Sewaktu kecil dulu, kita sudah mengenal dengan peribahasa “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”. Ini peribahasa yang menarik, jika ini sebagai acuan jika menuntut ilmu itu tidak ada batasan jarak. Tetapi pada masa sekarang, apakah peribahasa ini masih relevan dengan kondisi sekarang ini. Bagaimana ada yang nyeleneh mengartikan peribahasa ini menjadi sentilan terhadap bangsa ini. Loh kok kenapa harus ke negeri Cina segala? Apakah tidak cukup di negeri kita yang besar ini, apakah ada masalah dengan kondisi pendidikan kita saat ini.

Hal di atas memang hanyalah sebuah guyonan, yang penulis hadirkan sebagai hal yang ingin dihubungkan dengan tema tulisan kita tentang pendidikan yang meluas, merata, dan berkeadilan. Dalam menyikapi hal di atas, mungkin setiap orang berbeda dengan cara pandangnya. Ada yang mengatakan pendidikan kita sudah luas kok. Mungkin sudah luas, tapi apakah yakin sudah merata apalagi adil?

Tapi apapun opini seseorang tentang keluasan pendidikan di negeri Indonesia ini, saya yakin, setiap orang pasti setuju dan percaya jika pendidikan Indonesia belumlah merata dan berkeadilan. Saya rasa mereka bisa melihat TV dan media massa lainnya untuk melihat bagaimana potret pendidikan bangsa ini. Dan saya memberikan kata YA besar untuk pikiran seperti itu. Mungkin saya di bilang-bilang sok tahu, sok analis tentang pendidikan di negeri ini, memang situ siapa dan sudah berbuat apa saja terhadap pendidikan di Indonesia ini?

Oke, saya akan perkenalkan diri saya. Saya adalah seorang guru SM-3T (sarjana mendidik di daerah 3T), yang pernah ditugaskan ke Kabupaten Belu (NTT) oleh Kemendikbud. Saya punya pengalaman melihat dan berjuang langsung tentang bagaimana kondisi pendidikan kita, terutama daerah pinggir Indonesia seperti NTT, Papua, dan daerah timur Indonesia yang biasa disebut sebagai daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal). Kondisi mereka masih kekurangan guru dan fasilitas pendidikan belum memadai, bahkan ada kondisi sekolah yang beratapkan rumbia dan dinding kelas dan sekolah yang mau rubuh.

Menurut hemat saya, ini sangatlah belum pantas untuk mengatakan pendidikan kita yang merata dan berkeadilan. Sungguh sangat berbanding terbalik potret pendidikan kita yang di kota-kota besar dan daerah-daerah yang mudah terjamah. Memang ini bukanlah sepenuhnya salah yang di sengaja, bukannya pemerintah dan negara membeda-bedakan daerah-daerah tertentu. Ini murni hanya keterbatasan karena kondisi geografis negara kita. Pemerintah telah berupaya dengan sungguh-sungguh untuk perluasan dan pemerataan pendidikan yang berkeadilan. Karena mutlaknya, semua yang dilakukan oleh negara itu akhirnya untuk kehidupan yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.

Advertisement

Suatu waktu, pernah penulis melihat syarat-syarat untuk perekrutan sebuah posisi di kampus tertentu di negeri ini. Hal yang menarik di sana adalah tentang syarat nilai UN atau rapor calon mahasiswanya yang dikelompokkan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah nilai UN dan rapornya minimal 70, tetapi suatu kelompok lagi adalah cuma 65 untuk wilayah Papua. Kenapa dibedakan, itu artinya apa? Apakah negeri ini sudah mengakui adanya ketidakmerataan pendidikan di tanah air ini? Saya rasa kalian dengan mudah beropini terhadap fakta ini.

Jelas, bangsa ini secara sadar mengakui jika adanya perbedaan kualitas pendidikan di tanah air ini terlebih daerah timur sana, yang secara kualitas masih kalah sama daerah lainnya di Indonesia. Baiklah jika begitu, tapi penulis tergelitik untuk bertanya, apakah secara kualitasnya Papua hanya tertinggal 5 angka dari daerah Indonesia lainnya? Apakah sudah bijaksana dengan kebijakan seperti itu? Saya hanya bertanya, bukan bermaksud menggurui.

Lantas, semua tulisan saya ini apakah benar pendidikan di Indonesia ini belum merata dan berkeadilan, ini opini atau fakta? Saya rasa, pembaca menilainya sesuai dengan kacamatanya sendiri sesuai berapa besar kacamata pendidikannya itu sendiri.

Bagaimanapun kondisi pendidikan saat ini, penting bagi kita untuk semua lapisan masyarakat Indonesia untuk saling bahu membahu dengan semangat gotong royong dalam memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak terbaik di seluruh penjuru Indonesia ini. Jangan ada lagi ketimpangan kualitas guru dan kualitas sarana dan prasarana yang kurang memadai di pendidikan Indonesia ini. Demi Indonesia yang jaya sentosa, mari kita KERJA, KERJA, KERJA.