Meja kayu disudut ruang tamu yang berisikan buku-buku cerita yang entah usianya sudah berapa tahun selalu tersusun rapi dipojokan. Beberapa buku cerita lain tersusun berderet dilemari kaca berisi gelas hias dan mangkok-mangkok antik kepunyaan oppung yang juga menambah manisnya susunan barang-barang itu. Sudut ruangan ini menjadi saksi bagaimana oppung selalu bercerita dengan antusiasnya kepadaku dan cucu-cucunya yang lain di pagi hari libur tiap kali kami berkunjung kerumahnya.

Rumah sederhana dengan dinding batu yang diplester rapi lalu di beri warna hijau toska

Tapi tidak terlalu terang juga tak terlalu redup selalu jadi tempat ternyaman dari semua kegundahan hati. Siapa pun orang yang datang kesini akan menggangguk setuju jika rumah ini memang mampu menyihir kita untuk tetap tinggal disini. walau hanya untuk sekedar menikmati goreng pisang buatan oppung lengkap dengan the hijau miliknya, karena beliau memang salah satu penikmat setia greentea meski siapapun yang datang kerumahnya entah itu suka atau tidak beliau pasti akan tetap menyuguhkan teh hijaunya itu.

Hari minggu pagi seperti biasa, sebelum jam 6 pagi seisi rumah harus sudah bangun, tidak perduli itu cucu tertua, atau cucu paling kecil. Cucu dari anak laki-lakinya atau cucu dari anak perempuannya. Kami memang mempunyai ritual unik karena oppung sudah tinggal sendiri dirumah jadi setiap malam minggu kami memang sengaja menginap untuk menemaninya.

Karena aku bisa pastikan seorng wanita dengan usia 80 tahun pasti merasakan kesepian yang sangat luar biasa jika harus menghabiskan akhir pekan dengan sendiri didalam rumah yang terbilang cukup luas jika ditinggali sendiri.

Advertisement

Sebagai gambaran oppung adalah wanita keturunan Sunda yang menikah dengan oppung doli (Kakek) lalu sesuai dengan tradisi Adat Batak beliau pun diberi marga dan resmi menjadi orang Batak ketika dulu mereka ingin menikah. Dan terhitung sejak mereka menikah oppung pun dihadapkan pada kenyataan bahwa ia harus memulai hidupnya sebagai wanita dan istri dari orang batak bukan gadis sunda lagi. Meski demikian oppung tak pernah terlihat canggung untuk melakoni peran baru dalam hidupnya ia selalu rajin menghadiri pesta-pesta adat, baik itu pernikah, kematian , dan pesta-pesta sukacita lainnya. Ia menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya, mengajarkan norma-norma agama dan adat-adat dalam Tradisi batak yang kental meski beliau hanyalah batak cangkokan yang tak pernah suka jika ada orang yang berkata seperti ini. Hal ini dapat kusimpulkan dari apa yang kulihat dari Ibu dan saudara-sauadaranya lain, sebagai anak yang dilahirkan dan dibesarkan dari seorang wanita keturunan

Sunda asli tapi mereka faham dan tau betul segala hal yang menjadi aturan dan norma dalam batak dan dalam hal ini siapa yang keren? Sudah pasti Oppungku kenapa aku memakai keren ? karena memang bagiku itu adalah suatu pencapaian yang keren dari Oppung. Hal ini adalah hanya sebagian dari cerita yang aku peroleh untuk mendekskripsikan Oppung-ku berdasarkan hasil pengamatanku sendiri.

Hal lain yang menurutku menjadikan oppung keren adalah Masakan-masakan beliau yang rasanya sungguh enak dan takkan pernah kau temui dibelahan dunia manapun. Oppung sering bereksperimen dalam memasak menggabungkan cita rasa Sunda miliknya dengan beberapa bumbu-bumbu olahan yang berasal dari tanah batak. Bisa kau bayangkan rasanya? Nikmat bahkan lebih maknyusss dari masakan chef yang sering nongol di TV. Untuk logat dan cara bicaranya juga tak perlu ditanyakan oppung mampu berbahasa batak dengan lancar dan khas (mungkin karena sudah lama tinggal ditanah batak) tapi jika sedang berkunjung ke rumah saudara-saudara dari pihaknya yang sudah pasti isinya adalah sunda semua belia juga masih mampu bercerita dengan logat dan Bahasa Sunda yang masih Fasih. Kurang keren apalagi coba oppung-ku ? hehe

Dan dari beribu kebaikan yang beliau telah berikan semasa hidupnya satu yang sangat membekas dihatiku oppung selalu memberikan yang terbaik untuk semua cucu-cucunya tanpa pandang bulu, memasak makanan enak dengan antusianya setiap kali kami berakhir pecan bersama dirumahnya. Bahkan hingga akhir usianya meski sudah terkena Stroke dan tak mampu berjalan dengan baik lagi beliau masih tetap ingin memberikan yang terbaik untuk semua orang yang ada disampingnya terlebih untuk cucu-cucunya Hingga pada akhirnya suatu sore saat oppung sedang memasak didapur beliau terjatuh karena lantai yang Licin dan pembuluh darahnya pecah dan itu menjadi usaha terakhir yang beliau lakukan untuk anak-anak dan cucu-cucunya untuk dapat menikmati masakan enak darinya. Tapi ternyata semesta berkata lain bukannya bersuka cita untuk menikmati makanan masakannya kami semua malah berduka dan merasa sangat kehilangan beliau.

Dan sekarang mungkin jika oppung sedang membaca Tulisan ini beliau pasti akan berteriak dan berkata

“Berhenti bercerita, habiskan nasimu dulu” HA-HA-HA-HA

Salam Rindu untuk oppung di surga 😀