikmu. Kita mulai berpikir, apakah ingin tetap memperjuangkannya atau merelakannya bersama orang lain. Hal itu mungkin terasa menyakitkan bagi diri sendiri. Bahkan begitu berkecamuk di hati.

Akhirnya kita tersadar, bahwa jodoh itu bukanlah didapatkan dengan memaksa orang lain untuk mau bersama kita. Namun kerelaan dengan ikhlas mau bersanding dengan kita. Cinta itu juga bukan hanya tentang rasa untuk memiliki seseorang, namun rasa untuk membuat orang lain lebih bahagia semenjak bersama kita. Kita pun akhirnya merelakannya, menyadari dan memahami mungkin si dia akan lebih bahagia bersama dengan sosok itu.

Kesadaran dan kepahaman inilah yang mampu meredam pedihnya hati karena tak akan memilikinya. Di sisi lain tiba-tiba si dia justru bertanya pada kita dengan wajah sedihnya.

“Kenapa engkau menyerah mendapatkanku?”

Tanyanya dengan penuh keseriusan.

Pertanyaan itu begitu menyambar hati kita, seperti tak ada jawaban untuk pertanyaan itu. Kita pun jadi bingung, bukankah dia juga menyukai sosok itu? Bahkan lebih menyukainya dari kita? Namun kenapa dia masih ingin diperjuangkan? Bukankah itu suatu yang aneh? Suasananya menjadi hampa dan kosong.

Mungkin hanya air mata yang akhirnya mengisi kehampaan itu. Air mata yang mengalir bahwa kita ternyata begitu tulus mencintai seseorang. Hingga ungkapan berat dihati pun terkatakan.

“Aku merelakanmu bukan berarti karena aku menyerah. Tetapi aku ingin melihatmu lebih bahagia lagi”.

Namun kawan, jika engkau memaknai pertanyaan si dia itu berarti bahwa dia ingin sekali kamu yang jadi pemenang. Maka perjuangkanlah cintamu, mungkin dia cinta sejatimu. Jika tidak, berdoalah pada Allah agar bisa mengikhlaskan si dia dan segera dapatkan cinta yang lebih indah dari itu. Dekatilah Tuhanmu, karena ia adalah Sang Maha Cinta. Tentu hal yang begitu sangat mudah untuk mengirimkan bagimu seseorang yang lebih mencintaimu dan membahagiakanmu.