Jika seringkali kudengar tak ada persahabatan yang murni antara wanita dan pria maka aku sendiri tlah membuktikannya. memang benar, kenyamanan yang selama ini kuanggap biasa nyatanya menjadi satu kebiasaan yang terlalu biasa untuk dihentikan. Didekatmu kudapati yang kuingini. Kulalui beratnya hari dengan kamu disisi.

Bertopeng kata sahabat, aku memendam segala gemuruh rasa dalam dada. Terbenam dalam alur bahagia bersama kamu yang kupinta dalam doa. hingga waktu membawaku dalam kesalahan. Merusak tatanan cerita yang sudah indah sebenarnya. Rasa ini terlalu memaksa untuk muncul di permukaan. Langkah kakiku seperti paham suara hatiku. aku tak lagi bisa sembunyi, terucap sudah kata tabu dihadapmu. "aku menyayangimu lebih dari kawanku". Lalu apa yang kudapati, tatap amarahmu bertanya mengapa sampai begini.

Esok hari tak lagi kutemui kamu. pergimu karenaku. kau tak pernah mau tahu betapa aku kehilangan sosokmu. Kini kamu masih memenuhi memori dan anganku. Angan tentang kebersamaan yang dengan bodohnya justru kuhancurkan.

Masih disini terbawa arus sepi, terbawa pergi separuh hati, tenanglah aku masih ada meski kau tak pernah mau kembali. Persahabatan tak sempurna ini masih kuharap bisa diperbaiki. Sejauh apa kau pergi, cerita tentangmu tetap melekat dalam hati. Sahabat. Maafkan aku jika urusan hati tlah mengganggumu. Tak masalah kau tak lagi peduli, bagiku kamu tetap yang terbaik yang pernah kumiliki dan selalu aku syukuri.