Ketahuilah, aku juga mencintaimu.

Aku tak pernah katakan rasaku padamu

Aku memendam rasa ini sendiri, aku memilih menyimpannya.

Hanya aku yang tahu betapa aku amat sangat mencintaimu.

Ketika aku tahu kau akan pergi, pergi meninggalkan kami, kami yang menyayangimu.

Advertisement

Kau pergi guna menuntut ilmu, mengapai gelar yang ingin kau raih sejak lama.

Aku sakit, aku menangis karena aku tak dapat mengungkap semua yang aku rasa selama ini. Rasa yang aku pendam kasihku, aku menyesal karena tak pernah mengatakan padamu.

Di sini aku kini, menangis seorang diri.

Aku menangis karena sesungguhnya aku tak rela, tak rela melepasmu pergi menuntut ilmu di tanah orang sana.

Namun apalah dayaku, tak ada yang dapat aku lakukan.

Aku mencintaimu, mencintaimu sama seperti kau mencintaiku. Maafkan aku yang selalu menyakitimu, maaf bila malam sebelum kau pergi aku menolakmu.

Perlu kau tahu, aku menolak bukan berarti aku tak mencintaimu. Aku mencintaimu, sungguh! Namun ini tentang prinsip hidup yang sudah aku bangun dalam hidupku, prinsip untuk tak menjalin hubungan yang dikatakan 'Pacaran'.

Aku tak tertarik sama sekali dengan ikatan, yang mungkin bisa saja putus dengan satu kata 'putus'. Lagipula untuk saat ini aku ingin fokus untuk wujudkan mimpiku, mimpi untuk menjadi salah seorang Pengacara ternama Dunia.

Aku dan kamu kini terpisah, terpisah oleh jarak dan waktu. Aku tak takut kehilanganmu, karena aku mengingat satu hal yang selalu kau katakan.

Yaitu: ketika seseorang telah menemukan cintanya, dia tak akan mencari cinta yang lainnya, cinta yang tulus tak akan pernah menghianati cintanya.

Kau adalah seorang yang selalu ada untukku, aku menganggapmu sahabatku, sahabat terbaik dalam hidup. Namun ternyata kau menganggap aku lebih dari itu, kau katakan semua padaku tepat sehari sebelum kau pergi tinggalkan aku. Dulu aku tak pernah mengerti tiap kau mengatakan tentang cinta, kau sering sekali menceritakan tentang gadis yang kau cinta. Dan, betapa bodohnya aku yang tak menyadari, tak menyadari jika gadis yang kau maksud adalah diriku sendiri.

Apa yang kau ungkap malam itu membuatku sadar, sadar bila ternyata aku juga memiliki rasa yang sama denganmu. Namun aku memilih untuk diam, bungkam dan tak mengatakan padamu. Aku punya alasan untuk itu, suatu hari nanti kau pasti mengerti, bersabarlah.

Kini aku dan kamu tak lagi berada dalam satu tempat yang sama. Kita telah dipisahkan oleh jarak, dan waktu yang begitu jauh. Tak ada lagi canda dan tawamu yang menemani tiap langkah kakiku, tak ada lagi dirimu yang selalu hadir tiap aku membutuhkan sandaran tanpa dipinta. Raga kita memang mungkin telah terpisah, namun tidak dengan hati kita. Itu yang kau katakan padaku, lihatlah! Aku dapat mengingat apa yang kau katakan dengan baik, bukan?.

Pergilah kasihku, pergi semaumu, lakukan apa yang kini kau lakukan.

Biarkan raga terpisah, agar rasa rindu mengebu dalam jiwa, rindu yang akan memperkuat jalinan cinta kita ini. Tapi aku mohon jangan biarkan hati ini terpisah, biar raga saja yang terpisah tidak dengan hati ini.

Merantaulah, berjuanglah ditanah rantau sana, berjuang menuntut ilmu yang lebih baik lagi, agar mimpimu terwujud. Setelah itu kembalilah padaku, realisasikan janji yang pernah kau utarakan padaku.

Kau masih mengingat janji itu bukan? Janji saat di mana kita memandangi gemerlapnya langit malam bersama. Janjimu untuk merancang sebuah bangunan toko buku untukku nanti, toko buku yang selalu aku impikan.

Mimpimu untuk menjadi salah satu Arsitek ternama Dunia mulai terbuka kini, melalui jurusan yang kau pilih ini, mimpimu akan segera terwujud. Mimpi yang selalu kau ceritakan padaku, angan yang selalu kau bagi denganku.

Pergilah, kejar mimpimu di tanah rantau sana. Ingat, ya.. Jangan pernah kau kembali padaku sebelum kau wujudkan mimpimu, raihlah gelar yang telah kau impikan setelah itu kau boleh kembali padaku.

Kau wujudkan mimpimu di sana, dan aku akan wujudkan mimpiku di sini. Kau tahu bukan, apa mimpiku? Yah! Kau benar sekali menjadi salah seorang Pengacara ternama, dan aku akan wujudkan mimpi itu mulai dari jurusan yang aku ambil ini.

Kini kita harus terpisah, karena aku harus wujudkan mimpiku, begitu juga dengan kau yang harus wujudkan mimpimu. Kau ingat, bukan? Dengan apa yang sering kau katakan padaku. Kau selalu katakan bila kita berani bermimpi, kita juga harus berani untuk wujudkan mimpi itu menjadi nyata. Buktikan pada dunia bahwa angan kita, bukanlah sekedar angan, karena angan itu akan jadi nyata.

Wujudkan mimpimu yang telah kau pendam sejak lama, angkatlah anganmu tuk jadi nyata, buktikan pada Dunia bahwa kau bisa. Setelah itu kembalilah padaku, aku akan selalu menantimu di sini.