Hidup di zaman yang serba ‘kekinian’ memang telah menjalar bagi sebagian 'ABG' di Indonesia. Hal tersebut terjadi lantaran banyak faktor yang mendasarinya, contoh saja melalui tayangan televisi, yang sekarang ini notabene banyak stasiun televisi yang menayangkan acara atau sinetron berwawasan roman baik cinta, bawa perasaan, dan sejenisnya. Alhasil para 'ABG'nya pun berjalan mengikuti arus, hingga terbiasa dengan hal-hal semacam itu.

Di sisi lain, banyak stasiun televisi yang menayangkan isu-isu agama, jihad dan radikalisme yang berpangkal pada teroris. Sedangkan banyak 'ABG' di Indonesia sendiri cacat pada pemahaman jihad, radikalisme dan teroris. Sehingga mengakibatkan remaja yang sebelumnya tidak tahu apa-apa mengenai agama dan radikalisme (read: sebangsa teroris) pun ikut andil ‘berperang’ dalam mengatasnamakan jihad di jalan Allah.

Pemahaman agamanya yang dangkal menjadi pemicu utamanya, di sisi lain pun pemahaman mengenai perbedaan pendapat menurut para imam pencetus mahzab dan ulama’ pun menjadi permasalahan kedua, dan yang terakhir adalah toleransi antar kepercayaan atau keyakinan. Terkadang dalam masalah keyakinan atau kepercayaan inilah yang memicu pertengkaran antar kelompok. Padahal yang harusnya dilakukan hanyalah saling menghormati satu sama lain, terlebih Indonesia yang telah mengenal toleransi sejak dahulu.

Kebingungan remaja pada suatu pemahaman mengenai agama pun masih ambigu. Alhasil banyak remajanya yang terperosot dalam jurang ‘kejihadan’ yang mengatas namakan Allah. Di zaman yang serba canggih ini beranilah memilah-milah jalan mana yang harus di tempuh, agar pada akhirnya tak tersesat di jalan yang mengatasnamakan jihad di jalan Allah atau pun romantika remaja yang terlalu mendayu-dayu dalam urusan cinta.

Jihad pada kali ini, tidak mengharuskan kita untuk melakukan peperangan karena manusia mempunyai peri kemanusiaan, peri keadilan, seperti yang tertuang dalam nilai-nilai luhur pancasila. Pada zaman modern sekarang ini, banyak sekali tafsiran arti jihad.

Advertisement

Peperangan melawan agama yang menyekutukan Tuhan termasuk didalamnya. Namun, jika kita lihat pada sudut pandang yang lainnya, banyak sekali yang dapat kita temukan, seperti: belajar dengan sungguh-sungguh karena kita adalah pelajar, membantu sesama makhluk Allah dan tentunya yang sedang nge-trend dikalangan kaum remaja. Yups, Move On!

Kanapa move on juga jihad? Sebenarnya tidak ada hadits khusus yang membahas jihad juga move on. Hanya saja ini adalah gambaran simpelnya kaum kekinian zaman sekarang. Mamang sulit hidup sebagai remaja sekarang, karena apa banyak tuntutan yang harus dicapai jika tidak dicapai pun akan ada rasa gengsi. Contohnya? Lihat saja disekeliling pembaca, kekinian yang tidak ada habisnya.

Misalnya saja seorang remaja nge-geng dengan orang-orang yang seumuran dengannya, namun dalam geng tersebut semua anggota telah memiliki pacar atau bahkan mengharuskan orang yang akan gabung tersebut harus punya pacar, atau mungkin mereka akan termakan rasa gengsi. Berbeda di zaman dahulu, remajanya tak mengenal pacar, yang dikenal hanya mambantu orang tua, menghormati orang tua, menurut dengan orang tua.

Sangat terlihat jelas perbedaan tersebut. Selain itu juga, dampak lainnya pun juga dirasakan, seperti menurunnya prestasi belajar remaja, menurunnya minat balajar seorang remaja (read: siswa/i), bahkan menurunnya integritas pendidikan di Indonesia.

Sungguh disayangkan lewat zaman yang remajanya serba kekinian itu malah membuat segalanya bisa terbunuh pelan-pelan tanpa remaja menyadarinya. Akibat dari majunya sebuah peradaban dan teknologi yang semakin canggih. Maka untuk seluruh kaum remaja, saatnnya move on! Berjuang untuk melawan kekinian yang hampir menjalar ke seluruh lapisan remaja negeri.

Tentang remajanya yang selalu mendayu-dayu akan sebuah perasaan yang masih amatir, tentang remajanya yang selalu dimakan rasa gengsi, tentang remajanya yang mengagung-agungkan budaya negeri seberang, dan tentang hal-hal lainnya yang berbau hitz tak masuk akal. Sebanarnya hal semacam ini sangat sulit dihilangkan dari kebiasaan remaja zaman sekarang. Lantas hal yang paling tepat adalah move on sedikit demi sedikit.

Move on untuk hal kebaikan, menjadikan pribadi menjadi yang lebih baik. Menghilangkan sedikit-demi sedikit kekinian atau hitz dalam diri, mencoba berbagai hal yang menumbuhkan semangat kreatif yang berguna, belajar dari apapun itu termasuk dengan sungguh-sungguh tanpa termakan arus zaman.