Waktu ternyata bergulir begitu cepat. Dari detik, tiba-tiba saja kamu menemui periode tahunan. Begitu juga waktu-waktu yang sudah kulalui untuk mengenalmu. Baru kemarin lalu rasanya bertemu. Kini, apapun bisa kubagi. Tentu saja dengan dirimu, priaku. Seorang pria yang tak sempurna dan apa adanya, tapi tak pernah menyembunyikan sedikit apapun dariku. Jelas saja bahwa cintanya padaku tak akan habis.

Kamu adalah lelaki yang kadang jorok dan ceroboh. Kamu juga tidak bisa dibilang menawan dan kaya raya.

Sudah rahasia umum kalau lelaki adalah sosok yang tingkat kejorokannya melebihi kaum wanita. Kamulah yang jadi salah satunya. Tapi sebagaimana wajarnya lelaki, biasanya mereka akan sedikit berubah seiring waktu dan kedewasaannya. Mereka akan tumbuh jadi pria yang rapi sejalan dengan karir pilihan. Sedangkan kamu? Kamu sama saja dan begitu-begitu saja.

Soal paras, kamu tak bisa kubilang rupawan meskipun tidak buruk-buruk amat. Kamu juga bukan seperti sosok Christian Grey yang jadi paket komplit karena tampan menawan dan kaya raya. Tidak, kamu bukan pria seperti itu. Pria yang sosoknya sempurna seperti Mr. Grey itu konon hanya ada di dunia fiksi. Bukan jadi dunia riil.

Yang sampai sekarang jadi misteri adalah mengapa aku ingin menjalani hari-hari denganmu. Yang kutahu, aku merasa nyaman saja.

Setiap wanita pasti menginginkan sosok pria terbaik dalam hidupnya. Entah itu yang mapan, yang tampan, yang bertanggung jawab, yang bekerja keras, dan macam-macam kriteria lagi. Itu tidak masalah, bahkan wajar. Mungkin akulah ini yang agak kurang wajar. Sampai detik ini, aku bahkan belum menemukan alasan atau sekedar kriteria terbaik yang membuatku ingin bersamamu saja.

Yang aku tahu, aku selalu nyaman bersisian denganmu. Tak pernah sedikit pun aku risih dengan perilaku jorokmu. Jika pun iya, aku mampu memaklumi. Bahkan banyak terbesit keinginan-keinginan untuk membantu mengubahnya. Di samping itu, aku setia menemanimu di sela-sela kerja kerasmu. Bagiku, tak apa hidupku dan hidupmu sekarang harus bersusah payah. Di hari tua nanti, kita akan memetik buah kerja keras kita bersama anak cucu.

Meski begitu, jika aku reinkarnasi nanti, aku akan tetap memilih hidup bersamamu. Sebab semua itu tak ada duanya.

Advertisement

Untuk aku yang telanjur mencintaimu, tak penting rasanya harus mendaftar tiap-tiap kekuranganmu. Toh aku pun sama tidak sempurnanya dengan kamu, priaku. Jikalau seorang wanita atau pria ingin mendaftar setiap kesalahan atau kekurangan pasangannya, niscaya tak akan habis kertas ditulis. Niscaya tak akan bahagia hidup manusia karena hanya akan terus mencari-cari sosok sempurna sepanjang usianya.

Tahukah kamu, priaku? Jikalau nanti Tuhan memanggilku dan membawaku reinkarnasi, aku mau kembali mengulang hidupku bersamamu. Sesusah apapun itu. Menjalani perjalanan cinta bersamamu sungguh tiada duanya. Bahkan karenanya, aku tak peduli lagi kriteria-kriteria orang tentang kesempurnaan. Bagiku, dapat membangun masa depan denganmu saja sudah membuatku jadi wanita sempurna seutuhnya.

Jika saja aku meninggalkan dunia ini dan terlahir kembali, aku akan tetap memilihmu lengkap dengan semua kurangmu.